by

Benturan Budaya dan Agama

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Saat kecil jika kami dapat wewehan atau ada tetangga yang ater2, berbahagialah kami. Ada nasi sambel goreng, wajik, rangin, lapis, telor, potongan daging ayam, moto kebo , cara bikan, carang gesing dan berbagai makanan lain. Tergantung juga tetangga punya hajat apa, mantenan atau syukuran bayi. Tergantung juga siapa yang punya hajat. Kadang nasi dengan urap dan panganan. Itu cara bersyukurnya orang Jawa, masyarakat agraris. Saya yakin itu sudah berlangsung puluhan atau ratusan tahun.

Memasuki paruh 90an akhir, mulai ada budaya aqiqah mengganti budaya ater-ater khas masyarakat agraris. Syukuran berganti dengan menyembelih kambing dan ditentukan jumlahnya, laki2 2 ekor, perempuan 1 ekor. Dari budaya arab ini, laki2 memang dianggap superior. Dalam tradisi ater2 jawa, tidak ada bedanya anak laki atau perempuan, kandungan ater2nya sama, tergantung kemampuan ekonomi. Memasuki paruh tahun 90an akhir juga mulai bergeser tradisi buka puasa memasukkan kurma sebagai makanan penting pembuka buka puasa. Sebelum itu cukup kolak pisang, yang manis.

Tidak hanya itu, mulai banyak remaja putri, gadis, emak2, mulai mengganti cara berpakaian. Yang dulunya rambut terbuka, pakai rok hingga sedikit dibawah lutut, lalu mulai menutup rambut dan hampir sekujur tubuh kecuali tangan dan muka.Mulai semarak ibadah haji dan umroh juga setelah tahun 2000an. Agama dan budaya memang selalu berubah dinamis. Ada faktor lain yang sangat berperan, kemampuan ekonomi. Orang tua pada umumnya di Indonesia hingga 90an awal hidup dalam kondisi pas-pasan atau malah dibilang susah. Fokus hidup masih pada mencari nafkah, mengatur makan agar bisa reguler dan cukup bergizi.

Seiring kemampuan ekonomi yang makin meningkat, orang mulai mencari gaya hidup baru: mengirim anak ke sekolah2 berbasis agama, mengundang guru ngaji, semakin rajin ikut pengajian. Mahasiswanya pun begitu. Dulu berjuang hidup agar sambil kuliah bisa bertahan. Lalu seiring perbaikan ekonomi, mahasiswa mulai ikut aktif dalam kegiatan keagamaan.

Mesjid-mesjid yang dulu mengikuti gaya arsitektur lokal, juga bergeser jadi seragam, hampir semua pakai kubah besar berwarna hijau. Seakan kalau belum kerkubah belum ‘valid’ sebagai mesjid. Orientasi hidup karena ekonomi membaik, jadi lebih fokus ke hidup sesudah mati. Meski tidak semua masyarakat tetapi itu cukup dominan. Ya praktek keagamaan selalu terkait dengan budaya. Mungkin ke depan kurban kambing atau sapi menjadi kurang afdol dan harus diganti unta. Bisa saja. Semua tergantung pada ajaran apa yang sering didengungkan oleh para pendakwah agama. Zakat beras mungkin akan harus diganti kurma atau gandum. Karena dulu aslinya memang bukan beras. Bisa saja. Karena tafsir ajaran sifatnya dinamis dan sangat dipengaruhi faktor ekonomi. Semakin tinggi tingkat kesulitan melakukannya akan bisa dinggap semakin afdol.

Contoh aqiqah dan budaya kurma sebagai buktinya.Alasan itu ajaran atau ada dalilnya akan sangat kuat mempengaruhi ketaatan masyarakat. Menarik untuk berandai2 jika saja dulu agama turunnya di Indonesia. Semua pasti berubah. Nama baptis juga tidak harus berakhir dengan ‘us’ . Tuhan pasti tidak geographical centris, tetapi global, universal.Coba lihat grafik Dunning Kruger Effect tapi ganti sumbu x menjadi pemahaman agama/budaya dan sumbu y tetap tingkat confidence. Mungkin masyarakat kita sedang di puncak confidence meski pemahamannya masih rendah

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed