by

Jepang

 

Tentu saja orang Jepang tidak akan menyukai julukan “binatang ekonomi” ini. Bukan saja karena mereka menolak realitas tingkah laku yang memang secara pas digambarkan. Tapi karena mereka beranggapan persepsi orang lain tentang bangsa Jepang adalah keliru. Memburu laba bukanlah tujuan mereka atau nilai-motivasi yang berada dibelakang kegiatan orang Jepang. Kerja keras yang tekun dan rajin untuk memenuhi kebutuhan orang banyak, itulah basis dasar kegiatan apapun juga dalam berbagai bentuk profesi kerja : apakah pedagang, seniman ataupun sebagai seorang samurai. Dan, ini merupakan kontribusi ZEN.

Ajaran ini mendapatkan tempat ketika sebagian besar penduduk negara Sakura ini kehilangan alasan untuk hidup, setelah mengalami perang saudara bertahun-tahun dan ketika memasuki masa damai, justru mengalami kesulitan untuk mengadaptasi diri. Ajaran kerja, sebagai cara untuyk mencapai kebebasan, nampaknya mengena di hati rakyat Jepang. Kerja dengan penuh kejujuran dalam ajaran ZEN merupakan bentuk dari sikap hidup Askestisme (Zuhd). Kerja adalah pekerjaan suci dan harus dihayati dalam kerangka religius. Kerja untuk mencari keuntungan justru ditolak. Kerja a-la ZEN bukanlah suatu kegiatan ekonomi, tapi suatu latihan untuk hidup zuhd.

Menurut buku ini, orang Jepang sangat menghargai seseorang yang sikapnya terhadap kerja bersifat religius. Nilai ini hanya akan bisa diejawantahkan dengan kerja produktif. Seorang pedagang dalam organisasi dagang Jepang a-la ZEN menganggap distribusi barang sebagai tugassuci untuk membebaskan setiap orang dari kekurangan. Mungkinkah karena ini, maka “religiusitas kerja”nya membuat Jepang unggul sebagai pengrajin industri dan sekaligus pedagang ? Mungkinkah karena ini pula …. dunia merasakan kehadiran “Jepang” di mana-mana ?

 

(Sumber: Facebook Muhammad Ilham Fadli)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed