by

Sukses Tangani Pandemi, Erick & Luhut Tak Akan Nodai Perjuangan dengan Bisnis PCR

Oleh : R Haidar Alwi

Hampir dua tahun dunia terbelenggu Pandemi Covid-19. Dan kini, Indonesia mulai menemukan jalan keluarnya. Sempat mencetak rekor penambahan kasus baru sebanyak 56.757 pada 15 Juli lalu, kini hanya bertambah 401. Angka kematian pun turun secara drastis dari rekor 2.069 pada 27 Juli, menjadi 15 kematian saja per hari ini. Itu artinya, hanya dalam waktu kurang dari empat bulan, kesuksesan Pemerintah menekan laju penyebaran Covid-19 mencapai 99,29 persen dan keberhasilan menekan angka kematian mencapai 99,27 persen. Kesuksesan ini bahkan telah mendapatkan pengakuan dunia internasional.

Sebagaimana diketahui, baru-baru ini Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat menempatkan Indonesia ke dalam daftar negara dengan risiko rendah penularan Covid-19 atau aman untuk dikunjungi. Sungguh sebuah prestasi luar biasa yang patut kita syukuri bersama walau tak boleh lengah akan potensi ancaman gelombang ke-tiga. Tanpa menafikan peran semua elemen bangsa, prestasi ini tidak terlepas dari kebijakan yang diambil oleh Presiden Jokowi dan para menterinya di Kabinet Indonesia Maju khususnya Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN).

Di posisi Ketua ada nama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Sedangkan di posisi Wakil Ketua terdapat nama Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Polhukam Mahfud MD, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Mendagri Tito Karnavian. Ada pula Menteri BUMN Erick Thohir yang merangkap sebagai Ketua Tim Pelaksana. Namun, kerja keras mereka bukannya mendapatkan apresiasi justru terus digebuki. Tidak hanya haters Pemerintah yang jelas dirasuki kebencian, tapi juga datang dari kelompok yang selama ini mengaku relawan Jokowi, membela mati-matian Pemerintah, bahkan yang telah mendapatkan jabatan bergengsi seperti Wakil Menteri dan Komisaris perusahaan pelat merah.Sasarannya adalah Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri BUMN Erick Thohir. Kedua ujung tombak penanganan Pandemi Covid-19 ini dalam satu pekan terakhir menjadi bulan-bulanan di media sosial.

Luhut dan Erick Thohir dituduh mengeruk keuntungan dari bisnis tes PCR melalui PT GSI. Perusahaan yang baru seumur jagung ini setidaknya telah memberikan kontribusi lebih dari 5 ribu tes PCR gratis dan berhasil menggalang donasi hingga 4,4 miliar Rupiah untuk rakyat Indonesia. Lantas, kalau bukan mencari keuntungan kenapa melalui PT dan tidak melalui yayasan saja? Itulah salah satu pertanyaan yang paling banyak dilontarkan publik di media sosial. Publik harus tahu bahwa pemegang saham terbesar PT GSI badan hukumnya adalah yayasan. Badan hukum yayasan memiliki kekayaan sendiri yang dipisahkan dari kekayaan pendiri dan pengurusnya.

Akan tetapi, yayasan memiliki keterbatasan, semisal dalam hal pendanaan. Padahal untuk melakukan kegiatan dalam mencapai tujuan mulianya, yayasan memerlukan dana yang tidak sedikit. Untuk mengatasinya, maka Undang Undang memperbolehkan yayasan mendirikan sebuah badan usaha. Dengan badan usaha tersebut, yayasan mempunyai kemungkinan yang cukup besar untuk mendapatkan pendanaan dan merekrut tenaga profesional. Bayangkan, saat dunia tergagap Pandemi Covid-19 dan mayoritas umat manusia hanya memikirkan keselamatannya masing-masing, ada sekelompok filantropi yang rela mengorbankan waktu, tenaga dan uang untuk menolong sesama. Mereka mendirikan PT GSI yang boleh dibilang sebagai salah satu pelopor laboratorium tes PCR yang sangat dibutuhkan dalam rangka 3T untuk percepatan penanganan Pandemi Covid-19.

Mereka sadar betul bahwa memberikan contoh harus dimulai dari diri sendiri. Dari situ, kemudian lahirlah lab-lab swasta lainnya hingga ke pelosok negeri dengan harga yang semakin terjangkau. Ironisnya, semua itu seketika hilang dari logika masyarakat karena penggiringan opini negatif, tuduhan bahkan fitnah keji. Pihak-pihak yang tidak senang atas kesuksesan kita menangani Pandemi Covid-19 mendoktrin rakyat agar percaya bahwa harga tes PCR selama ini jahat sekali – mengeruk keuntungan di atas penderitaan rakyat. Pihak-pihak tersebut terus berupaya meruntuhkan kepercayaan publik kepada Pemerintah yang telah jungkir-balik menyelamatkan nyawa rakyatnya. Meskipun belum bisa seperti hujan sehari untuk menghapus panas setahun, saya menyarankan kepada PT GSI untuk mengumumkan keuntungan yang diperolehnya selama ini.

Lalu, sumbangkan sisa operasional itu untuk membantu masyarakat miskin. Setidaknya cara ini bisa memuaskan publik dan mencegah berkembangnya opini liar berikutnya. Saya yakin, Luhut dan Erick Thohir tidak mungkin menodai perjuangannya sendiri.

Sumber : Status Facebook Elhamdowie Alkadrie

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed