by

Karakter Kepemimpinan Indonesia

Oleh : Ahmad Sarwat

Saya bisa memahami gaya kepemimpinan Bu Risma, misalnya marah besar ketika beliau menemukan rumitnya pembuatan KTP baru, saat beliau masih menjabat Walikota di Surabaya. Dan beberapa kali memarahi pelaksana Bansos dan PKH yang terbukti menyunat atau lambat menyalurkan bantuan. Ada level orang dalam bekerja, niat kerja tapi tidak semangat dan tidak profesional, masih bisa diajak omong, saya sendiri ketika menemukan orang seperti ini dipekerjaan mau ngajak ngobrol, tukar pikiran karena bisa dibenahi.

Tapi kalau levelnya ” gak ada niat, gak semangat dan tidak punya keahlian spesifik atau tidak punya konsen ke bidangnya atau tidak menghargai jobdesknya sendiri”, apapun itu, orang seperti ini tidak perlu diajak bicara. Dan jumlahnya level terakhir ini banyak sekali, orang-orang seperti ini yang kerap dimarahi Bu Risma atau Ahok saat menjabat dulu.

Kita sering ngomong “gak habis pikir. Nah yang di labeli gak habis pikir itu anomali yang terus berlangsung. Misalnya orang bekerja di pelayanan tapi ketus, atau tugas di puskesmas, tapi kantor ditutup malah karokean, atau jadi pendamping PKH malah ngumpulkan ATM dan nyunat duit. Memang kelompok ini, yang jumlahnya banyak ini sudah tidak bisa diajak ngomong. Soal marah atau ngamuk, itu kan gaya masing-masing dalam menghadapi bawahan yang cara kerjanya kita anggap “ko gak habis pikir”.

Yang meledak-ledak seperti bu Risma tidak bisa meniru gaya Pak Jokowi, main halus, bekerja dengan senyap, mutasi, copot, sebaliknya pak Jokowi tidak bisa meledak-ledak seperti Ahok dan Bu Risma. Pemimpin jujur dan punya jiwa melayani seperti Bu Risma harus di dukung, gaya kepemimpinan kan kembali ke karakter masing-masing, toh beliau dengan gaya begitu terbukti sukses memimpin dan merubah wajah Surabaya.Yang perlu disorot itu pejabat publik yang kerjanya gak bener itu.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed