by

Sejarah, Biologi dan Kebodohan

Oleh : Iman Zanatul Haeri

Sapiens, karya Y Noah Harari merupakan satu keindahan pertemuan antara sejarah dan biologi. Dalam pertemuan keilmuan ini, sejarah bisa menjelaskan masa lalu gen, dan biologi bisa melakukan intervensi terhadap teori sejarah. Hubungan gizi, kecerdasan dan kesuksesan manusia mengawali peradaban, hingga melahirkan sistem sosial dan politik yang rumit adalah buah dari pertemuan dua keilmuan ini. Baik yang sifatnya mikro maupun makro. Penjelasan yang renyah akan bioteknologi, teknologi nano, dan masa depan manusia berdampingan dengan Artificial Intelejen hanya mungkin, apabila, orang seperti Harari berangkat dari keilmuan Sejarah dan Biologi.

Sangat disayangkan, pendidikan di Indonesia tidak memungkinkan kedua keilmuan tersebut bertemu. Lulusan eksak, yang didalamnya biologi malah paling religius dan anti terhadap teori evolusi dan turunananya. Apa yang mereka pelajari tentang alam hanya dimaksudkan bagi penguatan iman seperti Era Thomas Aquinas. Seolah-olah biologi adalah sesuatu yang terpisah dari tubuhnya. Jika saja mereka menilik teori sejarah, mereka akan faham bahwa dalam perubahan dunia, kita juga ikut berubah. Karena kita hidup di dalamnya.

Sementara itu sulit bagi ilmu sejarah melahirkan filsuf-filsuf sejarah karena sejarawan fokus pada pekerjaan elementer— seperti kata Peter Burke—kolektor benda antik. Oleh karena kemiskinan filsafat sejarah, para sejarawan terjebak pada situasi pekerjaan sehari-hari yang biasa dilakukan para pencatat dokumen kerajaan pada dinasti Tang. Data sejarah melimpah, tapi tidak satupun bicara pikiran. Semuanya kolosal dan penuh pujian klise. Walhasil satu-satunya tempat paling aman bagi sejarah adalah mencatat prestasi politik, berdebat tentang siapa yang lebih pahlawan dari yang lain sementara pekerjaan metodologis hangus oleh mekanisme anggaran negara pertahun.

Lahirlah kamus sejarah yang kontroversial itu. Dengan demikian, pertemuan sejarah dengan biologi makin jauh. Bahkan sejak SMA, mapel sejarah yang spesifik berpotensi menjalin relasi dengan biologi, malah dihapuskan. Namanya sejarah peminatan. Mereka yang memilih jurusan IPA mestinya perlu mendapatkan pelajaran sejarah yang relate dengan, misal, biologi. Saya kurang setuji jika mereka justru dijejali sejarah Indonesia yang muatan ideologisnya paling tinggi, sementara mereka, anak IPA kehilangan kesempatan mengenal Darwin, Wallace dan Biomimikri.

Sementara sejarah di ilmu sosial-kan padahal jarak kelahirannya, antara ilmu sosial dan sejarah lebih dari 3.000 tahun. Entah siapa yang membalikan keadaan, kini sejarah bagian dari ilmu sosial. Jika kita semua sepakat, Harari berhasil memberikan gambaran dunia yang lebih luas, maka diperlukan pertemuan antara sejarah dan biologi. Entah sejak masa sekolah atau universitas. Yang jelas kita sedang berada dipersimpangan paling parah. Munculnya Ahli biologi yang tidak percaya virus, dan guru sejarah yang tidak percaya manusia purba hanya karena bertentangan dengan Iman, merupakan bukti persimpangan tersebut. Entah apakah kita butuh 3.000 tahun lagi untuk menyadari kegagalan kita hari ini. Angka ini psti ditolak kaum kiamat sudah dekat yang menunggu Imam Mahdi. Padahl1.500 tahun yang lalu, ibnu Khaldun, lebih tepatnya memaki kaum penunggu Imam Mahdi ini.

Sejarah berhasil menunjukan kebodohan masa lalu, dan biologi harusnya bisa bersuara lantang bahwa kiamat yang paling rasionalAdalah karena kerusakan Lingkungan.

Sumber : Status Facebook Iman Zanatul Haeri

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed