by

ASN, Cadar dan Radikalisme

Kedua, untuk konteks Indonesia, saya lebih setuju untuk membatasi pemakaian cadar. Di tempat-tempat atau ruang publik tertentu (misalnya ruang pengadilan, imigrasi, bank, dlsb) sebaiknya tidak mengenakan cadar demi keamanan dan kenyamanan. Kalau di tempat-tempat lain silakan saja. Toh cadar bukan ajaran / syariat Islam fundamental. Masyarakat di Arab Teluk pun lebih memaknainya sebagai sebuah kebudayaan. Yang wajib menurut mereka adalah hijab. 

Ketiga, soal percingkrangan juga sama. Sama sekali bukan ajaran Islam fundamental. Itu hasil / produk interpretasi sejumlah (bukan semua) kelompok Salafi kontemporer. Kalau “jubah cingkrang” berarti pengaruh dari sebagian kelompok Salafi Arab Teluk. Kalau “celana cingkrang” berarti pengaruh dari kelompok Salafi India-Pakistan yang masuk ke Indonesia lewat Jamaah Tabligh. Ingat: tidak semua kelompok Salafi itu mengenakan jubah atau celana cingkrang. 

Keempat, tidak ada hubungannya antara cadar dan cingkrang dengan radikalisme. Itu hanya pakaian / kain saja. Banyak yang bercadar dan bercingkrang ria tetapi anti radikalisme. Saya tau betul itu. Radikalisme harus diukur dari mindset, pikiran, dan tindakan, bukan dari pakaian.

Demikian “press release” virtual ini. Semoga bermanfaat.

 

(Sumber: Facebook Sumanto AQ)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed