by

Tafsir Bil Khayal

Oleh : Alim

Kita tau ada yang sebagian yang melarang tafsir bil-ra’yi. Secara mudahnya, tafsir dengan akal atau semacam gitulah. Sepanjang sejarah terjadi perdebatan sengit mengenai metode tafsir ini. Namun tampaknya justru malah ada permakluman terhadap tafsir bil-khayal. Ini agak aneh. Agar lebih mudah, saya kasih contoh tafsir bil-khayal, yang masih terkait dengan status saya sebelumnya tentang wujud dan proses kerja semesta.

Soal penciptaan, semua tafsir pasti melibatkan ayat “Kun Fayakun”. Lalu ada yang menafsirkan bahwa alam ini diciptakan Tuhan secara mak bedunduk, dan demikian menolak penciptaan melalui proses (yang kemudian dikenal dengan evolusi –tolong bedakan dengan darwinisme). Nah, tafsir mak bedunduk ini tampaknya adalah tafsir bil-khayal. Soalnya kalau pakai bil-ma’tsur, harusnya memperhatikan setidaknya ayat² ini :

ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.” (QS Fusshilat: 11).

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS Al Anbiya: 30)

.وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ

“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (periode),” (QS Hud: 7).

So, di mana mak bedunduknya? Ya ndak ada selain dalam khayalan. Itulah kenapa saya sebut sebagai tafsir bil-khayal.Selain itu, tafsir ini jelas bukan tafsir bil-ilmi yang memasukkan ilmu² lain, metode observational, apalagi eksperimentasi. Nah, jangan² tafsir² bil-khayal ini banyak dilakukan pada ayat dan fenomena lainnya? Saya ndak tau pasti, mari bertanya pada para mufasir. Tapi indikasi itu kayaknya ada, salah satunya dalam dunia pengobatan. Banyak yang menafsirkan ayat dan riwayat dengan cara tertentu, lalu lahir metode² pengobatan cocokologi yang dikasih stempel pengobatan agamis.

Berkhayal memang nikmat, gratis lagi…

Sumber : Status Facebook Alim

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed