by

Katanya Jadi Cerdas Memilih di 2024

Oleh : Randharu Sadhana

“Karena kita sedang mencari pemimpin negara yang berpenduduk 275 juta jiwa, bukan mencari bayi sehat 2024” ujar salah satu perwakilan dari sebagian besar dari rakyat Indonesia.

Awalnya anak muda yang hadir di acara KPU itu bermaksud menyampaikan pendapatnya tentang tema yang diusung dan disosialisasikan untuk Pilpres 2024 nanti, yakni “Cerdas Memilih Pada Pemilu Serentak 2024”.

KPU sebagai penyelenggara harus netral dan ikut memprakarsai tegaknya tagline pencerdasan bagi pemilih dalam menentukan pemimpin. Lalu pemuda itu menyampaikan gaya politik yang marak dengan kata gemoy dibarengi gerakan khasnya joget-joget.

Hal itu adalah salah satu bentuk kampanye dangkal, karena tidak melihat pada gagasan ataupun rekam jejak melainkan hanya pada penampilannya yang sama sekali tidak mencerminkan sosok leader dalam diri si calon pemimpin.

Sontak saja para audience dibuat tertawa saat si pemuda mengatakan pendapatnya dengan sarat nada serius, bahwa yang sedang kita cari itu adalah kepala negara untuk mengomandoi 275 juta jiwa penduduk bukan ajang mencari bayi sehat nan lucu dengan karapan gemoynya.

Sudah menjadi rahasia umum jika kritik itu dialamatkan kepada strategi kampanye milik Prabowo-Gibran, yang mungkin sudah membuat geram beberapa kalangan. Karena dengan karapan itu, membuat para pemilih lupa eksistensinya sebagai pemilih ini demi kepentingan negara yang tentunya juga berhubungan dengan urusan rakyat se-Indonesia.

Mana bisa kita percaya mereka, disaat kata gemoy lebih didahulukan daripada gagasan dan rekam jejak keduanya?

Memangnya dengan gemoy bisa mengatasi pengangguran di Indonesia? Lalu apa dengan gemoy, penegakan hukum bisa berjalan baik jika ada peristiwa keluarnya putusan lewat pelanggaran etik kemarin?

Dengan gemoy pula, apa bisa membuat demokrasi kita tumbuh dengan baik? Kemudian apa dengan gemoy, pelanggaran HAM yang masih ditunggu kepastian hukumnya oleh keluarga aktifis bisa rampung begitu saja? Kalau memang bisa, magic sekali ya kata gemoy ini. Sudah seperti mantra sim salabim adacadabra dalam dunia pesulap saja.

Coba kalau ditanya gagasan Prabowo-Gibran, apa jawabannya? Hanya sebatas makan gratis yang dibesar-besarkan. Sekarang kalau mental health solusinya makan gratis, stunting juga makan gratis, pendidikan yang nilainya merosot juga makan gratis, apa bisa? Kalau ada yang jawab bisa, ga nyampai nalar saya memikirkan bisanya sampai mana!

Tidak harus jadi capres-cawapres, pelajar biasa juga bisa menilai bahwa sekelas permasalahan yang sering mereka hadapi semacam mental health tidak bisa diselesaikan dengan makan gratis saja.

Jangan sampai tagline yang sudah disertakan KPU untuk meramaikan pesta demokrasi ini hanya menjadi formalitas saja, sedangkan realisasinya tidak nampak. Jangan sampai pula Pemilu Damai yang digaungkan hanya untuk pajangan mendampingi netralitas saja. Yang kemudian jika ada kecurangan, KPU hanya diam dan justru ikut berpihak kepada yang punya jalan pulang ke penguasa.

Saya rasa pemuda tadi adalah perwakilan dari kita, yang masih waras menanggapi berita hari ini. Karena untuk mewujudkan demokrasi yang sehat dan tagline KPU di masa kampanye nanti, kerasionalan pikir adalah hal utama.

Dengan begitu rakyat bisa jernih dengan hati nuraninya menentukan siapa paslon terbaik diantara ketiganya, yang jelas mampu menghadirkan angin segar dari problematika Republik kita hari ini. Tentunya bukan yang sebatas makan gratis, tapi gagasan besar yang membawa kita lebih unggul. Sehingga Indonesia emas 2045 dapat diraih melalui bonus demografi yang akan datang nanti.

Sumber : Status facebook Randharu Sadhana

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed