by

Kemana Para Punggawa 212 Saat Pagebluk Begini?

Oleh : Musrifah Ringgo

Belum lama ini kita dikejutkan oleh keluarga Akidi Tio yang menyumbangkan uang pribadi untuk penanganan covid hingga Rp 2 T. Jumlah yang sangat fantastis dan belum pernah terjadi bahkan mungkin didunia. Orang yang selama ini tidak dikenal publik Indonesia, entah sebagai politisi, pengusaha, pimpinan ormas bahkan konglomerat rupanya sanggup mendonasikan kekayaan yang luar biasa besarnya.

Dana sebesar itu bisa dibayangkan akan setara 2.000 buah bus scania (bus modern nan mewah), 80 rumah sakit apung ala dr Lie Darmawan, Hampir 75-80% APBD Kabupaten/Kota di Jawa Tengah, membangun 2-3 rumah sakit daerah Tipe A. Artinya donasi tersebut sangat luar biasa besarnya.

Akidi Tio, dari nama dan marga sudah jelas merupakat etnis Tionghoa. Dan bantuan ini menyentak kita semua. Lalu apa reaksi orang-orang terutama politisi, tokoh ormas, pengusaha hingga konglomerat yang selalu meributkan beberapa kebijakan pemerintah? Mana suara mantan Wapres Jusuf Kalla, mana suara Rizal Ramli mantan menteri yang selalu nyinyir, mana suara yang mengaku tokoh agama seperti Bakhtiar Nasir, Slamet Maarif, Eggi Sujana, Sobri Lubis, Yusuf Martak, Ihsan Tanjung, Alfian Tanjung, Din Syamsudin, Neno Warisman, Yahya Waloni, hingga Rizieq Shihab?

Mana suara politisi yang hanya mendengung mengeluhkan kebijakan pemerintah tapi tanpa pernah memberi solusi seperti Fachri Hamzah, Fadli Zon, AHY, MS Ka’ban, Fahira Idris, hingga Amien Rais? Pun yang katanya tokoh independent macam Rocky Gerung, Sudirman Said, Refly Harun hingga ichsanudin Noorsy mana kontribusi kalian atas pandemic saat ini? Coba apa yang kalian lakukan agar masyarakat terbantu?

Dibanyak daerah, muncul Gerakan sesama masyarakat kecil bersedia membantu meski hanya sembako, makan pagi, makan siang, obat, masker, sayur gratis dan lain sebagainya. Pemerintah juga selain menggratiskan vaksin, memberi obat-obatan bagi yang isoman, memberi insentif pada nakes yang merawat pasien covid bahkan membebaskan semua biaya penderita covid. Jangankan membantu, mereka malah justru menambah ruwet soal pandemi ini. Contoh sederhana bagaimana Ihsanudin Noorsy pernah menyampaikan deteksi suhu melalui termogun harus dilakukan ditangan karena ada radiasi infra merah, Alfian Tanjung menyampaikan covid merupakan kerjaan kaum Yahudi, Ihsan Tanjung berceramah bahwa vaksin hanya dalih menancapkan chip di otak dan beragam sesat pikir lainnya.

Akibatnya pekerjaan pemerintah, nakes, pimpinan wilayah bertambah akibat masyarakat yang ngeyel, tidak percaya covid, tidak mau divaksin, tidak menggunakan masker dan beragam konflik horizontal lain. Rasanya baru kemarin gema 212 berasa sok-sokan paling mengerti negara ini tapi kemana mereka saat ini? Mengapa mereka hanya menyibukkan jika urusan terkait politik atau kekuasaan saja? Mengapa mereka tidak merasa harus melindungi umat mereka?

Rakyat terutama masyarakat muslim mestinya faham, mengerti, tahu bahwa aksi-aksi berdalih agama hanya kedok belaka. Mereka sejatinya hanya mengolah isu publik hanya demi nafsu syahwat mereka belaka yakni kekuasaan. Percayalah, mereka tidak ada sedikitpun memikirkan umat apalagi agama. Isu-isu yang selama ini mereka angkat hanyalah demi materi atau uang saja. Selama ini mereka tidak tahu ap aitu Islam yang sejati, bagaimana memperjuangkan Islam, bagaimana membesarkan Islam dibumi nusantara ini. Kita jangan sampai tertipu Kembali dengan mereka. Catat nama dan ingat wajah mereka. Jangan lagi mereka membodohi kita dimasa depan terutama saat tahun politik di 2024.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed