Konsumerisme Guru

Oleh : Iman Zanatul Haeri

Masa depan industri digital adalah dunia pendidikan. Prospeknya panjang dan mengikat. Kemudian Sistem Pendidikan Nasional diarahkan mempersiapkan pelajar agar mengisi pos-pos strategis industri digital. Niatnya mungkin baik. Padahal yang terjadi sebaliknya. Bukannya mengirim para pelajar untuk menguasai industri digital, Para pemain industri digital-lah yang telah masuk ke dunia pendidikan. Kadang kalau memikirkan ini, hidup jadi guru kok jadi ironis. Misal begini, kita mengajar siswa agar mereka siap untuk persaingan dunia digital. Perangkat belajar disiapkan dan lain sebagainya.

Cuma, baru saja kita melangkah, bukannya kita yang menghampiri industri digital, malah industri digital yang datang ke kelas kita. Mereka datang ke sekolah kita menawarkan efesiensi. Mereka menyediakan paket yang bahkan begitu rumit tapi kita terima sebagai usaha masuk ke industri digital. Pada level tertentu mereka mengatur pemikiran kita soal mengajar dan pendidikan secara luas. Ini sifatnya halus, tapi berdampak besar. Lambat laun kita terikat oleh paket-paket yang disediakan. kapasitas memori yang besar, perangkat pembelajaran dan tools-tools lainnya.

Tapi bukankah ini keniscayaan? Betul sekali. Tapi yang terjadi harusnya begini; Sekolah yang dipersiapkan bagi industri digital merupakan bengkel tertutup. Silahkan anda saksikan bagaimana kisah penemu zaman pencerahan hingga tokoh besar dalam industri digital; kebanyakan mereka melewati fase terasing dari dunia dan sibuk di bengkel tertutup. Inilah fase yang mesti disediakan sekolah. Ibarat sebuah produk, pasar ditempatkan di luar gedung sekolah. Sekolah adalah rumah bagi imajinasi dan inovasi.

Bukan malah menempatkan pasar kedalam sekolah dan mengintervensi pembelajaran di kelas. Bagaimana siswa bisa berinovasi kalau waktu yang mereka miliki habis untuk mengenal berbagai produk/paket pembelajaran digital?Ironinya sebagai guru, kita-lah agen marketing dari product knowlegde dari paket pembelajaran digital tersebut. Saya menyatakan ini bukan tanpa referensi. Ketika kunjungan ke Sekolah Robot di Seoul Korea Selatan 2019 silam, saya banyak bertanya kepada kepala sekolahnya. Ia menyatakan sekolah robotik ini sistem asrama.

Siswa tertutup 24 jam tinggal di sekolah. Setiap hari mereka kerjanya buat robot, dari yang paling kecil, atau sekedar mesin pembuat botol. Bagaimana dengan penggunaan gadget? Ia menyatakan “kami melarang siswa pake gadget,” namun, ia menambahkan, “disini siswa mempelajari mengembangkan sofware dan hardwarenya. Betul saja saya lihat beberapa gadget sedang dibongkar seperti ruang operasi. Lalu apakah siswa belajar dengan gadget? tidak.Apakah keseluruhan pembelajaran melibatkan perangkat digital? tidak. Sebab para siswa pembuat robot juga memerlukan kemampuan teknis untuk mengukur akurasi otomatisasi dari bagian-bagian mesin yang bergerak. Saat itu satu siswa sedang memperagakan robot laba-laba yang memiliki 6 kaki. Ia mengetesnya untuk mengangkat beban tubuh manusia yang dibagian tengahnya cukup untuk kita berdiri. Sesekali ia mengecek bagian kaki melalui alat sofware dan hardware.

Pelajar itu kadang masih membutuhkan kertas dan pulpen untuk mencatatat beberapa kekurangan yang mereka miliki. Oleh sebab itu, saya mempertanyakan mengapa kita menerima berjubel paket pembelajaran digital sementara ruang untuk bereksperimentasi semakin sempit? Mengapa guru mendapatkan berjubel pelatihan yang merupakan varian dari product knowledge suatu paket pembelajaran digital? Pertanyaannya, kapan guru memiliki waktu untuk bereskperimen? Tentu itu tidak akan pernah terjadi. Sebab industri digital telah sah masuk ke dalam sekolah. Mereka menempatkan guru sebagai konsumen aktif.

Mereka tidak akan memberi kita waktu luang melalui jadwal webinar yang menumpuk. Semua produk akan digelontorkan begitu banyak bahkan melebihi–ini ironinya–kapasitas memori rata-rata yang dimiliki guru di negeri ini. Jika kita memiliki ram kecil, mereka menawarkan aplikasi dengan ram besar. Jika memori kita kecil, mereka menawarkan memori awan berbayar. Jika mereka menawarkan aplikasi gratis, maka tetap mensyaratkan ram dan memori perangkat kita yang besar. Mau tidak mau kita membelinya melalui gaji tidak seberapa.

Inilah yang disebut menempatkan pasar digital di sekolah. Industri digital yang ganas ini sudah masuk dalam kelas kita. Tidak ada lagi proses edukatif yang mengedepankan pendekatan filosofis. Saya pribadi termasuk memiliki privilige. Perangkat digital, gadget, laptop dan tablet yang saya miliki memiliki kapasitas rata-rata ke atas. Jadi kekhawatiran saya tidak mewakili kepentingan pribadi. Tentu mudah untuk sekedar menyelamatkan diri. Tapi ini adalah ancaman masal untuk semua guru yang didorong untuk maju oleh perubahan zaman dan malah mengapresiasi tindakan pemerintah yang membantu mereka dengan beragam program pelatihan.

Dengan polos mereka percaya beragam pelatihan ini berfungsi agar para guru bisa melahirkan siswa-siswi yang siap menghadapi industri digital. Para guru dengan kepercayaan diri tinggi merasa sedang melahirkan produk-produk terbaik, kenyataannya, mereka para guru, adalah konsumen dan produk itu sendiri secara sekaligus.

Sumber : Status Facebook Iman Zanatul Haeri

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *