by

Kita Bisa Kena Virus di Mana Saja

Kedua, sedisiplin apa pun kita menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dengan orang lain, menjaga kesehatan tubuh, membaca banyak petunjuk dan panduan untuk tidak tertular virus, berdoa dalam setiap salat kita, tetap tidak ada jaminan bahwa kita tidak akan tertular.
Yang bisa kita lakukan hanyalah IKHTIAR. Soal apakah kita akan tertular atau tidak suatu saat itu adalah MISTERI. Para dokter dan tenaga kesehatan yang sudah demikian disiplin dan pahamnya akan virus ini saja masih juga jadi korban. Kita bukanlah perkecualian. Tidak peduli seberapa ketatnya kita menjaga jarak, seberapa sehatnya tubuh kita, seberapa mudanya usia kita, seberapa cerdasnya kita memahami virus ini dan penyebarannya, seberapa merasa dekatnya kita berhubungan dengan Tuhan, we are still no exception. Kalau Tuhan inginkan kita tertular ya kena juga.
Jadi bagaimana dong…?!
Ya tetaplah pakai masker. Tetaplah menjaga jarak dengan orang di lingkungan mana pun Anda berada. Tetaplah berolahraga meski hanya jalan kaki di kompleks. Tetaplah menjaga kebugaran dan stamina tubuh Anda. Tetaplah membatasi diri dari kegiatan bertemu dan berkumpul dengan banyak orang. Tetaplah menghindar berada dalam ruangan ber-AC bersama banyak orang. Tetaplah hindari nongkrong-nongkrong ngopi bareng teman sambil ketawa cekakakan. Tetaplah berdoa agar dihindari dari penyakit Covid 19 dan sejenisnya. Tetaplah tertawa dan bergembira dengan keluarga. Tetaplah mencintai istri Anda dengan sepenuh hati dan gembirakan hatinya. (Ini pesan sponsor). Tetaplah lakukan IKHTIAR TERBAIK yang bisa kita lakukan.
Lalu bagaimana kalau setelah kita melakukan semua IKHTIAR yang bisa kita lakukan dan ternyata kita masih terkena juga?
Kalau menggunakan istilah medis itu artinya kita TERINFEKSI.
Kalau menggunakan nuansa agama itu artinya TAKDIR ALLAH.
Kalau katanya orang Madigondo KOK YO NDILALAH
Kalau menggunakan istilahnya arek-arek Suroboyo itu artinya AWAKMU APES, BRO.
Tapi mau menggunakan istilah apa pun ya kita harus menerimanya dengan ikhlas. Mari kita menerima takdir kita dengan ikhlas dan tawakkal saja. Kita mungkin kena ringan saja. Sudah ketularan tapi meteges saja. Namanya juga OTG. Ya ini yang dibilang sama Sifu Terawan, “Gak usah kuatir. Nanti juga sembuh-sembuh sendiri.” Tapi bisa juga akibatnya parah dan bahkan MUNGKIN membawa ajal kita. Mungkin lho yo… Saya tidak menakut-nakuti. Yok opo maneh, Bro? Lha wis wayahe… Mosok kita mau ngajak gelut Malaikat Izroil. Ya gak mungkin menanglah kita.
Maksud saya gini lho…!
Kita harus selalu siap mental jika ternyata ada tetangga, keluarga, anak dan istri, atau bahkan DIRI KITA SENDIRI terpapar dan terinfeksi virus Corona ini. Kita memang akan melakukan IKHTIAR TERBAIK yang bisa kita lakukan. Tapi takdir Tuhan tetaplah bukan keputusan kita. Kalau kita dan keluarga luput dari virus ini ya ALHAMDULILLAH. Kalau terkena ya INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN. Segeralah berobat sebisa-bisanya dan mintalah pada Tuhan agar disembuhkan. Semoga saja bisa cepat sembuh seperti 70% penderita lainnya. Kemungkinan kita bisa sembuh itu cukup besar kok!
Tapi jika Tuhan menakdirkan kita masuk dalam golongan yang 30% ya kita terima saja. Terima saja ketentuan dari Tuhan ini dengan tetap berpikir positif dan ikhlas. Mari kita berpikir positif bahwa apa pun ketentuan Tuhan pada kita adalah SEBUAH KEBAIKAN bagi kita. Kalau pun Tuhan telah menetapkan habisnya riwayat hidup kita di dunia maka kita harus yakin bahwa Tuhan akan menyediakan kehidupan yang LEBIH BAIK di akhirat kelak.
Kita akan tetap melawan Covid 19 ini sekuat tenaga dan pikiran kita dan berharap memenangkan pertempuran. Tapi jika kita kalah maka mungkin kita perlu menghibur diri dengan mengutip kata-kata Nyai Ontosoroh pada Minke, “Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
Surabaya, 17 September 2020
Salam
(Sumber: Facebook Satria Dharma)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed