by

Saham dan Muslim Konservatif

Oleh : Mamang Haerudin

Jangankan orang lain, saya mengaku awam sekali tentang saham. Apa itu saham? Makhluk sejenis apa ia. Padahal dulu saya belajar dekat dengan pelajaran dan mata kuliah yang berbau ekonomi. Pendidikan dan dakwah kita telah mengalami kejumudan luar biasa. Sampai hari ini orang malah ketakutan dengan saham. Tidak aneh jika terlalu banyak–untuk enggan selalu–yang bergantung untuk menjadi PNS atau ASN. Apa alasannya?

Karena setiap bulan dipastikan mendapat gaji rutin berikut tunjangan-tunjangannya. Ini kok pendidikan dan dakwah kita begini amat. Pendidikan masih hanya identik dengan selembar rapor dan nilai akademik. Pendidikan masih hanya di dalam kelas. Padahal pendidikan itu adanya di luar kelas, di alam sekitar, di lingkungan di mana manusia hidup secara sosial. Mestinya pendidikan mampu mendidik pesertanya untuk beradaptasi dengan alam dan lingkungan sekitar.

Lulusan Perguruan Tinggi mestinya orientasi utamanya adalah mengamalkan ilmu di kampung di mana ia dibesarkan, bukan malah sengaja menghindar dari Desa. Guru dan dosen masih banyak yang tidak melek literasi, terlebih literasi keuangan. Guru dan dosen kita masih saja banyak disibukkan dengan kerja-kerja runititas-formalitas. Riset-riset yang selama dilakukan, terutama yang dibiayai negara, entah apa dampaknya bagi kehidupan sosial.

Realitas ini sungguh menyesakkan dada, betapa Muslim sebagai pemeluk mayoritas agama di negeri ini sangat konservatif sekali. Untuk enggan mengatakan malas, penakut, terjebak zona nyaman dan hidup asyik sendiri. Sosok Ust Yusuf Mansur, yang dikenal sebagai salah seorang da’i, begitu mengesankan. Ia mampu menjadi da’i, sekaligus pengusaha, investor dan lain sebagainya.

Dakwah Islam bukan hanya duduk manis mengajarkan bacaan Al-Qur’an dan doktrin agama lainnya, bukan hanya berceramah, dakwah Islam mestinya luas, mewarnai, melek literasi dan menjadi solusi bukan malah membebani. Islam dan Muslim harus menjadi inspirasi, sebagaimana dahulu Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Para cendekiawan Muslim terpelajar, ulama yang alim, guru, dosen, pelajar, mahasiswa dan siapa pun harus melek literasi keuangan. Mentalnya jangan hanya mau jadi karyawan, pengennya dilayani dan dimuliakan. Siap?Wallaahu a’lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed