by

Membuka Warisan Christianto Wibisono

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Pada umur 100 hari hari, dia selamat dari pemboman Sekutu di Zaman Jepang, yang membakar dapur rumah. Tapi ia beruntung masih bisa kembali ke rumahnya. Pada zaman Soeharto, dua cucunya nyaris tewas oleh “bom teror” rezim Orde Baru yang menembaki mahasiswa dan membiarkan penjarahan, pembakaran, pembunuhan, dan pemerkosaan selama 3 hari (13-15 Mei 1998). Dia pun memboyong keluarganya yang selamat ke Amerika.
Christianto Wibisono (1945 – 2021) yang kemudian kita kenal sebagai aktifis 66, jurnalis, kolumnis, pendiri Data Bisnis Indonesia (PDBI), diminta kembali dan diiming imingnya jabatan menteri ekuin, setelah mensukseskan lobi pemerintah Indonesia dan Amerika di era Bill Clinton. Namun jabatan itu tak pernah dipegangnya. Dia menolak atas nasehat putrinya.

Dia lahir di Semarang dengan nama Oey Kian Kok dari pasangan Oey Koan Gwe dan Lo Tjoan Nio, generasi Tionghoa peranakan yang tidak lagi berbahasa Cina melainkan Belanda, Indonesia, dan Jawa. Christianto melewatkan pendidikan dasar dan menengah di perguruan Katolik; Xaverius, Domenico Savio, dan Kolose Loyola – semuanya di Semarang. Pindah ke Jakarta ketika diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (FHIPK) pada tahun 1964.

Berjumpa Nono Makarim dan melalui testing mengarang esei, ia menjadi aktivitas Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia. Sejak itu hobi dan karier serta profesi menyatu dalam dirinya yang selama 4 tahun menjadi anggota Redaksi Harian KAMI dari 1966-1970.

Maret 1978, menjelang Sidang Umum MPR di Jakarta, bukunya yang melegenda, Wawancara Imajiner dengan Bung Karno diberedel oleh Soeharto bersama Buku Putih Mahasiswa dan tujuh surat kabar termasuk Kompas.

Setelah 35 tahun terbit dan 42 tahun sejak Bung Karno wafat, dan 111 tahun sejak kelahirannya buku itu diperbaharui. Soeharto pun sudah lengser dengan status mirip dan kualitas yang lebih ringan daripada penderitaan Bung Karno.

Melalui komunikasi emosional dan interaksi intelektual, penulis kembali melakukan wawancara dengan Bung Karno terkait pelbagai topik menarik yang relevan dengan tantangan yang dihadapi nation state Indonesia dalam percaturan dan transformasi geopolitik abad ke-21. Itulah warisan Christianto Wibisono untuk kita, para kaum terpelajar Indonesia.

Christianto Wibisono – yang bersama sama Goenawan Mohamad mendirikan majalah TEMPO – juga menulis tentang “Kencan dengan Karma”. Tesis utama buku: “The Golden Rule of Karma” masih sangat valid dan relevan, terutama bagi elite politik di Indonesia saat ini.

Menurutnya, buku ini selesai ditulis 18 Maret 2019, bertepatan dengan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia, saat pengemban Supersemar, Jenderal Soeharto, mengamankan (menahan) 15 menteri kabinet terakhir Bung Karno. Setelah itu, Soeharto menjadi Pejabat Presiden pada 12 Maret 1967 dan secara penuh menjadi presiden pada 1968. Ternyata, 30 tahun kemudian, pada 20 Mei 1998, Suharto ditinggalkan oleh 15 menterinya. Ia menaiki kursi presiden dengan menahan 15 menteri, tapi kemudian ditinggalkan juga oleh 15 menterinya sendiri.

Buku ini mengajak kita menarik pelajaran dari validitas karma “you will reap what you sow” ; siapa menabur angin akan menuai badai, termasuk dalam konteks persaingan pilpres 2019 lalu – yang sudah telanjur menjadi sedemikian keras.

BUKU berikutnya yang diwariskan oleh Christianto Wibisono adalah Jangan Pernah Jadi Malaikat (2010), membahas Dwifungsi “Penguasaha” – Intrik Politik sampai “Rekening Gendut”

Intisiari buku itu, motif tindak korupsi saat ini sudah bukan lagi soal kebutuhan hidup, melainkan kerakusan dan gaya hidup predator. Bahkan sejak duduk di jenjang karier paling awal sampai elite teras lembaga tinggi negara. Repotnya lagi, Indonesia kini telah memasuki era Dwifungsi Pengusaha – melanjutkan “Dwifungsi ABRI” di zaman Orba.

Inilah pola tingkah laku kebanyakan elite politik dan pemerintahan Indonesia – sampai sekarang. Banyak pengusaha yang merangsek masuk ke dalam sistem dan rezim politik menjadi penguasa. Hal ini tentu rawan dengan intrik politik dan konflik kepentingan yang bisa mengarah pada skala korupsi yang jauh lebih mengerikan dan negara terancam menjadi sandera.

Buku ini menawarkan pendekatan dan solusi komprehensif yang sama sekali berbeda. Berdasarkan studi perbandingan empiris dengan negara lain dan sejarah pemberantasan korupsi sejak zaman demokrasi liberal, ada trio senjata pamungkas yang disodorkan: UU Amnesti Berpenalti, UU Pembuktian Terbalik, dan UU Anti-Konflik Kepentingan. Hanya dengan cara ini, RI bisa diselamatkan dari ancaman para predator penyandera negara.

BUKU berikutnya yang saya koleksi dan saya timang timang sebagai rujukan dari Christianto Wibisono adalah Gerhana Hati Nurani . Merupakan kumpulan karyanya selama di pengasingan di Washington DC, sebagai koresponden Suara Pembaruan – tapi diterbitkan Gramedia (Kompas Grup). Di sana dia menegaskan, dalam perang melawan akar masalah terorisme dan pengentasan masyarakat miskin di dunia. Dia menegaskan, tidak ada pilihan kecuali berpihak pada hati nurani, keadilan, kebenaran dan kejujuran.

Pembenaran kekerasan dan kebencian atas dalih apa pun hanya akan meniadakan hati nurani bagaikan gerhana “menelan” matahari. Bila hati nurani berguguran bagaikan daun, walaupun hidup, manusia sebetulnya hanyalah robot yang hanya akan menjadi predator untuk manusia lain, akan memusnahkan kemanusiaan secara total.

Chris mensyukuri Musim Semi Arab (Arab Spring) sebagai berkah Tuhan untuk umat Timur Tengah kembali ke pencerahan Muhamad Iqbal yang di awal abad ke-20 menulis: “Di Barat ia menemukan napas dan nilai Islam sejati meski pemerintahnya non Muslim.

Catatan saya untuk Chis, sebenarnya Muhamad Abduh (1849-1905) lah yang menyatakannya. Rektor Universitas Al Adzar itu menyatakan, “Di Paris saya melihat Islam meski tidak ketemu muslim. Di Kairo, setiap hari berjumpa muslim, tapi tidak melihat Islam!”
Buku “Gerhana Hati Nurani” bukanlah disertasi dan studi dengan ‘footnotes’, melainkan jurnal tentang segala peristiwa yang dialami penulis serta pandangan hidup penulis dalam merespons fenomena transformasi geopolitik pada peralihan abad ke-20 ke abad ke-21 dan peralihan milenium ke-2 ke milenium ke-3.

JELANG akhir Januari 2021 lalu, Christianto Wibisono kembali meluncurkan bukunya – dan kini menjadi buku terakhirnya – dengan judul yang menukik “Kencan Dinasti Menteng” atau disingkat KDM. Dalam buku KDM ini, Chris melalui lembaganya yakni PDBI, menginventaris semua menteri sejak proklamasi yang totalnya sebanyak 747 orang lengkap dengan Nomor Induk Menterinya (NIM)

“Dari Bung Karno NIM 001 Nomor Induk Menteri sampai 747 nanti Kapolri baru. Kemudian ketemu dengan 84 menteri yang saling berkait kekerabatan atau 11,25%,” urai Chris dalam acara diskusi dan Bedah buku KDM bersama Tidar Heritage Foundation, Jum`at (22/1/21).
Gagasan di balik istilah “Kencan Dinasti Menteng” ini berangkat dari sejarah dan perjalanan politik para elite politik Indonesia yang memimpin Indonesia dengan hanya melanjutkan dinasti Mataram yang berdiri di Jawa Tengah pada abad ke-8 silam.

“Sampai dimana Dinasti Menteng itu modern, demokratis dan efektif memimpin nation state Indonesia. Nepotisme berbasis meritokrasi masih OK, sebab itu berlaku universal juga. Kalau kriterianya hanya nepotisme, main angkat tanpa kapabilitas, ya negaranya bisa bangkrut,” kata Chris, sapaan akrabnya.

Porsentasi ini artinya, lanjut mantan wartawan ini menjelaskan, sistem kekerabatan dalam pemerintah RI masih wajar bila dibandingkan dengan Jepang, dimana 10 dari 30 PM Jepang adalah kerabat atau 1 berbanding 3.

“Nah, masuknya Presiden Jokowi ke elite oligarki juga suatu terobosan, dimana Marhaen dari bantaran kali Bengawan Solo langsung menaiki tahta Dinasti Menteng, mengalahkan pesaing tokoh dinasti Menteng yang terkenal kuat,” tegasnya.

Buku ini membuka peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perjalanan bangsa ini agar yang salah tidak diulangi, sehingga ke depan bangsa ini bisa berbuat yang lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan masa lalu.

“Untuk itu, saya optimis bahwa kita bisa menjadi nomor 4 dalam kualitas di dunia. Sebab kualitas manusia Indonesia itu luar biasa secara individu. Namun sistemnya ini yang merusak, tidak menghargai meritokrasi, saling menghabisi dengan virus SARA dan lain-lain. Kita harus bertobat menghargai sesama kita,” “ kata Pak Chris.

Cendekiawan Muslim Prof. DR. Komarudin Hidayat sebagai pembahas mengaku kagum kepada penulis karena mampu mengingat secara detil peristiwa-peristiwa bersejarah dalam perjalanan bangsa ini. “Buku ini juga bisa dikembangkan atau ditafsirkan lebih luas dan mendalam karena memuat data-data yang otentik bahkan jajaran menteri dari yang pertama sampai yang sekrang ini ada semua. Jarang ada buku seperti ini,” tuturnya.

Kelebihan dari penulis, kata mantan Rektor IAIN ini, adalah kejelian, ketelitian mengumpulkan data yang berserakan, namun kemudian dirajut menjadi satu bangunan informasi yang menyajikan satu potret yang utuh.

Pak Chris, terima kasih atas warisannya untuk bangsa.

(Sumber: Facebook Supriyanto M)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed