by

Belajar Politik : Bagaimana dan Untuk Apa Kekuasaan

Oleh : Agung Wibawanto

“Dalam berpolitik, jangan hanya mengetahui akan kekuasaan, tapi penting juga untuk memahami apa itu kekuasaan, bagaimana mencapainya dan untuk apa kekuasaan itu…. Dan pada prinsipnya, kita semua pasti berpolitik (disadari atau tidak)…”—————————————-

Setiap proses pencapaian sesuatu selalu ada tiga tahapan penting, yakni: sebelum capaian, saat tercapai, dan paska capaian. Teori ini akan dengan mudah dipahami bila kita melihat capaian dalam kaca mata sebuah piranti atau alat atau kendaraan dan bukan tujuan utama. Lantas apa tujuan utamanya? Untuk apa capaian tersebut jauh lebih penting diletakkan di depan dan atau di atasnya.Sebelum itu, perlu dipahami bahwa inti berpolitik adalah sebuah proses yang dilakukan dengan segala daya dan upaya untuk mencapai apa yang diharapkan. Seorang ibu rumah tangga yang memiliki kehendak atau harapan untuk menyambut week end, misalnya.

Maka ia masuk dalam kategori “berpolitik” sepanjang mengupayakan (dan tidak hanya berdiam diri tanpa berbuat sesuatu untuk mencapai harapannya). Begitupun setiap orang yang memiliki harapan dan mau memperjuangkannya, mereka harus berpolitik. Proses pencapaian harapan sendiri tidak perlu dipasung harus berdurasi waktu yang sangat panjang atau sesegera mungkin, sangat bergantung dari seberapa besar, luas dan kompleksnya harapan itu. Tentukan skala prioritas melalui sebuah perencanaan yang baik. Hal yang terkadang jarang dilakukan orang sepanjang proses pencapaian adalah melakukan evaluasi. Jangan pernah ragu misalnya, melakukan koreksi terhadap perspektif (sudut padang), cara (metode) bahkan harapan (target) itu sendiri (dengan melihat hasil capaian sementara). Dalam proses pencapaian harapan agar dapat berlangsung aman, lancar, damai dan sentosa (kata-kata terakhir bisa dibaikan karena terlalu berlebihan, hehehe…), kita juga butuh dengan apa yang diistilahkan sebagai “kendaraan” yang bisa mengantarkan lebih cepat.

Orang membeli kendaraan bukan untuk tujuan memiliki kendaraan itu sendiri, kecuali mereka yang sudah hidup berlebihan (biarkan saja…). Umumnya kendaraan dibutuhkan untuk mencapai tujuan dengan lebih baik, hingga pada suatu saatnya nanti kendaraan tersebut bukan lagi segalanya bahkan tidak perlu digunakan. Untuk itu penting memilah dan memilih kendaraan yang bisa berfungsi bukan sekadar bergengsi. Kendaraan memang bukan yang utama tapi penting. Dalam berpolitik, orang kerap sibuk mencari atau memilih kendaraan yang dianggap tepat dan pantas mengantarkannya mencapai tujuan. Saking sibuknya, kadang lupa kepada substansi mencapai tujuannya. Dari satu kota memiliki tujuan ke kota lainnya dapat ditempuh dengan berbagai kendaraan. Jangan sampai substansinya ke kota lain tersebut justru terhambat oleh urusan remeh temeh apa merk kendaraannya, siapa nama supirnya, milik siapa, atau pantas untuk foto selfi gak di kendaraan. Disadari atau tidak, kendaraan yang dimaksud itu sesungguhnya apa yang juga sering disebut orang sebagai “kekuasaan”.

Artinya, kekuasaan itu harus ditempatkan hanya sebagai alat ataupun kendaraan dan bukan tujuan itu sendiri. Bagi orang yang “maruk” atau gila kekuasaan atau karena kepolosan dan juga mungkin naïf, kekuasaan menjadi segalanya dan menjadi tujuan utama. Ciri-ciri untuk melihat orang seperti ini mudah saja, lihat track recordnya (cara pencapaiannya), bila tidak ada sesuatu yang harus membuat kita berkata wow dan koprol berkali-kali (baca: prestasi) dan kemudian dia menjadi pemilik kekuasaan, maka patut dipertanyakan. Begitu juga bila dia tidak mengerti kegunaan kekuasaan itu, tentu saja untuk kemaslahatan orang banyak (bukan untuk diri pribadi atau kelompoknya saja). Kekuasaan sendiri tidak selalu diartikan sebuah jabatan. Karena fungsinya hanya sebagai kendaraan, maka banyak sekali jenis kendaraan tersebut, bergantung dari tujuan dan kemampuannya juga. Misalkan, seorang siswa memiliki tujuan naik kelas atau lulus dengan nilai baik.

Capaian selanjutnya berharap bisa melanjutkan sekolah, maka kekuasaan yang harus dia capai dan miliki adalah menjadi pintar atau cerdas. Dengan pintar atau cerdas maka dia mampu mencapai tujuannya naik kelas atau lulus (bonus tambahannya mungkin dia bisa terkenal di sekolahnya, banyak orang yang suka terutama lawan jenis, mendapat beasiswa, mendapat tawaran main film/sinetron, siapa tau… hanya dengan kekuasaan pintar atau cerdas). Dan tentu masih banyak lagi jenis kekuasaan yang bisa digunakan sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan. Catatannya, ada baiknya kekuasaan tersebut benar-benar “melekat” pada diri dan bukannya bawaan ataupun pemberian.

Kekuasaan yang sifatnya bawaan ataupun pemberian maka cenderung: 1. Orang tersebut sesungguhnya tidak “kuasa” terhadap kekuasaannya (tidak berdaulat), dan dapat sewaktu-waktu dicabut, dan; 2. Tidak tahu memanfaatkan atau menggunakan kekuasaan tersebut, bagaimana caranya, untuk apa, dsb. Jadi kekuasaan semacam ini tidak berguna bagi pemakainya kecuali hanya dijadikan “boneka” bagi pemberi kekuasaan (pemilik kekuasaan sesungguhnya). Berbeda bila kekuasaan yang dimilikinya tersebut diraih melalui perjuangan yang penuh integritas, tidak instan, dan penuh keteladanan. Dia akan tahu apa itu kekuasaannya, bagaimana cara menggunakannya serta apa tujuannya.Tahap akhir yang jauh lebih penting juga adalah, jika sudah mulai berproses (baca: berpolitik) dengan segala upaya perjuangan hingga mencapai target antara yakni memiliki kekuasaan atau kendaraan, lantas untuk apa kekuasaan tersebut?

Untuk apa segala kemampuan ataupun keunggulan yang sudah kita miliki dengan kerja keras tadi? Banyak kemudian orang (terutama yang belum mencapai kekuasaan) beranggapan, tentu sangat indah… Akan berbuat apapun tentu mudah karena kita sudah memiliki semacam selling point dibanding orang lainnya. Sebaliknya, tidak sedikit mereka yang sudah mencapai tahap tersebut justru bingung, “Mau saya apakan?”—“Apa tujuan saya sesungguhnya?”—“Untuk apa semua ini?” Nah lho…! (Menurut Nabi Muhammad SAW, sebaik-baiknya orang adalah yang memberi manfaat dan kebaikan kepada orang banyak di sekitarnya).

Catatan: Jika sudah benar memahami, maka menggelitik juga untuk menjawab pertanyaan berikut: 1. Apa tujuan hidup Anda?; 2. Apa kekuasaan/kendaraan/keunggulan yang Anda miliki?; 3. Bagaimana pencapaiannya sampai saat ini?—Sebagai contoh soal, para anggota dewan (DPR RI) yang sekarang ini tengah ramai mendapat sorotan karena dinamika di dalamnya: 1. Apa tujuan mereka?; 2. Bagaimana proses pencapaiannya?; 3. Apa yang digunakan sebagai kekuasaan untuk mencapai tujuan tersebut? dan; 4. Apakah yakin mereka mampu menggunakan kekuasaannya untuk kemaslahatan orang banyak? Sudahkah terlampiaskan syahwat berkuasa sebagian pelaku politik setelah mendapatkan kekuasaan di parlemen? Janji tidak akan ada kubu-kubuan lagi? Tidak akan ada telikung menelikung kepentingan? Belajarlah untuk memberi manfaat kepada orang lain. Caption: Disinyalir banyaknya yang ingin mendapat “kekuasaan” sebagai Pengurus Pusat Partai Ummat, maka terjadi saling sikut menyebabkan beberapa kader baper dan left grup… Sering kan terjadi begitu? 😂😂

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed