by

Merusak Citra Ulama

Oleh: Ferdinand Matita

SIAL alias apes, ketika rencana MUI Provinsi Jakarta membentuk Tim Cyber Army Pembela Ulama dan Gubernur DKI Jakarta ternyata bocor dan beredar luas di media. Akibatnya, marwah dan eksistensi MUI semakin dipertaruhkan. Rencana yang disetujui, atau dengan status direkomendasi pihak Pemrov DKI tersebut mengalokasikan anggaran sekitar Rp 39,662 miliar.

Terbilang wah karena dana tersebut untuk tahun 2021 yang tersisa 5 minggu. Bukanlah kebetulan bila rencana tersebut bocor selang sekitar satu dua hari setelah tersangka teroris Ahmad Zain, anggota Majelis Fatwa MUI Pusat diciduk oleh Densus 88 Anti Teror Polri. Bocoran bisa dari orang dalam MUI Jakarta, bisa dari Pemrov DKI Jakarta. Siapapun oknumnya, yang pasti rencana tersebut memancing pro kontra masyarakat. Masyarakat kecewa karena MUI sebagai ormas keagamaan bertindak partisan dan berpolitik praktis.

PEMBETUKAN Tim Cyber Army Pembela Ulama dan Gubernur DKI memperkuat sinyalemen ormas MUI terpapar radikalisme dan terorisme. MUI melegitimasi praktek intoleransi, persekusi dan diskriminasi terhadap warga negara dan kelompok agama tertentu. Salah satu bukti valid adalah mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Ahok adalah korban hasil dari Pilkada ayat dan mayat yang berhasil mengantar gubernur yang sekarang menjadi orang nomor satu di Ibukota Jakarta.

Keberadaan Tim Cyber Army oleh MUI Jakarta sekaligus semakin membuka mata kita tentang kepiawaian Gubernur DKI menghalalkan cara dalam meraih kekuasaan. Dalam konteks ini tentu persiapan menyongsong Pilpres 2024 dengan copy paste modus sukses Pilkada DKI Tahun 2017. Absurb dan banal hanya karena ambisi segelintir oknum yang haus kekuasaan mengorbankan citra para ulama. Sebagai institusi, MUI terlalu besar untuk seorang Anies Baswedan, bukan? Atau sebaliknya? Peace

Sumber : Status Facebook Ferdinand Matita

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed