by

Kultur Gurun Pasir

Oleh : Jody Ananda

Dalam lanskap budaya gurun pasir, perempuan memang hanya punya fungsi domestik: urusan kasur, dapur dan sumur. Perempuan tidak punya peran dalam komunitas.

Cukup maklum produk turunan fikih dari lanskap budaya ini juga senada. Perempuan tak perlu bersekolah. Untuk apa? Wong perannya cuma ngangkang di kasur, ngurus anak dan melayani suaminya. Haram bagi perempuan keluar rumah tanpa mahram. Buat apa? Perempuan juga bisa dikawin tanpa bisa menolak, bahkan dibawah umur.

Buat apa menolak? Ngangkang dimana-dimana sama saja kok. Pakai ransel? Buat apa??!! Tidak boleh kemana-mana tanpa mahram. Ngapain pake ransel,bedak dll. Pakai make up juga buat apa? Kan pakai cadar juga. Kalau perempuan “turun mesin”, pengemudi bisa cari mobil baru. Dan lain sebagainya. Itulah yang terjadi pada kultur gurun pasir ribuan tahun lalu.

Yang ana heran, kultur seperti ini,–dalam kemasan baru–, lumayan laku di negeri ini yang sudah pernah memiliki tokoh historis seperti Ratu Sima, Malahayati atau Ratu Kalinyamat. Perempuan-perempuan hebat yang menjadi tokoh peradaban.Kemudian dijajakan sebagai “agama”, berfantasi dengan syurga di gurun pasir.Gobloghhh sak pol-polane.

Link :https://news.okezone.com/…/negeri-kaya-namun-tingkat…

Sumber : Status Facebook Jody Ananda

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed