by

BTS dan Pendidikan

Oleh : Rizqy Rahmat Hani

Saat pertama kali McDonald’s merilis produk kolaborasi mereka dengan BTS, salah satu boy band asal Korea, penerimaan masyarakat Indonesia sungguh luar biasa. Para Army (sebutan penggemar BTS) menyerbu gerai-gerai McD dimana-mana. Banyak pemberitaan mengenai ini.Pertanyaan yang mungkin timbul adalah mengapa kolaborasi antara McDonald’s dan BTS bisa seheboh ini? Dan mengapa hal itu kadang menjadi terbalik ketika anak/murid diminta belajar? Mengapa tidak seantusias itu?

Coba kita cari tahu, mengapa strategi marketing McD bisa diterima oleh Army?

1. McD menduplikasi Marketing Khas K-Pop yaitu mengumumkan jadwal rilis dari tiap rangkaian promosi.

2. Balasan Tweet McD yang relate banget dengan penggemar BTS. I Purple You.

3. Menggunakan tagar khusus untuk kampanye kolaborasi ini #BTSMeal

Untuk melakukan strategi marketing seperti itu, McD perlu melakukan riset, mencari tahu kebiasaan Army, yang menjadi kesenangan Army.Lalu coba kita bandingkan dengan guru yang akan merancang strategi pembelajaran, membuat media ajar, menentukan asesmen, dsb. Apakah guru melakukan apa yang seperti McD lakukan?

Seperti inilah kira-kira proses selama ini di kebanyakan guru (saya dulu juga sering gini) ketika menentukan sesuatu untuk murid :

1. Mencari Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar yang akan diajarkan.

2. Mencari materi pembelajaran sesuai KD di buku paket, LKS atau sumber belajar lain.

3. Setelah itu baru merancang pembelajaran, atau membuat media belajar atau menentukan asesmen yang akan digunakan.

4. Terakhir, menerapkannya kepada murid.

Sebenarnya tidak hanya McD saja. Banyak perusahaan Game, atau pembuat produk yang ditujukan kepada anak-anak/murid yang selalu melakukan riset terlebih dahulu sebelum membuat produk. Bahkan sebelum di-publish biasanya dilakukan percobaan terlebih dahulu, jika kurang efektif, akan diperbaiki lagi. Dapat umpan balik, terus refleksi untuk menjadi lebih baik.

Bandingkan dengan pembelajaran? Melakukan riset, bahkan tidak pernah. Jika pembelajaran kurang berhasil, selalu yang disalahkan muridnya, tidak mau refleksi dan mencari cara agar pembelajaran lebih baik lagi.Jadi jangan salahkan murid-murid jika lebih antusias kepada BTS, daripada belajar.

Saya dulu juga seperti itu Bapak, Ibu. Namun mulai berubah, mulai berbenah untuk bisa lebih memahami murid. Salah satunya mulai menggunakan Asesmen Diagnosis. Mau belajar Asesmen Diagnosis? Silahkan bisa lihat cara-caranya di postingan ini : https://www.instagram.com/p/CJpF0W7Dw33/

Sumber tulisan :1. Instagram.com/rizqyrahmat2. Instagram.com/Inspigo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed