by

Salah Kaprah Di Kalangan Muslim

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Pagi ini dapat kiriman buku yang sangat menarik dan langka. The Producive Muslim, Where Faith meets Productivity, oleh Muhammed Faris. Isinya sangat menggugah. Di pendahuluan ditulis “One of the greatest challenges facing adherents of the Islamic faith is making Islam relevant in the post-modern world” (Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi penganut agama Islam adalah membuat Islam relevan di dunia post-modern).

Salah satu halamannya mengupas ini : “It’s easy for us as Muslims to blame “outside forces” for our situation; however, we truly need to look ourselves in the mirror and ask: why? Why do we have the highest illiteracy rates in the world even though we’re the ummah of iqra (read)? Why do we have the highest unemployment rate in the world, even though we’re the ummah of i’malou (work)? Why do we have the lowest number of Nobel prize winners, even though we’re the ummah of tafakkur (thoughtful pondering)?”

(Sangat mudah bagi kita sebagai Muslim untuk menyalahkan “pihak luar” atas situasi kita; kita perlu melihat diri kita di cermin dan bertanya: mengapa? Mengapa kita memiliki tingkat buta huruf tertinggi di dunia meskipun kita adalah umat iqra (baca)? Mengapa kita memiliki tingkat pengangguran tertinggi di dunia, padahal kita adalah umat i’malou (bekerja)? Mengapa kita memiliki jumlah pemenang hadiah Nobel terendah, meskipun kita adalah umat tafakkur (pemikir yang bijaksana)?

Saya kutipkan 5 miskonsepsi (salah kaprah) soal ajaran Islam yang menghinggapi sebagian besar umat Islam untuk waktu yang sekian lama. Saya hanya mengambil 5 pokok pikirannya. Uraiannya adalah uraian berdasarkan observasi saya terhadap kecenderungan yang terjadi pada umat Islam akhir-akhir ini.

1. WE SHOULD NEGLECT THE DUNYA (kita harus mengabaikan dunia). Sehingga banyak orang Islam yang hidup tidak bersemangat berlomba dalam kebaikan, Sering berlindung pada kehidupan akherat. Bilangnya seimbang, tapi nyatanya waktunya justru tidak dimanfaatkan untuk menikmati dan mensyukuri kehidupan ini. Pelayanan pada manusia sering diabaikan.

2. Make Dua and All Will be Well (Kita diminta berdoa,tanpa usaha yang memadai dan semua akan tersedia)Pemikiran yang menghinggapi hampir kita semua. Kalau ada masalah jalan keluarnya doa tanpa diiringi usaha yang mamadai dan kita mengira Allah akan memberikan begitu saja. Acara2 resmi selalu menyertakan doa yang kadang terlalu panjang, seakan kita sudah melakukan hal yang hebat. Tidak dapat kerjaan? Doa. Tidak dapat pasangan hidup? Doa. Tidak mampu memenangkan pertandingan? Doa. Tidak panen? Doa.

3. WHEN THE TOUGH GETS GOING, HAVE SABR. (ketika ada kesulitan kita diminta sabar). Jika ada tantangan kita selalu diminta sabar, sabar dalam arti pasif tanpa melakukan usaha-usaha, terobosan-terobosan untuk melakukan penemuan baru atau eksplorasi yang sungguh-sungguh. Dengan sabar dikira kita sudah melakukan perintah Tuhan

.4. RIGHTEOUSNESS = ACTS OF WORSHIP (kebaikan/keshalehan diidentikkan dengan menyembah Tuhan) Kebaikan sering disalahartikan hanya sebagai ibadah2 ritual: sholat, ngaji, puasa. Jarang digaungkan bahwa kebaikan justru berupa amalan sosial yang membuat orang lain mendapatkan manfaat. Kita asyik menghabiskan waktu untuk hal-hal yang sifatnya ritual. Anas bin Malik (r): “Jika seorang Muslim menanam tanaman apa pun dan manusia atau binatang memakannya, diaakan diberi pahala seperti yang telah dia sedekahkan”. (Bukhori)

5. IT’S ALL WRITTEN (semua sudah tertulis, semua sudah digariskan, sudah ditakdirkan)Ini yang berbahaya. Dengan pengertian begitu, sering kita menganggap buat apa kita repot-repot kerja keras? Buat apa kita repot2 menemukan teknologi? Buat apa kita merubah nasib dengan bersekolah dan bekerja keras?

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed