by

PAN-PKS Pun Senang

Oleh: Budi Setiawan

Masuknya PAN ke kubu pemerintahan adalah keniscayaan dalam politik praktis yang selalu pragmatis.

Sama kayak orang yang susah cari pertolongan. Pasti rumah besar atau orang besar yang mereka datangi.

PAN mengikuti jejak PPP untuk menghindarkan diri mereka dari degradasi yang memaksa mereka hanya bisa bertanding dan menempatkan wakilnya di Liga kampung dengan koalisi sana-sini.

Yang tidak mengandalkan ideologi partai tapi kharisma dan koneksi.
Itulah yang selalu menimpa partai berduit cekak yang tidak pernah solid akibat kepemimpinannya yang lemah. Partai kayak gini tidak tahan banting.

Jadi tidak heran jika ketika dibanting kadernya melenting. Pindah ke partai lain. Atau sang kader melakukan aksi pansos mencoba menjadi influencret dengan cita-cita menjadi YouTuber kaya seperti Deddy Cosbuzzer.

Simptom patah ketika digoyang tidak dimiliki oleh PKS.

Mesti digoyang sana sini termasuk ketika ketuanya terjungkal karena korupsi daging sapi, PKS tidak pingsan.

Malahan berkibar dan terus menanjak. Tidak hanya di Liga nasional. Namun di Liga propinsi dan kabupaten kota.

Ini semua disebabkan karena PKS adalah partai kader. Setia pada ideologi Islam mereka. Kadernya pun militan dan terus menggaet dan menangguk ceruk pendukung Islam dan anti pemerintah.
Tipe militan ini terus bergerak tanpa henti.

Setiap hujatan yang ditujukan ke PKS justru digunakan untuk merekrut golongan Islam yang merasa agamanya didzolimi.
Yang marah dikatakan kadrun, Taliban, teroris , radikal dan seterusnya.

Kelompok ini merasa ada upaya sistematis dengan dana dan proyek besar agar suara mereka dibungkam dengan label kadrun.
PKS mengambil ceruk suara ini. Lewat WAG dan saluran medsos terbatas.

Limpahan ghirah itu dapat ditemukan pada postingan pahaman Islam konservatif di WAG atau Facebook.
Termasuk WAG Anda.
Betul tidak?

Dan Anda mendiamkan..
Betul tidak?

Dan mereka yang posting kayak begitu merasa postingannya bermanfaat. Jadi postingan itu terus ada, meski Anda sebel.
Betul tidak?

Karena itu, meski jumlah mereka tidak sebanyak pendukung pak Jokowi, namun mengalirnya dukungan ke PKS akan semakin besar dan signifikan.

Hingga bukannya tidak mungkin, PKS berada di empat besar di klasemen Liga nasional, namun nomor satu atau nomor dua di liga kampung.

Jauh melampaui PAN atau PPP yang berharap beroleh suara sebagai imbalan menjadi pasukan hore.

Bahkan prosentase kenaikan suara PKS bisa melampaui PDI P yang diramalkan memasuki “masa-masa sulit” menjelang tahun 2024.

Partai moncong ini harus bekerja ekstra keras karena payung Jokowi yang lebar bakal segera ditutup. Dan PDI P kepanasan dan kehujanan karena harus keluar dari zona aman.

Partai ini naik suaranya bukan karena kaderisasi. Namun lebih karena faktor Jokowi yang terus memberi kontribusi selama kurang lebih 12 tahun ketika beliau menjadi walikota, gubernur dan Presiden.

Jangan lupa, PDI P cuma jadi tukang stempel karena desakan endoser agar pak Jokowi naik tahta.

Adalah pak Jusuf Kalla yang angkat pak Jokowi bertanding di liga nasional. Yang disetujui pak Prabowo. Dan bu Mega anggukan kepala saja.

Jadi, setelah pak Jokowi lengser apa yang diandalkan PDIP?

Puan? Ganjar?
Halah…

PKS diyakini sudah menghitung konstelasi ini. Dia akan terus ” menyampah” di media sosial untuk menangguk dukungan sekaligus juga mengurangi kekuatan partai lain.
Sudah dipastikan, mereka yang tidak suka dengan model kabinet cendol dawet Jokowi bakal golput.

Yang Islam, dukung PKS.

Mereka tidak gubris Partai Demokrat yang tampil sebagai partai priyayi menye-menye yang makin lama bikin muntah. Herannya, masih ada yang doyan merampoknya.

Konstelasi ini sangat menguntungkan PKS karena suara golput justru memberi kesempatan bagi mereka untuk menempatkan wakil-wakilnya di parlemen daerah.

Sistem perhitungan suara pemilu kita memungkinkan suara golput justru menguntungkan ketimbang merugikan partai.

Yang memperbesar peluang PKS merebut kursi parlemen disemua jenjang.
Jika sudah begini, semua partai juga akan memohon-mohon ke PKS agar bisa meraih suara Islam di daerah manapun.

Jadi jangan heran, cacian Anda sekalian tentang PKS dan bangganya Anda teriak kodran-kadrun, justru makin mendekatkan bangsa ini pada sistem politik syariah yang dimulai dari kabupaten/kota.

Yang segera melanda Indonesia setelah 2024.
Karena kita membiarkan PKS dengan riang gembira mendulang suara Islam.
Sendirian..

(Sumber: Facebook Budi Setiawan)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed