Gibran

Buah yang belum terlalu matang itu ingin segera dipanen.

Tahun 2024 diagendakan maju pilgub demi merebut DKI yang dianggap telah jatuh pada tangan tak tepat dan tuntutan berikutnya yang juga pasti akan menyusulnya sebagai akibat logis eforia bila benar DKI dimenangkan, tahun 2029 maju dalam pilpres.

Gibran harus kita percaya sebagai buah yang baik atas akibat pohon yang baik. Membiarkan buah itu matang di pohon adalah pilihan bijak banyak petani yang mengerti akan kualitas dan harga maksimal didapat.

Memaksanya dengan membuatnya menjadi cepat matang adalah cara pedagang demi untung sesaat, bukan petani yang menanamnya.

Pilihan itu ada pada rakyat. Dia yang matang karena diperam atau alamiah di atas pohon adalah tentang pilihan dengan maksud. Bukan tentang Gibran ingin.

Membayangkan pada 2029 dia terpilih menjadi Presiden pada umur 42 tahun, bila 2 periode dia menjabat maka umur 52 tahun dia sudah akan pensiun. 

Kita semua terlibat dalam cara menjebaknya menjadi pribadi tak bahagia. Secara psikologis itu pasti tak baik. Kita bisa saja berdebat panjang lebar dengan banyak dalil, tapi merasa tak lagi ada jabatan lebih tinggi lagi dapat dikejar pada umur 52 tahun pasti sesuatu banget.

“Kan bisa jadi penasehat Presiden misalnya?”

Sekali lagi, kita dapat berdebat panjang lebar bahkan dengan seabrek dalil yang pantas menurut kita.

Yang jelas, umur 52 tahun adalah umur pantas menjadi Panglima, bukan penasehat. Cari saja rujukan bukan menerka kita ambil demi benar debat kita paksakan.

Itu bukan tentang Gibran, itu tentang kita yang gamang tak memilik sandaran kokoh bagi asa yang tergerus. Itu juga tentang mentalitas kita yang harus kembali kita tengok kesehatannya.

Sama seperti ketika kita senang dengan buah duren dan karena kita memiliki kemewahan dapat terus membelinya, itu kita beli. Di sana mabok kita tuai bukan sensasi nikmat buah tersebut kita dapat. Kita hanya memenuhi rasa ingin bukan “butuh”.

Membiarkan buah matang di pohon dan sensasi sempurna atas rasa buah itu kita dapat adalah sama dengan membiarkan Gibran matang secara alamiah. 

Biarkan jalan panjang dan berliku dengan banyak batu sandungan menjadi medan tempurnya demi pribadi makin matang didapat.

Berikan kesempatan warga Solo mendapat manfaat atas hebat Gibran sebagai Walikota seperti bapaknya pernah. Warga Sololah sebagai pihak pertama yang sepantasnya menerima manfaat atas aset yang mereka simpan sejak lama.

RAHAYU

Sumber : Status Facebook Karto Bugel

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *