by

Haji Naim

Oleh : Ahmad Sarwat

Patah tulang, keseleo, kepuntir dan sejenisnya buat kebanyakan kita cukup dibawa saja ke Haji Naim. Kok bukan ke dokter ahli tulang? Kok tidak ditangani ahli orthopedi? Mahal ongkosnya. Nanti dimasukin besi. Nanti lama sembuhnya. Nanti dioperasi. Nanti nanti . . . dan bla bla bla. Yang model kayak gitu tidak sebatas kita yang awam saja, bahkan yang sudah jadi dokter pun banyak juga yang jadi pasien eh klien Haji Naim.

oOo

Inilah dilemma kita. Persaingan antara penanganan profesional lewat kedokteran modern dengan penyembuhan tradisional selalu terjadi.Dan fenomena Haji Naim adalah contoh nyata yang jadi cerminan gaya hidup kita. Termasuk saya. Entah bagaimana, rupanya kita tidak terlalu akrab dengan kemajuan sains terkini, tapi lebih percaya dengan yang serba masa lalu. Saya tidak tahu apa yang jadi penyebabnya. Tapi perkiraan saya, ilmu kedokteran modern di negeri kita masih jadi barang langka dan mahal. Bicara kedokteran berarti bicara uang dan kapita. Kuliah kedokteran mahal tak terjangkau. Harga obat melambung tinggi. Biaya rumah sakit apalagi.

Yang gratis ada BPJS, tapi kualitas pelayanannya kebanyakan amat sangat buruk sekali. Mana dokternya terburu-buru, perawatnya judes-judes. Mau yang pelayanan bagus dan dokter berkualitas? Bayar dulu yang mahal. Makanya kedokteran modern selalu kalah telak dengan berbagai macam pengobatan alternatif. Ukuran sederhananya adalah acara TV. Informasi terkait berbagai kemajuan di bidang kedokteran modern tidak pernah masuk TV. Ada tapi jarang-jarang. Paling jauh ketemunya dokter Boyke lagi. Tahu sendiri kan bidangnya apa.

Tapi berbagai macam praktek perdukunan justru ratingnya tinggi. Apalagi kalau dibungkus dengan ayat Qur’an, embel-embel ustadz, terapi Al-Quran, pengobatan ala nabi dan seterusnya. Awal-awal covid menyerang Indonesia, dengan amat sangat pede nya ada salah satu jamaah yang kirimi saja paket. Isinya diklaim sebagai obat Corona. Saya tertawa nggak percaya. Tapi dia bilang Wallahi demi Allah itu adalah obat yang Allah SWT turunkan, lewat hadits nabi. Mantab banget ngomongnya, seolah tanpa dosa. Begitu saya cek, ternyata isinya itu Qusthul Hindi.

Bubuk yang katanya terbuat dari kayu India. Konon dipercaya sebagai obat covid. Dan biasanya diteruskan dengan beragam testimoni unik. Wah sejak kapan bikin obat itu diukur pakai testimoni? Obat kuat mungkin hehe Kalau kita sedikit belajar sains modern, bikin obat itu kudu pakai rumus, teori dan praktek. Ada yang namnya uji klinis 1-2-3.Malah sebelumnya diujicobakan ke hewan dulu. Dan diteliti terus sampai diyakini hasilnya.

Lah kok tiba-tiba main sumpah bawa-bawa nama Allah dan hadits nabi bahwa itu adalah obat Corona. Kapan diujinya?

NOTE Mungkin saja minum obat itu lalu sembuh atas izin Allah. Tapi . . .Itulah beda sains modern dan pengobatan alternatif. Beda istilah teknis. Dalam sains modern, pengertian obat itu spesifik, kudu menenuhi sekian banyak ketentuan. Detailnya tanya ke ahli farmasi. Sedangkan dunia pengobatan alternatif punya definisi obat yang beda jauh. Minyak angin itu juga disebut obat. Termasuk minyak urut, minyak butbut, minyak wangi juga obat. Obat mengusir bau tak sedap. HeheYang jualan di trotoar jalan pun disebut tukang obat. Obat dalam tanda petik.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed