by

Mati Berkali-kali

Oleh : Titi Razak

Manusia tak hanya mati ketika ruh meninggalkan jasad. Bahkan kita bisa juga mati sebelum peristiwa itu. Kapan seseorang dikatakan mati sebelum mati? Manakala hari-hari kita sama. Di saat kita berhenti bergerak ke depan. Saat semangat pupus. Ketika tidak ada yang meningkat selain usia dan berat badan.

Manusia bisa mati berkali-kali dalam hidupnya tanpa ia sadari. Saat ia sedang kehilangan kreatifitas dalam waktu lama. Ketika ia kehilangan apa yang membedakannya dari yang lain, yakni akal budi. Kebingungan dalam menjalani kehidupan, tertekan, depresi dan putus gagasan juga masuk dalam kategori ini. Dirinya sendiri suliit melangkah dan merasa tidak ada jalan keluar atas apa yang dihadapinya.

Mati yang lain itu ketika seseorang dilupakan di hidup banyak orang. Tidak ada yang peduli lagi padanya, atau bertanya tentangnya. Terutama dilingkungan tinggal, komunitas, atau pertemanan. Diabaikan bahkan tidak bermakna bagi yang lain. Saat tak datang, tidak kelihatan, pun bersama-sama beraktifitas tidak ada yang mengakrabinya. Atau pun jika dirinya abstain, tidak ada satupun yang menanyakannya. Tidak banyak hal begini disadari bahwa oleh orang yang sering bergaul itu menganggapnya tiada.

Pun manusia mati saat masih hidup adalah manakala ia tak lagi mengingat Tuhannya. Seperti kata pepatah ” مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكر ربه مثل الحي والميت “Perumpamaan orang yang mengingati Tuhannya dan orang yang tidak mengingati Tuhannya adalah seperti yang hidup dan yang mati.

Jadi sesungguhnya mati itu tidak selalu saat ruh meninggalkan raga. Kadang saat ruh masih bersemayam, kita dianggap tiada. Itu tandanya sebuah kematian. Tidak banyak manusia yang menyadari hal ini. Maka dari itu, pentingnya manusia berintrospeksi, larut dalam evaluasi diri, berserah diri dianggap akan bisa melihat dirinya kembali dan memiliki makna penting bagi sesama.

Sumber : Status Facebook Titi Razak

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed