by

Mengapa Keburukan Lebih Tren Dibandingkan Kebaikan

Oleh : Agung Wibawanto

Apa yang bisa didapat dari sebuah kegaduhan–entah itu dalam perilaku (tindakan), ucapan maupun tulisan? Sesuatu yang buruk kecenderungannya menghasilkan sesuatu yang negatif. Pribahasanya, “siapa menabur angin akan menuai badai”. Ini salah satu kasus nyata di kalangan kita (termasuk saya). Hal-hal yang sudah diyakini salah dan buruk, mengapa tetap dilakukan? Banyak alasan pembenar yang kemudian diberikan. Bisa karena jengkel (tidak bisa menahan emosi), ingin membalas agar orang tersebut juga merasakan; ketidaktahuan jika itu buruk, dan tidak tahu jika berdampak buruk;

Sementara terkadang kita tidak bisa menangkap sebuah inspirasi dari sebuah sikap ataupun kejadian yang positif. Selalu beranggapan, “ah biasa saja”, tidak ingin dianggap sebagai peniru, malas untuk mencoba, nanti saja, tidak ada waktu, dan sebagainya. Jadi memang inilah tantangan setiap orang untuk berbuat baik. Sudah menjadi kesan umum jika berbuat baik atau positif itu akan kalah eksis ketimbang berbuat yang konyol, kontroversi, atau gila beneran. Semakin konyol akan semakin mengundang kontroversi dan itu artinya semakin “terkenal”. Pada faktanya memang tidak banyak media yang menyorot sebuah kebaikan ataupun mengajar kebaikan. Bad news is a good news, masih ingat kan? Konsep ini dengan sangat mudah dicerna orang yang ingin tampil eksis.

Perilaku baik hanya dijadikan sebagai pencitraan dan itu dilakukan sekai-kali saja. Kisah pengeroyokan 3 orang wanita terhadap seorang temannya, misalnya, menjadi konsumsi gurih bagi media, ketimbang kisah seorang anak yang membanting tulang membantu ibunya yang sakit. Respon masyarakat terhadap hal yang baik dan buruk pun menjadi terkesan aneh. Seorang maling yang dihajar massa akan menjadi tontonan yang menarik bagi masyarakat, bahkan ikutan memukuli atau malah merekam kejadian penyiksaan itu. Sementara orang yang menggagalkan aksi si maling hanya didiamkan tidak mendapat apresiasi sama sekali (syukur gak ikut dihajar).

Setelah saya pikir-pikir, jangan-jangan memang kita lebih menyukai/melihat sebuah kemalangan daripada kebaikan? Lebih suka melihat yang salah-salah ketimbang yang benar? Tertarik pada yang aneh-aneh ketimbang yang normal? Dan pada akhirnya memilih yang dilarang ketimbang yang dibolehkan. Padahal teorinya adalah sebaliknya. Pelajaran di sekolah atau di pesantren adalah, “berbuat baik lah dan hindari perilaku buruk”. Sebagai orang yang suka berkumpul dan melakukan belajar bersama, terkadang saya juga merasa khawatir. Jangan-jangan apa yang saya sampaikan kepada teman-teman (anak-anak muda) agar selalu menulis sesuatu yang baik, juga dianggap hanya teori saja? Ada seorang mahasiswa yang mengatakan, “Saat saya menulis yang baik-baik di media online (seperti motivasi, dll), hanya sedikit yang merespon.

Namun saat saya membuat sebuah gosip, maka banyak sekali yang ngelike dan komentar…” Sebuah kebaikan memang tidak menghasilkan dalam waktu seketika, bahkan terkadang tidak terlihat, karena hasil itu dibawa oleh orang yang mengetahui dan terinspirasi, dalam bentuk perilaku positif yang dilakukannya kepada orang yang lain lagi. Sekadar ingin eksis dan mendapat perhatian orang lain itu mudah, ambil saja batu lalu lempar rumah orang, maka kamu akan mendapat perhatiannya. Namun tujuanmu untuk menanyakan alamat menjadi tidak terwujud, sementara orang lain sudah merugi dari sikapmu itu. Lantas bagaimana agar antara harapan dengan kenyataan bisa seiring sejalan? Pertanyaannya, siapakah yang akan menentukan bahwa sebuah harapan harus begini sementara sebuah kenyataan harus begitu? Jika keinginannya harus seiring dan sejalan, maka hati nurani kita sendiri yang akan menentukannya. Rawat dan jaga “hati nurani” itu meski kadang kita tahu tidak sesuai dengan kenyataan.

Itulah idealisme dan independensi seorang penulis. Istilahnya, “Tidak peduli langit runtuh, kebenaran harus ditegakkan… Kenyataan harus sama dengan harapan!” (Awib)Kadang menyampaikan kebaikan cukup dengan perilaku tanpa harus berkata-kata… Jadi ingat sabda “kamu”, bomat orang mau bilang apa, aku lakukan saja yang aku anggap baik sepanjang tidak melanggar aturan. Gitu kan? 🥰😍😊👍

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed