by

Menjadi Bodoh karena Beragama

Oleh: Satria Dharma

Pesan Ibnu Rusyd, “Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkus yang batil dengan agama” rasanya perlu dikoreksi sedikit. Saat ini bukan hanya orang bodoh yang bisa ditipu dengan bungkus agama tapi bahkan orang-orang pintar. Banyak orang-orang pintar akhirnya menjadi bodoh hanya karena tertipu oleh bungkus agama.

Saya punya beberapa bukti untuk itu tapi saya beri satu saja contoh yang sangat fenomenal belakangan ini, yaitu ketika orang yang sebenarnya pintar, cerdas, dan mampu berpikir mandiri tiba-tiba menganggap minum kencing onta sebagai sebuah ajaran agama berdasarkan hadist yang ia baca. Mereka berhenti menggunakan akalnya dan menyerahkan sepenuhnya pertimbangannya pada hadist tentang pernahnya nabi menyuruh seseorang minum air kencing onta sehingga sembuh. Mereka menganggap bahwa mempercayai hal tersebut dan ikut meminum air kencing onta adalah sebuah bentuk ketaatan pada agama. Ya, Allah…!

Sebenarnya ada contoh yang jauh lebih mencolok mata betapa agama telah membutakan mata bahkan orang-orang muslim yang pintar. Saat ini banyak sekali muslim cerdas, berpendidikan tinggi, dan bahkan memiliki gelar professor yang tiba-tiba tertarik pada ajakan untuk mendirikan kehilafahan ala Tahririyah yang jelas-jelas konyol, tidak masuk akal, dan bahkan membahayakan kehidupan berbangsa kita. Tapi karena ide kekhilafahan ala Hizbut Tahrir ini dibungkus dengan kemasan agama yang sangat indah, ditempeli dengan beberapa ayat Alqur’an dengan narasi yang sangat persuasif, maka tiba-tiba orang-orang pintar pun terkecoh dan terbuai. Mereka menganggap mendirikan kekhilafahan ala tahririyah tersebut sebagai ajaran agama dan bahkan mereka anggap sebagai perintah Tuhan.Mengapa ini bisa terjadi…?!

Karena agama memang BISA membuat pengikutnya BERHENTI BERPIKIR.Banyak sekali hal yang bisa membuat orang-orang pintar bergelar professor dan lulusan luar negeri tiba-tiba menghentikan otaknya untuk berpikir jika sesuatu sudah ditempeli dengan label agama. Saya seringkali merasa sangat heran ketika beberapa orang yang jelas-jelas bergelar professor doktor yang bahkan lulusan luar negeri tiba-tiba mengeluarkan dan menyebarkan pendapat yang sangat illogic di berbagai medsos hanya karena pendapat tersebut menggunakan kemasan agama. Where’s your logic, bro? Kok bisa-bisanya sesuatu yang really dumb dipercaya dan disebarluaskan hanya karena dikemas dengan ajaran agama. Kemana semua hasil pendidikanmu selama ini?

Hanya karena di Alqur’an ada disebutkan kata ‘khilafah’ lalu pemerintahan sesudah Nabi disebut sebagai sistem khilafah maka diraciklah pemikiran bahwa agama menganjurkan, dan bahkan mewajibkan, umatnya untuk menggunakan sebuah sistem kepemerintahan ala kekhilafahan tahririyah.

Padahal tidak ada sama sekali Alquran bicara atau menganjurkan sebuah sistem kepemerintahan apa pun pada ayat-ayat tersebut. Nabi Muhammad bahkan TIDAK PERNAH memberi mandat kepada siapa pun sahabatnya untuk mendirikan kekhilafahan atau menjadi khalifah sepeninggal beliau. Ajaran Islam itu tentang MORAL DAN AKHLAK dan tidak ada sama sekali mengajarkan untuk mendirikan negara atau menerapkan sebuah sistem kepemerintahan tertentu. Apa yang dilakukan oleh para sahabat dengan mendirikan khilafah adalah ijtihad dan hasil pemikiran mereka sendiri. Kalau pun kita mau menyebutnya maka semestinya kita menyebutnya sebagai ‘Sistem Kekhilafahan Abu Bakar’, ‘Sistem Kekhilafahan Umar bin Khattab’, ‘Sistem Kekhilafahan Muawiyah’, ‘Sistem Kekhilafahan Turki Usmani’, dst.

Tapi semua itu BUKANLAH AJARAN AGAMA melainkan ijtihad dan kreatifitas pemikiran mereka sendiri. Tidak bisa disebut bahwa apa yang mereka lakukan adalah AJARAN ISLAM, apalagi kalau sampai kita mewajibkannya dengan mengatasnamakan agama.Lalu darimana nalarnya para pengasong khilafah yang merasa terinspirasi untuk menegakkan kekhilafahan Islam di negara di mana ia tinggal. Mengapa mereka menganggap bahwa mendirikan sebuah kepemerintahan ala Hizbut Tahrir sebagai ajaran Islam? Sakjane AJARAN ISLAM atau AJARAN AGAMA itu apa sih yang ada dalam benak mereka…?!

Umat Islam saat ini benar-benar dirusak dan dicekoki oleh pemikiran-pemikiran yang sangat halusinatif, out of date, dan destruktif, alih-alih konstruktif dan progresif. Lha wong sistem khilafah ala Tahririyah yang di negara asalnya sendiri GAGAL TOTAL dan DILARANG kok malah dibawa ke negara kita yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur ini…! Ustad, ulama, kyai, cendekiawan macam apakah mereka kok berpikirnya begitu halusinatif, mundur, dan destruktif seperti itu? Atau memang mereka menghentikan kerja otak mereka ketika sesuatu sudah diberi label agama?

Pertanyaannya, mengapa orang-orang pintar bisa berhenti menggunakakan otaknya ketika berhadapan dengan narasi-narasi keagamaan?Menurut saya itu terjadi karena agama memang kita pisahkan dari logika. Selama ini kita diajari beragama tanpa berpikir, dan bahkan dilarang berpikir, apalagi menggugat dan mempertanyakan segala hal yang sudah ditempeli dengan label agama. Kalian sami’na wa athokna atau kafir. Dan tentu saja umat Islam, bahkan yang pintar-pintar tersebut, tidak mau dan takut digolongkan kelompok kafir.

Mending ikut saja pada pendapat ulama, siapa pun itu dan betapa pun tidak masuk akalnya pendapatnya, selama dia masih mengaku bahwa pendapatnya itu berdasarkan Alqur’an dan hadist. Kalau sudah distempel berdasarkan Alqur’an dan hadist maka membebek semualah kita ini dan tidak pernah berani lagi memikirkannya, apatah lagi mempertanyakan dan menggugatnya.

Padahal dalam Alqur’an sendiri jelas-jelas kita diberi kisah tentang malaikat, yang jelas hidupnya hanyalah untuk beribadah pada Tuhan, yang toh mempertanyakan keputusan Tuhan untuk menjadikan Adam sebagai khalifah di bumi. Kok berani-beraninya malaikat menggugat Tuhan yang sudah pasti benar tersebut? Mengapa malaikat itu tidak sami’na wa athona langsung dan jangan pakai tanya dan mengugat Tuhan segala? ‘Malaikat bertanya dan menggugat karena ada yang tidak mereka pahami dari perintah tersebut, ada yang ganjil dan tidak masuk akal bagi mereka, dan mereka ingin mendapat penjelasan langsung dari Tuhan. Ketika Tuhan sudah memberi penjelasan maka berhentilah mereka mempertanyakan dan barulah mereka melakukan perintah sami’na wa atho’na tersebut.

Apakah para sahabat tidak pernah mempertanyakan keputusan, perintah, atau kebijaksanaan Nabi Muhammad selama menjadi umat Nabi? Tentu saja para sahabat juga sering mempertanyakan, menggugat, dan bahkan memberi pandangan-pandangan pribadi mereka yang mungkin bertentangan dengan perintah, keputusan, dan kebijakan Rasulullah. Dan itu biasa saja.

Tapi begitu keputusan dan kesepakatan bersama telah diambil maka mereka menjalankannya dengan penuh ketaatan. Mereka sami’na wa atho’na pada Nabi. Itu bukti bahwa sikap demokratis itu tidak bertentangan dengan sikap sami’na wa atho’na.Jangankan Nabi, bahkan Tuhan itu sangat demokratis meski pun terhadap manusia ciptaanNya.

Dalam beberapa permasalahan di mana Rasulullah dan para sahabatnya berbeda pendapat ternyata Tuhan justru membenarkan sahabat (dalam hal ini Umar). Contohnya adalah dalam hal penentuan nasib tawanan Perang Badar. Ketika Perang Badar Nabi saw mengajak sahabat-sahabatnya membahas masalah tawanan perang Badar. Abu Bakar mengusulkan agar umat islam meminta tebusan atas tawanan tersebut.

Sedangkan Umar mengusulkan agar para tawanan tersebut dibunuh karena kalau dibebaskan mereka akan kembali lagi memusuhi umat Islam. Semula Nabi menyetujui pendapat Abu Bakar yang mengusulkan mereka tidak dibunuh tapi dijadikan tebusan. Tetapi kemudian turun ayat yang membenarkan pendapat Umar sehingga turun ayat Al Anfal, 67. Bayangkan…!

Bahkan Tuhan lebih membenarkan pendapat Umar padahal Nabi sendiri lebih cenderung pada pendapat Abu Bakar!Ada beberapa ayat yang turun karena Umar. Sebagian ulama mengatakan bahwa pendapat-pendapat Umar yang sejalan dengan kehendak Allah berjumlah 14 masalah. Ini semua menunjukkan bahwa Allah dan Nabi tidaklah ‘sewenang-wenang’ dalam menetapkan aturan meski pun tentu saja Allah adalah Maha Berkuasa. Bahkan tidak selamanya Tuhan membenarkan pendapat NabiNya dan mengesampingkan pendapat sahabat Nabi yang hanya manusia biasa. Tuhan itu demokratis…!

Silakan baca tulisan saya di https://satriadharma.com/…/engkau-lebih-tahu-urusan…/

Satu hal yang sangat saya sedihkan dari umat Islam adalah pemahamannya yang keliru soal kisah-kisah perjuangan Nabi ketika mengajarkan Islam. Nabi dimusuhi oleh hampir semua orang di sekitarnya, termasuk dan terutama dari umat beragama lain seperti Yahudi dan Nasrani waktu itu. Kisah kebencian dan permusuhan ini terus diulang-ulang sehingga umat Islam memperoleh kesan bahwa semua umat Yahudi dan Nasrani itu membenci agama dan umat Islam sejak dulu sampai sekarang.

Padahal dalam Alquran juga dijelaskan bahwa tidak semua dari mereka memusuhi Islam. Tapi karena ayat-ayat kebencian dan permusuhan dari mereka yang terus diulang-ulang dan dibingkai ulang maka yang muncul dalam psikologi umat Islam bahwa umat lain SEMUA memusuhi Islam SAMPAI SEKARANG dan kita harus selalu waspada pada mereka. Kita tidak boleh mempercayai mereka apalagi bekerjasama dengan para ‘walan tardho’ tersebut.

Ayat-ayat jihad ala qital alias memerangi umat lain selalu didengung-dengungkan sehingga akhirnya kita selalu memusuhi umat lain karena kita menganggap bahwa itulah ajaran agama. Menurut saya itu semua adalah bentuk kebodohan karena kebatilan yang dibungkus dengan agama yang bahkan terus menerus disebarluaskan oleh orang pintar yang berhenti menggunakan akalnya dalam beragama.Sekian dulu uneg-uneg saya ini. Mohon maaf jika terlalu panjang dan sentilan saya pagi ini terasa seperti tendangan keras ke ulu hati.

(Sumber: Facebook Satria Dharma)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed