by

Bu Risma Namanya

Oleh : Karto Bugel

Mencegah selalu lebih baik dibanding dengan mengobati. Tentang bagaimana caranya, ada banyak metode dapat dipakai. Yang pasti, tak ada penyakit yang 100 persen dapat dicegah. Selalu ada saat di mana penyakit entah karena virus atau penyebab lain akan dapat lolos dan kita sakit. Mencegah terjadinya tindak pidana korupsi pada instansi pemerintah pada satu sisi adalah tentang tekad mewujudkan pemerintahan yang bersih tapi di sisi lain, itu juga merupakan janji sulit diwujudkan. Seringkali, itu lebih tepat sebagai lips service semata. Fakta di lapangan berbanding terbalik dengan nyanyian merdu yang mereka selalu dendangkan.

Seperti virus menginfeksi tubuh dengan cara tak mudah dimengerti, entah bagaimana caranya, selalu ada celah tercipta bagi tindak korupsi itu hadir. Itu bisa berupa celah alami sebagai ketidak sempurnaan sebuah sistem atau justru celah yang sejak awal sengaja diciptakan. Biasanya, itu terjadi atas nama kesepakan. Selalu ada warna abu-abu diantara hitam dan putih. Selalu tentang kamuflase sebagai logis sembunyi mendapatkan tempat.

Menempatkan Tri Rismaharini sebagai menteri pada Kementrian Sosial dapat kita maknai sebagai cara Jokowi ingin membuat institusi tersebut menjadi semakin baik. Paling tidak, sebagai bahan, Risma punya banyak point lebih. Dia bersih, dia punya kapasitas dan yang pasti dia telah teruji. Melihat bu Risma sebagai sosok sengaja diselipkan demi mencegah tindak korupsi yang marak pada Kementrian itu, itu cerita berbeda sekaligus menarik. Dia seorang perempuan, spontan dalam ledak marah tanpa rem hingga keberaniannya menabrak siapa pun yang menghalangi jalannya tanpa pandang bulu adalah nilai lebih miliknya sebagai fungsi pencegah.

Bayangkan saja, seorang laki-laki, pejabat dan biasa dihormati tiba-tiba dihadapkan pada adanya potensi dimaki-maki di depan umum oleh seorang perempuan (emak-emak), adakah itu bukan janji mengerikan? Pada kultur kita di mana masih banyak dari kita yang demikian meninggikan posisi laki-laki, itu jelas kabar buruk. Itu lebih menyakitkan dari jenis perlakuan apa pun. Itu Harkat sekaligus tentang martabat yang tak seharusnya digugat.

Dan benar, bunyi kabar agar Risma mundur mulai kita dengar. Paling tidak, seorang wakil Ketua MPR dari Fraksi PKB Jazilul Fawaid sudah bersuara. “Ya nggak ada gunanya marah-marahlah. Kalau marah-marah terus kan mending mundur saja. Artinya nggak mampu bekerja, nggak mampu mengkoordinir anak buahnya, semua orang melihat itu,” kata Jazilul. Bahkan, seorang Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah pun menimpalinya.”Memang jika dibanding kinerja, tampak lebih menonjol adalah aksi marah-marah,” demikian salah satu komentar Dedi Kurnia Syah.

“Benarkah bu Risma ga bisa kerja?”Bukankah baru-baru ini KPK mengapresiasi dan menyebut bahwa kebijakan Mensos Risma justru telah selamatkan Uang Negara Rp10,5 T dengan berhasilnya dia menidurkan 52,5 juta data ganda penerima bansos?Dengan fakta ini Jazilul Fawaid seharunya malu. Perempuan yang disindirnya tak bisa kerja itu dalam fakta ternyata berprestasi. Bagaimana bila itu harus dibanding dengan prestasi yang pernah Jazilul torehkan, jabatan tertinggi dalam eksekutif yang pernah diduduki adalah Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia (2009–2013). Adakah itu pantas disandingkan?

🙄“Kenapa harus Risma?”Ibarat Propinsi DKI Jakarta dan maka dia yang menjadi Gubernur di sana seharusnya orang berdedikasi dan berintergritas. Salah pilih orang, tempat itu hanya akan dianggap layaknya sebuah lumbung. Kemensos pun sering dijadikan dan dianggap lumbung.Sama seperti DKI sebagai Provinsi dengan APBD mencapai sekitar 80-90 triliun dan terbesar di Indonesia, Kemensos adalah salah satu Kementrian dengan anggaran paling besar. Sebagai contoh pada tahun 2020 saja, anggaran yang dialokasikan adalah senilai 134 triliun rupiah. Dan itu harus dihabiskan.

Jadi tak heran kan kenapa Kementrian dengan anggaran luar biasa besar itu akhirnya berhasil mencetak pemimpin korup? Bachtiar Chamsyah, Mensos periode 2001-2009, Idrus Marham Mensos 2018 dan terakhir adalah Juliari Batubara. Ketiganya koruptor dengan jabatan tersemat padanya adalah menteri. Sama dengan DKI perlu hadir seorang Ahok dan maka Propinsi itu melejit dalam kemajuan, Kemensos butuh Risma. Karakter keduanya mirip. Sama-sama jujur, pekerja keras, berani, dan gawat mulutnya… 😁

Siapa pun yang pernah tersinggung dimaki Ahok, dijamin tak seperih dan sedalam luka yang diderita oleh mereka yang diteriaki bu Mensos ini. Apalagi bila dia yang kena damprat itu adalah laki-laki.Sama dengan orang waras yang tak lagi boleh diam dalam disrupsi kekinian, pemilik mulut pedas dibutuhkan tetap hadir. Mereka yang bersembunyi dalam tata krama dengan dalih adab sopan dalam berturtur tapi tetap maling, sangat takut dengan cemar manakala cela terpekspos. Apalagi ketika akan jadi tontonan massa.

Kebiasaannya marah-marah di depan umum pada mereka yang salah dan tak beres bekerja ternyata mampu menyelamatkan uang negara lebih dari 10 triliun rupiah dalam waktu satu tahun saja. Bayangkan bila berlangsung lima tahun, itu pasti akan lebih luar biasa.Bila saat ini saya disuruh pilih bu Risma yang ngamukan atau bu risma yang selalu senyum ketika harus menegor, saya tetap pilih bu Risma yang spontan dalam kebenaran meski harus terdengar suara tak nyaman dalam teriakan marah. Kebenaran adalah kebenaran. Esensinya tak berkurang sedikit pun dalam makna hanya karena diungkap dengan nada marah.

Perempuan yang marah dan menangis karena sebab penderitaan orang lain adalah dia yang tahu apa itu makna cinta. Seperti seorang ibu yang akan melakukan apa saja ketika anaknya terancam, itulah yang kini dia tunjukkan pada kita. Ya, perempuan ngamukan itu bernama bu Risma… dan saya suka…RAHAYU.

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed