by

Kesabaran Guru Berbuah Ganjaran

Oleh : Septian Raharjo

Peringatan Hari Guru barangkali adalah perayaan paling ironis. Para siswa memberikan bingkisan manis, ucapan-ucapan penuh cinta, dan harapan yang luar biasa indah. Namun di sisi yang lain kita masih mendengar cerita muram tentang guru honorer yang dibayar hanya Rp. 200-300 ribu perbulan.

Tentu kita tak bisa menuntut setiap hari adalah hari guru untuk bisa menghibur hati mereka. Kita lagi-lagi hanya bisa ikut berharap, kesejahteraan mereka lekas membaik.

Aku teringat saat pemerintah pusat justru mewacanakan penghapusan tenaga honorer. Seorang Gubernur Jateng waktu itu, Ganjar Pranowo, mengambil sikap tegas membela tenaga honorer. Ia bilang, penghapusan tenaga honorer akan membuat daerah mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pegawai di sejumlah instansi. Yang paling terdampak, menurut Ganjar, adalah sektor pendidikan.

“Kalau itu dihapus dan tidak boleh, maka kami kekurangan pegawai. Guru saja kami kurang. Kalau guru (honorer) dipangkas, kami ndak ada guru. Lha yang mau ngisi siapa?” katanya.

Menghapus memang sudah jelas bukan solusi. Saat itulah aku benar-benar melihat komitmen Ganjar selama ini dalam berdiri, membela, dan memperjuangkan kesejahteraan para tenaga honorer, termasuk guru.

Selain mendorong pemaksimalan kuota pengangkatan tenaga guru honorer menjadi ASN PPPK, Ganjar membuat satu terobosan yang tidak dilakukan di daerah lain: ia menaikkan gaji guru honorer SMA/SMK dan SLB (yang menjadi wewenangnya) setara UMK wilayah-masing-masing, plus tambahan 10 persennya. Bukan hanya guru, tenaga-tenaga honorer yang bekerja di instansi pendidikan juga mendapatkan hak yang sama.

APBD Jateng itu sebenarnya jumlahnya nggak seberapa. Bahkan tidak ada separonya jika dibandingkan Jakarta. Apa yang membuat Ganjar berani berinovasi dan mengambil kebijakan menaikkan gaji guru honorer, aku kira adalah kepekaannya dalam memandang persoalan, dan lalu menyelesaikannya. Bahkan bukan hanya guru formal, guru ngaji maupun pengajar keagamaan lain juga mendapatkan insentif rutin setiap tahunnya.

Ada cerita mengharukan dari seorang guru Bimbingan Konseling salah satu SMA di Kendal, namanya Titin. Ia sudah meminta ijin ke suaminya untuk menjadi TKW di Jepang dan melepas profesinya sebagai pendidik yang sudah dijalaninya bertahun-tahun. Keinginan itu muncul karena dia harus membiayai kuliah adiknya, sedangkan pendapatannya waktu itu hanya Rp. 300 ribu.

Namun ternyata kesabarannya berbuah manis. Gajinya kemudian disamakan dengan UMK Kendal dan ditambah sepuluh persen karena kebijakan Ganjar. Setiap tahun upah yang diterima pun terus mengalami kenaikan. Titin kini sudah mengubur rencananya mencari peruntungan di Jepang. Ia fokus mendidik anak-anak di sekolah, dan yang paling penting bisa tetap tinggal bersama keluarga kecilnya.

Konsen Ganjar di bidang pendidikan memang sangat serius. Selain menaikkan gaji guru honorer, Ganjar bahkan tercatat sebagai satu-satunya gubernur yang membangun sekolah asrama gratis untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu, namanya SMKN Jateng. Detikcom Award juga menobatkan Ganjar sebagai Tokoh Pendongkrak Kualitas Pendidikan Keluarga Miskin.

Kini ia menjadi salah satu kandidat calon presiden untuk pemilu 2024. Keberpihakannya dalam dunia pendidikan sedikitpun tidak memudar. Ia akan menggratiskan biaya pendidikan 12 tahun, dan melahirkan satu sarjana dalam satu keluarga miskin. Ganjar juga memastikan kenaikan gaji ataupun kesejahteraan guru dan dosen, serta meningkatkan kualitas dan kompetensi para pengajar sejajar negara-negara maju.

Mungkin klise menjadikan Hari Guru sebagai momen untuk kembali membaca manis getir perjuangan mereka. Tapi paling tidak ada harapan, kisah-kisah muram yang menyelimuti guru-guru honorer tak lagi kita temui.

Sumber : Status Facebook Septian Raharjo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed