by

Bom 13 Mei 1998 Haruskah Diingat Atau Dilupakan?

Oleh : Fransiska Abigail Susana

Bagi sebagian orang mungkin berpendapat bahwa sebaiknya peristiwa itu dilupakan saja, karena seakan mengorek kembali kepedihan, rasa duka & perasaan terluka dari keluarga korban.Ada sebagian dari teman yg berpendapat: “Biarlah itu menjadi bagian masa lalu yg kelam dan jangan diingat2 lagi, karena kita harus melangkah ke depan”. It’s Ok, apapun pendapat mereka, saya menghargainya.

Bagaimana dengan mereka yg memilih untuk memperingati peristiwa 13 Mei tersebut?

Itupun tidak masalah. Peristiwa itu dikenang sebagai momentum berharga dan tonggak sejarah untuk kita aware bahwa terorisme itu jelas nyata di depan mata kita. Dan kita harus berani melawan segala bentuk intoleransi, radikalisme, terorisme itu dengan bergandengan tangan tanpa memandang agama, etnis, latar belakang status sosial, dsb.

Justru sejak minggu lalu saya beberapa kali dihubungi oleh keluarga2 korban yang bermaksud memperingati 1 tahun berpulangnya para korban dengan acara sederhana di kediaman mereka, atau dengan berbagi makanan seraya mengucap syukur utk kekuatan dan penghiburan yang Tuhan berikan bagi keluarga mereka.Realitanya, beberapa dari mereka masih membutuhkan pendampingan utk pemulihan dari trauma yg mendalam.

Bagaimanapun juga, mereka perlu “berdamai” dengan masa lalu yg kelam, sekalipun menyakitkan dan luka itu mungkin masih berbekas tapi pasti berangsur pulih. Coping tiap2 orang berbeda dan kita perlu memahaminya.Di moment peringatan 1 tahun peristiwa 13 Mei 2019 yg diadakan oleh Gereja Katolik SMTB kemarin, saya menyaksikan teman2 lintas agama dari berbagai etnis dan latar belakang berbaur menjadi satu sebagai wujud solidaritas dan persatuan antar umat beragama di Surabaya.Hal yg tak mungkin terlupakan adalah kepedulian dari rekan2 lintas agama (GUSDURian, JIAD, Mafindo, Buddhist, dsb) yg telah memberikan support moril maupun materiil kepada gereja2 dan kepada keluarga2 korban sesaat setelah peristiwa 13 Mei 2018 lalu.Kiranya Tuhan yg membalas semua kebaikan teman2.

Sumber : Fransiska Abigail Susana

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed