by

Balada Peter Gontha

Oleh: Erizeli Bandaro

Peter Gontha (PG) mewakili pemegang saham 28% dari Chaerul Tanjung. Sebetulnya niat pemerintah SBY menawarkan saham kepada CT karena kekaguman SBY kepada seorang CT yang fenomenal.

Bayangin aja dia eksis di tengah persaingan bisnis konglomerat yang mayoritas etnis China. SBY pun sampai mempercayakan jabatan Menko Perekekonomian kepada CT. Dipercaya jadi penentu negosiasi bagi kelangasungan Freeport, yang kelak jadi bikin repot bagi Jokowi untuk menuntaskan divestasi saham FI.

SBY tentu berharap dengan masuknya CT dalam struktur pemegang saham Garuda, bisa memperbaiki atmosfir dan budaya management Garuda Indonesia. Sebaliknya tampa kepercayaan penuh CT kepada SBY tidak mungkin CT mau ambil resiko menjadi pemegang saham.

Semua memang dasarnya adalah Politik. Jadi jangan bicara soal laba rugi. Ini untuk kepentingan nasional. Kalau belakangan PG bilang CT rugi sebesar Rp. 11 triliun, itu juga wajar.

Di balik politik pasti ada hitungan strategis. Engga mungkinlah, CT mau jadi pecundang.Di era SBY, CT juga akuisisi saham Carefour. Pada 16 April 2010, CT mengumumkan menguasai 40 persen kepemilikan saham di PT Carrefour Indonesia senilai USD300 juta yang selanjutnya menjadi PT Trans Retail Indonesia.

CT pun mendapat gelontoran utang dari konsorsium bank-bank asing seperti Credit Suisse dan Citi Bank. Dua tahun kemudian, CT akhirnya membeli seluruh saham Carrefour Indonesia. Resmi pada 19 November 2012, Trans Retail menggenapkan akuisisi 100 persen saham Carrefour Indonesia dengan membeli sisa 60 persen saham senilai USD750 juta.

Apa ada yang cerita bagaimana proses akuisisi Carefour itu? dan siapa yang mendukung CT sehingga dipercaya menarik hutang dari konsorsium bank sebesar puluhan triliun dan akhirnya menempatkan CT menjadi salah satu orang terkaya dengan asset sebesar Rp. 54 triliun.

Tanpa dukungan Politik sulit itu tidak bisa terjadi. CT tempatkan PG sebagai Preskom Garuda karena percaya dengan kemampuan dan visi PG. Tentu PG punya kemampuan memperbaiki Garuda dengan visi bisnisnya.

Ternyata PG tidak punya solusi hebat kecuali berharap agar pemerintah bertanggung jawab secara politik terhadap GI. Sementara Jokowi maunya masalah GI diselesaikan secara bisnis, bukan politik.

Kalau mau pemerintah tambah modal, ya CT juga keluar modal. ya keluar modal bareng bareng. Atau kalau engga, CT harus delusi. Problemnya di sana saja. Tapi solusi pemerintah dianggap tidak fair.

Maunya gimana? Solusi politik? Bailout kerugian Garuda? Ya Udin se-Indonesia pasti teriak.

Dia aja dagang sempak rugi engga ada pemerintah bantu.

(Sumber: Facebook DDB)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed