by

Antara RRC, Jepang, Jerman dan Indonesia

Masyarakat Jerman tak kalah malu atas sejarah kelam Nazi, tapi kini mereka mampu menunjukkan bahwa mereka masih punya visi yang baik akan masa depan dunia. Tahun 1961 di antara bagian Jerman Barat dan Jerman Timur didirikan tembok pembatas untuk menunjukkan secara de facto dan de jure bahwa Jerman terpisah menjadi Bundesrepublik Deutschland (Jerman Barat) dan Deutsche Demokratische Republik (Jerman Timur). Namun 28 tahun kemudian tembok itu diruntuhkan, bukti bahwa komunisme di Jerman Timur gagal, dan banyak warga Timur sejak awal selalu mencoba menerobos ke Barat untuk mendapat kehidupan yang bebas dan merdeka. Kita kini mengenal Jerman atas kecanggihan teknologinya yang cermat dan berkualitas. Jerman tak hanya menjadi rujukan ilmu sains tapi juga ilmu sosio humaniora. 

Saya tidak tahu apakah tiga negara itu mendapatkan nyinyiran sebagian warganya saat Pemerintahan mereka, pemimpin mereka hendak berjuang memajukan bangsa. Barangkali, mereka adalah tiga negara beruntung yang memancangkan fondasi “kemajuan bangsa” ketika internet dan smartphone belum secanggih sekarang. 

Satu yang pasti yang dapat kita pelajari bersama, jika kita tak mudah dihasut, maka mudah bagi kita jagi Negara Bangsa yang membanggakan. Kita ini Bangsa yang besar, tapi selalu lupa bagaimana menjadi Besar itu selalu ada pengorbanan dan kesabaran.

Tekanlah ego anda jika anda tak suka pemimpin sekarang. Tak ada Pemimpin yang sempurna, tapi jika di belakangnya lebih banyak kebaikan-kebaikan untuk kepentingan bersama, mari kita luruskan yang buruk di antaranya, bukan malah diperbesar dengan framming, fitnah, dan disinformasi. 

Negara yang ingin berkembang ingin memajukan pula mode transportasi massanya. Memberi perhatian lebih pada teknologi masa depan. Dan memperbaiki sistem ekonomi Negara dengan cermat agar bertahan bahkan berkembang meskipun ekonomi dunia sedang reses. Satu periode dilewati dan kita melihat progres yang baik, kenapa kita tak mau menahan diri sedikit lagi untuk kemajuan yang lebih besar lagi? 

Berdemolah dengan cara yang santun, akar demokrasi adalah kebaikan untuk bersama, kebahagiaan untuk semuanya. 

Cukup Nietzche saja yang mengenali realita sebagai Chaos. Karena dia paham di mana letak konteksnya. Jangan bikin runyam negeri ini dengan bertindak anarkis, sebab jika kau belajar anarkisme yang sesungguhnya di meja akademik, engkau akan mempertimbangkan lagi pemahamanmu tentang itu. 

Jakarta, berdoa untuk Indonesia.

 

(Sumber: Facebook Aizza Ken Susanti)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed