by

I’tikaf, Antara Syariat dan Tradisi

Oleh : Ahmad Sarwat

Meski baru trend akhir-akhir ini saja, namun gerakan memenuhi masjid dengan i’tikaf di sepuluh malam Ramadhan sudah jadi tradisi.Tradisi? Ya tradisi. Dan namanya tradisi itu tidak selalu harus beriringan dengan syariat. Oh ya?Tradisi i’tikaf di kita itu unik. Saya coba mencatat beberapa keunikan tradisi i’tikaf di negeri kita yang trend akhir-akhir ini.

Pertama : Panitia I’tikafTradisi i’tikaf yang paling menonjol adalah adanya panitia i’tikaf. Ini unik banget lho. Bayangin, sebuah ritual ibadah kok pakai panitia ya?Sepanjang yang kita tahu, ibadah itu tidak ada kepanitiannya. Mana ada panitia wudhu’, panitia mandi janabah, panitia tayammum, panitia shalat, panitia puasa, panitia ini itu dan lain-lain.Tapi begitulah tradisi kita. Untuk beri’tikaf di suatu masjid, maka disusunlah kepanitiaan i’tikaf dengan tugas seabreg.

Saya baru sadar bahwa aslinya di Mekkah Madinah Sono, justru tidak ada panitia i’tikaf, ketika di tahun 1997 saya pernah mencicipi beri’tikaf di Masjid Al-Haram Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Saya ubek-ubek dua masjid termegah milik umat Islam sedunia itu, maksudnya mau mendaftarkan diri ikutan i’tikaf. Tapi nggak ketemu-ketemu juga. Akhirnya askar yang jaga di pintu masjid itu saya tanya : Aina maktab Lajnah i’tikaf ya Syeikh?Lajnah? Isy tibgha? (Panitia? Emang ente mau ngapain?) Uridu tasjil ismi li isytirak ma’al mu’takifin di hazdal masjid. (Saya ingin daftarkan nama saya untuk gabung dengan para peserta i’tikaf dimasjid ini) Petugas cuma geleng kepala. Ente mau i’tikaf? Ya masuk masjid saja. Tidak ada pendaftaran segala. Ada ada saja ente. Hehe disitu saya bingung banget. Wah, masjid segede gini kok gak ada panitia i’tikafnya ya.

Kedua : Jam I’tikafIni unik banget. Peserta i’tikaf yang sudah terdaftar itu baru mulai berdatangan selepas shalat tarawih. Jamaah tarawih bubar dulu, baru jamaah i’tikaf berdatangan. Jadi kayak ganti pemain bola gitu.Makin unik karena nanti habis Shubuh pada bubar pulang ke rumah masing-masing. Setidaknya setelah ceramah Shubuh, masuk Dhuha pada shalat isyraq dan . . . bubar jalan. Jangankan pesertanya, bahkan panitia i’tikafnya pun pada pulang semua. Sebab lokasi i’tikaf mau dibersihkan dan dipel oleh petugas kebersihan. Kayak gitu itu tradisi, bukan syariat. Sebab praktek i’tikafnya Nabi itu kan totalitas, masuk masjid tanggal 20 Ramadhan menjelang Maghrib. Dan baru keluar masjid pas malam takbiran. Di kita jamaah i’tikaf itu on off gitu. Kadang besok malam pindah masjid. Hihi

Ketiga : Kajian I’tikafDi kita ini i’tikaf itu rada identik dengan kajian alias ceramah. Lucunya, ceramah digelar pada jam-jam ekstrim.Kemarin saya diundang panitia i’tikaf suatu masjid. Tahu nggak jam berapa jadwalnya? Ya, jam 02.00 tengah malam. Waw, horor eh serem eh keren eh . . .Bayangin, kita disuruh ceramah jam 02.00 malam. Aturan lagi asyik tidur tengah malam kok dibangunan eh dibangunin.Tapi . . .

Yah begitu itulah tradisi dalam i’tikaf. Tradisi yang tidak 100% sejalan dengan ketentuan baku syariah. Kalau dibandingkan dengan ketentuan baku syariah, sebenarnya i’tikaf yang original sih simpel banget, yang penting niat i’tikaf dan masuk masjid. Udah gitu doang. Sederhana sekali.Bahkan tidak ada panitia-panitiaan segala. Sehingga di masjid yang kosong melompong pun kita bisa i’tikaf meski sendirian doang.Pertanyaannya : apakah beri’tikaf dengan tradisi macam kita inisalah dan tidak sah?Ya tentu saja tidak salah dan tetap sah. Silahkan saja beri’tikaf dengan tradisi-tradisi yang berbeda di tiap daerah. Ustadz, i’tikaf sendirian itu emangnya boleh?Nah, ini dia nih. Dijawab apa nggak ya pertanyaan kayak gini?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed