by

Perspektif Lain tentang ART, Belajar dari Mamatachi Jepang

Oleh : Rini Yuniastuti

Pengalaman sy tinggal di negri sakura barulah seumur jagung. Mungkin cerita sy ini bisa jadi kurang akurat. Tp smg pantas dibaca…Jepang, terkenal dg negri tanpa pembantu atau istilah lainnya ART. Kita mgkn srg disuguhi cerita bhw mamatachi (ibu2 Jepang) adl mayoritas ibu rumah tangga. Tp disini pun sebenarnya wanita karir jg ada (banyak), mereka “berkarir” diberbagai bidang.Byk wanita2 bekerja di perkantoran, sekolah2, universitas, supermarket, bandara, kantor2 pemerintahan, rumah sakit, klinik2, pertokoan, tukang bersih2, penjual, restaurant, petani, bhkn sy kdg melihat petugas parkir wanita, dsb, ga mungkin sy sebutkan semua.

Mereka sebagiannya jg punya keluarga, anak2… Dan mereka tak punya ART. Kok bisa???Upah tenaga kerja disini cukup tinggi jk dibandingkan dg indonesia, segala jenis pekerjaan begitu dihargai disini, pekerjaan “biasa2” sj pun bisa menopang kehidupan meski hrs sederhana. Upah kerja dihitung per jam.m. Tp sy yakin juga para orang kaya sbnrnya mampu menggaji ART. Tp mereka memilih tetap mandiri tanpa ART. Selain masalah biaya yg entah ini sebenarnya masuk apa tdk sbg faktor tdk adanya ART disini, faktor budaya kemandirian org Jepang adl alasan tak perlu nya ART. Bahkan sptnya pemerintah pun seiya sekata dg warganya.

Pemerintah jepang tdk spt Saudi, Malaysia, dan negara2 lain yg mengakomodasi tenaga kerja di bidang pembantu ini. Ini sdh semacam membentuk “sikap”, karakter, “budaya”, dan sdh berjalan dr generasi ke generasi. Ya, negri ini memilih spt itu..Anggapan sy bahwa kehadiran ART ini akan membuat org2 bisa lbh produktif, tdk melulu urusan domestik, mgkn tdk berlaku disini. Tanpa ART ternyata mereka jg tak kalah produktif, mereka sdh membuktikan bisa menghasilkan orang2 Jepang yg hebat spt yg dikenal dunia.

Dr jaman dulu sejarah mencatat kerja keras orang Jepang hingga mjd negara yg spt skrg ini. Sy bahkan kdg heran, apakah mereka tdk merasakan capek? Mereka kan manusia jg spt sy, bukan robot, lha sy aja dikit2 merasa capek. Hahaha…Para mamatachi ini dituntut dan tertuntut utk bisa melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri, atau berbagi peran dg suami. Bagus juga ya, teamwork ini terbentuk sjk di rumah, di dlm keluarga, dan ini terbentuk scr merata, satu negara. Teamwork ini membuat suami istri semakin kompak, saling pengertian, saling menghormati, saling membantu dan berbagi tugas, menciptakan momen2 komunikasi yg intens antara suami istri.

Meningkatkan kualitas hubungan rumah tangga. Tak jarang sy melihat para ayah mengasuh/menemani anak2 di taman, mengantar anak ke klinik, menemani istri belanja atau bahkan mereka yg berbelanja, bepergian naik kereta membawa anak tanpa ibunya, bhkn menghadiri undangan sekolah anak2, dsb..Kok bisa ya spt itu? Kok bisa kehidupan mereka nampak baik2 saja meski tanpa ART? Tentu tdk hanya dr jiwa dan karakter kemandirian mereka program tanpa ART ini semua bisa “sukses”. Pemerintah jg sgt berperan dlm suksesnya program “tanpa ART” ini…

Hihi, ini analisa dr pengamat amatir lho ya. Anda boleh percaya boleh tdk. Rumah2 di Jepang tidak spt di indonesia. Rata2 rumah disini kecil2. Bahkan utk ukuran orang kaya disini pun rata2 ga semewah dan seluas rumah2 di indonesia. Selain karena lahan disini terbatas jg memang mereka lbh suka serba praktis, efektif, dan efisien. Bhkn banyak org Jepang tinggal di rumah susun (apato/apartemen). Negri ini kecil mungil jika dibandingkan dg indonesia. Tp hunian bagi warga sgt cukup tersedia dan bisa mencukupi mayoritas warga negara. Rumah boleh kecil, tapi byk taman luas tempat anak2 bermain, tempat org tua sekedar duduk2 menikmati udara luar. Sekolah jg sgt luas, bhkn konon sekolah ini dibangun jg sbg tempat evakuasi ketika ada bencana.

Jd fasilitas sekolah ckp lengkap. Parkiran “perumahan” tertata rapi dan luas. Hunian didesain “meninggi” sehingga bisa disisakan byk ruang/area publik. Kompensasi yg sgt layak.Mereka enjoy sj dg rumah kecil. Anda tahu arah pembicaraan sy? Ya, rumah kecil memudahkan mamatachi mengurus rumah. Menghemat tenaga dan tentu pikiran, serta budget . Belum lg rumah2 disini fasilitasnya semua terintegrasi dg baik, dr mulai saluran gas, listrik, air. Jadi ga ada namanya kelabakan sdg masak eeeh tiba2 kehabisan gas. Alhamdulillah disini ada instalasi gas sendiri utk kompor, pemanas air, pemanas ruangan. Ga ada namanya kelabakan ga ada minum krn aqua habis, air kran layak dikonsumsi tanpa direbus sekalipun. Ga ada kelabakan listrik yg byar pet. Tagihan listrik, air, gas, sgt mudah sistem pembayarannya. Hehe…

Smg indonesia suatu saat bisa spt ini ya biar ibu2 ga byk mengeluh. Sedikit cerita ttg rumah2 di sini (apato, krn sy tinggal di apato). Desain apato rata2 sgt simpel, kyknya selama sy mengunjungi beberapa apato desainnya itu2 aja. Simpel, sederhana, mungil, yg penting nilai gunanya. Apato sy luasnya kurang dr 60 m2, itu saja sdh terasa sangat lapang bagi kami berempat. Padahal rumah sy dikampung yg katanya ky kereta api Krn memanjang ke blkg nyaris seluas 200 m sj rasanya sempit krn lay out yg ga bagus dan kepenuhan barang.Rata2 apato berlantaikan kayu, yg cara ngepelnya ga perlu pakai superpel, yg biasanya bikin emak2 males. Mana hbs ngepel bisa korban 1 setel baju. Ada tisu khusus utk ngepel lantai. Kalau mau, saya bahkan bisa ngepel sehari 3-5x dg mudah, tinggal seeeet seeeet selesai, bersih. Lantai jg sebagian beralaskan tatami dan utk membersihkan tatami jg ada tisu khusus tinggal gosok2 sebentar beres.. Utk membersihkan dapur ada tisu khusus kitchen, bahkan utk closet pun ada tisu khusus.

Setiap rumah punya vacum cleaner, sgt memudahkan mamatachi membersihkan rumah.Toilet disini adl toilet kering, jd ga boleh gebyar gebyur basahin lantai toilet. Ceboknya bisa pake air yg alatnya terpasang di msg2 closet (namanya bidet) atau bisa jg dg tisu toilet. Rata2 apato ga ada halaman. Tp ada balkon tempat njemur atau sekedar utk melihat2 dr lantai atas, melihat sungai airnya meluap apa ga, atau utk melihat bintang dan bulan pake teropong, wkkk. Utk kmr mandi, biasanya didesain lantai n dindingnya dr bahan khusus yg mudah dibersihkan, digosok bentar guyur pake shower lgsg bersih, ga menguras tenaga dan waktu. Rata2 kmr mandi disini memiliki ofuro atau bathub, yg membersihkannya pun mudah, ukurannya ga besar. Ah entah knp org sini serba minimalis ya.. Tp tdk mengurangi nilai guna. Anda mungkin pernah melihat film2 atau kartun jepang yg sedikit banyak menggambarkan bgm rumah2 di Jepang. Ya, memang spt dlm film2 itu.

Di sini rumah tanpa perabot besar2 spt di indonesia sj sdh sgt bisa utk bertahan hidup. Selain ngirit, jg ga menuh2in apato, dan mengurangi pekerjaan kita dlm mengurus barang2 tsb. Bisa dibayangkan tho betapa semua ini memudahkan mamatachi dlm mengurus rumah? Orang Jepang jarang yg nyetrika. Begitu katanya.. tp memang iya sih. Bahkan sy ikut2an ga nyetrika. Selama krg lbh stgh th disini saya belum lbh dr 5x nyetrika. Hahaha… Keren kan…ga nyetrika aja bangga bgt ya, hadeeeh. Ga ada yg peduli dg baju yg ga disetrika, wkkk.. Ada trik khusus agar baju tanpa setrika ini tdk begitu lecek. Bahkan lecek pun sptnya org sini pada cuek bebek. Setelah dicuci lgsg jemur, pake hanger, pakaian kcl2 digantung, stlh kering lgsg lipat sblm jd kucel. Tp ini tdk berlaku bg saya, Krn entah kenapa sy selalu punya masalah dg cucian baju dr dulu.. ujung2nya suami yg bantu finishing. hihihi. Ah tak perlu disebutkan betapa mengenaskannya kondisi perbajuan kami, aib lah klo diceritakan.. hahaha.

Bisa jg tanpa dilipat tp lgsg di gantung sj di lemari atau gantungan baju yg ky di etalase toko baju, ini skrg yg sy lakukan.. baju2 sy sebagian dg manis tergantung di “sana”. Saya punya stok hanger kawat yg ckp byk, hanya dg 100 Yen bs dpt 8 atau 10 hanger. Modal yg cukup murah utk menjaga baju tdk tampak mengenaskan. Wkkk…Apato disini rata2 punya lemari dinding. Klo pernah lihat kamarnya Nobita, nah spt lemari yg dipake tidur Doraemon itu tuh. Itu bnr2 lemari ajaib lho, ukurannya ckp besar dan muat segala macem…wkkk. Bahkan 2 anak saya suka main rumah2an di dlm lemari. Org Jepang biasanya tidur melantai beralaskan futon. Meski skrg jg byk yg memakai spring bed atau bahkan ranjang. Nah futon ini kalau tdk dipakai tdr bisa dilipat dimasukkan ke lemari Doraemon td, beserta dg selimut bantal dkknya. Seketika ruangan jd lega dan bisa dipakai main anak2 atau aktifitas lain. Ruang yg multifungsi, ga perlu gengsi. Kebanyakan rumah jg menggunakan pintu geser. Ternyata pintu geser ini sgt efisien.. bisa dibongkar pasang. Tak jarang beberapa kamar tiba2 bisa jd seluas lapangan bola (hiperbola ini ya, ga seluas itu kali, kan rumahnya mungil).

Sy aja naksir desain rumah Jepang. Pingin punya rumah spt ini suatu saat nanti, maklum biar ga terlalu capek ngurusi rumah. Ini baru soal spek rumah dan fasilitas “perumahan”nya. Sgt memudahkan mamatachi dlm mengurus rumah. Selain internal rumah, fasilitas di lingkungan rumah yg menunjang kinerja mamatachi jg sgt bgs. Dari tempat pembuangan sampah, pembuangan minyak bekas, pembuangan perabot rumah yg ga terpakai, dll. Pihak pemilik apartemen biasanya jg ada jdwl maintenance rutin baik yg berhubungan dg gedung, maupun fasilitas lain. Sptnya jarang ditemui atap bocor, jendela lapuk, lantai jebol, saluran air mampet, kebakaran, dsb. Penyedia hunian ini bnr2 profesional dan bertanggungjawab.

Bahkan urusan rumput yg bergoyang krn terlalu tumbuh subur pun mrk sgt profesional. Pernah sy foto kan rumput2 tinggi di sekeliling apato saya. Mrk memotong rumput scr berkala. Tak pelak lg, meski berbagai urusan diatur sgt detil dan njelimet, serta membutuhkan ketelatenan tinggi, semua ini menambah kemudahan mamatachi dalam mengurus rumah tangganya. Keteraturan ini sgt memudahkan mamatachi mengemban tugasnya. Bukan malah membuat ribet. Klo kita di Indonesia mungkin dah lieur kali ya urusan ini itu diatur sedemikian detil. Begitulah mereka merespon “aturan” dg tanggungjawab, kesadaran yg tinggi, meski seolah repot tp justru membantu urusan rumah tangga warga mjd beres. Mereka siap melakukan prosedur ini itu krn produk akhir dr kepatuhan tsb mereka sendiri yg akan menikmatinya.Bgm dg ibu bekerja yg memiliki anak2 kecil?

Data anak2 disini “terindeks” dg rapi dan valid. Sjk lahir keperluan anak2 diperhatikan betul oleh pemerintah. Ibu melahirkan bahkan dpt tunjangan ckp besar dr pemerintah. Anak2 jg mendapat tunjangan khusus tiap bulan dr pemerintah. Di usia ttt ada jdwl pemeriksaan kesehatan anak2 yg dilakukan oleh pihak Ward office. Dr vaksinasi, pemeriksaan gigi, urine, fisik, kognitif, pemantauan BB dan tinggi bdn, bhkn ada panduan soal asupan makanan. Gmn ga enak coba lairan disini.. hihihi. Duh jd pingin hamil lagi, katanya ga afdhol klo dah sampe Jepang kok emak2 ga ambil Phd (Phd: Pengalaman Hamil Di Jepang). Hahaha…Begitu masuk usia 6 th pihak “kecamatan” akan menentukan si anak sekolah di SD mana. Anak2 yg belum masuk SD bisa masuk TK.

Ibu bekerja bisa memasukkan anaknya k smcm daycare. Pemerintah menyediakan daycare yg senseinya bekerja dg sgt profesional dan penuh dedikasi. Jd mamatachi merasa aman meninggalkan anaknya. Wah klo di Indonesia ky gini bisa2 mamatachi Indonesia beranaaak trs ya.. Masya Allah. Sekolah2 dr SD SMP SMA kualitasnya hampir seragam pengajar n fasilitasnya. Outputnya ckp terukur. Jd mamatachi ga perlu galau milih2 sekolah mana yg unggulan, yg terbaik utk anaknya. Yg terbaik adl anak sekolah di dkt tempat tinggalnya. Ga perlu sewa tukang antar jemput anak sekolah. Anak2 berangkat dan pulang bersama satu regu. Biasanya regu2 ini berdasarkan lokasi tempat tinggal anak, mereka yg berdekatan dikumpulkan dlm satu regu. Bagus ini utk mengurangi kriminalitas.

Orgtua berperan aktif dlm pendidikan anak d sekolah. Pihak sekolah sgt intens dlm menjalin komunikasi dg pihak wali murid. Ada masalah apapun dg anak di sekolah disampaikan n didiskusikan dg wali murid. Jgn bosan kalau kita diundang ke sekolah, dikasih surat ini itu..Apakah ada hubungannya dg ART? Tentu. Perasaan aman dan tercukupi dlm berbagai hal ini membuat mamatachi bisa maksimal dalam mengerjakan tanggungjawabnya mengurus rumah, sekaligus semua penghuninya. Bahkan sy rasa mereka punya me time yg cukup, utk mengembangkan diri, menekuni hobi, dsb.Kesannya kemudahan mamatachi ini krn memadainya fasilitas pemerintah. Itu hanya variabel lain. Faktor utama sbnrnya adl pd mental mereka. Mental kemandirian, kerja keras, tdk suka mengeluh, dan sikap tdk suka meminta tolong kpd orang lain. Sy rela mengacungkan jempol sy utk sikap mereka ini..Nah, ini bagian cukup krusial dlm cerita sy ini. Jgn cuma omong doang nyuruh2 belajar sm mamatachi ini.

Bgm saya belajar hidup tanpa ART spt mamatachi ini? Begitu sy menginjakkan kaki di bandara kansai, sy harus siap mjd wanita/ibu mandiri dalam urusan rumah tangga. Krn suami saya kuliah, dan anak pertama saya jg diputuskan masuk sekolah, sedang anak kedua diputuskan tetap di rumah, maka sy harus siap menyokong aktivitas mereka. Untuk memudahkan pekerjaan rumah tangga yg ga sepele ini minimal harus disiapkan peralatan tempur standar. Dari kompor, kulkas, mesin cuci, vacum cleaner, microwave (& oven), pemanas ruangan, kipas angin, alat ngepel, sepeda, dll.. sy bersyukur semua peralatan tsb bisa dibeli dg harga murah krn second-an, bahkan byk yg gratis warisan dr para sempai. Alat2 ini lah yg akan mendukung kinerja saya beberapa th ke dpn.Utk keperluan rumah tangga, sampai bahan makanan, sy harus berbelanja sendiri, atau dibantu suami belanja. Untuk belanja sayur buah ikan sy biasa k supa langganan dkt rumah. Dg naik sepeda bawa Maryam pun bisa. Sy biasa belanja utk stok beberapa hari. Setiap belanja, bagian dpn belakang penuh. Bagian depan biasanya buat duduk Maryam, bagian belakang utk bawa barang, atau sebaliknya, dan jika ga muat sy gembol pake tas. Di bagian belakang sdh “ting cemantel” aneka kresek. Sayang sy ga bisa selfie sambil naik sepeda jd sy ga bisa tunjukin bukti betapa rendelnya sepeda sy.

Ngos2an mah biasa. hahaha… Asli ini bkn hoax.. Saingan sy belanja biasanya emak2 yg jg bawa anak2, nenek2 yg msh lincah bersepeda, jg kakek2 yg hdp sebatang kara.Untuk bahan makanan kebutuhan lain spt beras, ayam halal, telor, minyak, tepung, sy biasa belanja di gyomu. Tempatnya agak jauh, tp lbh murah. Kdg sy yg nyepeda k gyomu, nggowes di jalanan yg naik turun sambil mbonceng anak yg bikin ngos2an, maklum sepeda sy blm diupgrade jd sepeda listrik. Kata suami, latihan prihatin, ya itung2 sambil olahraga. Kdg juga suami sy yg belanja. Utk perlengkapan bersih2 rumah dr aneka pertisuan, keset, lap, brg2 dapur, stationary, dll printilan sy biasa belanja di daiso, murah meriah. Sedangkan utk daging halal dan beberapa bhn makanan yg ga tersedia di supa2, sy belanja online scr berjamaah bareng tmn2, biar hemat ongkos kirim. Emak2 perantauan hrs bijak dan cerdik. Wkkk Utk keperluan belanja ini anggaplah sy butuh 2 smp max 3 kali keluar setiap minggu dlm kondisi ngos2an. Sambil ngajak anak yg kecil jln2 (sepedaan). Bukan sesuatu yg berat utk mamatachi bhkn utk level amatiran spt sy.Bgm sy bisa hdp tanpa ART disini, semua bermula dr sebuah takdir. Takdir sy terdampar di sebuah negri tanpa pembantu, tanpa warteg, tanpa pedagang keliling,.

Siap tdk siap hrs siap. Bayangkan, betapa sy hrs berjuang mandiri, dr yg awalnya waktu di indonesia klo mau sarapan sy tinggal beli, utk makan mlm jg srg beli, eh tiba2 hrs menyediakan makan sekeluarga utk 3x makan, menyediakan snack Krn ga bisa beli jajan di warung (wkkk ketahuan belangnya). Utk urusan nyetrika jg dr dulu malas2an. Untuk ngepel jg jarang2. Skrg sy harus masak sendiri, menyiapkan bento utk anak dan suami, menyiapkan makan malam. Membersihkan rumah biar kotornya ga sampai parah. Krn klo apato yg kami sewa ini kotor bgt dan menyisakan byk cacat maka resiko kami adl mengganti rugi dg nilai yg tdk sedikit. Meski ngantuk dan malas, pagi2 sy hrs nyuci piring dan masak, jg mengerjakan hal lain seputar kerjaan rumah tangga. Blm lg klo musim dingin, bangun pagi dan berdiri cukup lama di dapur perlu effort yg tinggi.Hal yg srg dirasa berat oleh emak2 adl urusan nyetrika. Syukurlah sy skrg sdh mengurangi standar fashion sy, berganti madzhab “no setrika”, wkkkk… Awalnya memang rasanya gimanaaa gitu. Tp lama2 terbiasa. Beban fisik dan psikis sy krn urusan setrika berkurang drastis.

Tips tentang no setrika ini sdh sy sebutkan di atas.Demi “kesehatan jiwa” anak dan jg emak, sy kdg ajak Maryam main ke taman sekitar rumah, jln2 atau piknik kemana, atau sekedar kumpul2 main ke rumah teman, bisa ketemu anak2 lain. Atau sy ajak sepedaan belanja ini itu. Sederhana saja dan tak perlu makan byk biaya. Utk memasak, sy spare waktu agak lama pas pagi. Krg lbh 2 jam masak utk sarapan, bento, dan makanan siang yg di rmh. Utk mkn malam biasanya ndadak bikin sesuatu. Capek? Ya capek. Tp gpp… Daripada ga makan.. jk sdh jd kebiasaan ternyata ringan jg mengerjakannya.Duh, bkn maksud membongkar urusan domestik sy sbnrnya nih…Sy pernah ngobrol dg seorg ibu Jepang di koen, beliau sama spt sy, IRT. Bhkn di tgh kesibukannya sbg IRT beliau ckp sering menemani anaknya main di taman, main base ball atau sekedar mendampingi anaknya di pinggir taman, pdhl anaknya dah gede lho. Sekelas sm Ahmad. Ini bukti mamatachi ini msh punya waktu luang ditengah rutinitas domestiknya.Sy percaya, urusan domestik mamatachi ini ga beda jauh dr urusan domestik emak2 indonesia. Anda mungkin berpikir sy kok terkesan kagum bgt ya sm mereka ini. Terus terang, sy salut, dan ingin meniru kemandirian mereka dlm hal ini. Setidaknya sy berharap, ketika plg kampung nanti sy bs membawa hasil belajar dari mamatachi ini. Ga dpt gelar “Phd” jg gpp

Mungkin org2 hebat yg berkata pentingnya ART utk memberi peluang wanita mengembangkan diri dll bisa melongok sedikit kehidupan mamatachi ini. Konon adanya ART sgt membantu ibu2 lbh punya byk waktu utk melakukan byk hal, ga ngurusin urusan domestik melulu. Lihatlah, byk orang2 hebat disini lahir dan besar dlm pengasuhan mamatachi tanpa ART ini. Bahkan org2 hebat di Indonesia sbnrnya kondisi orangtuanya jmn dulunya jg ga beda jauh dr mamatachi ini. Entah knp generasi skrg manjanya minta ampuuun (sambil nunjuk diri sendiri)

Sy tdk sedang mengatakan ART tdk dibutuhkan sama sekali atau melarang orang2 menggunakan jasa ART. Sy hanya sedang menyajikan perspektif lain hidup tanpa ART spt judul tulisan sy di atas. Sedikit demi sedikit sy mulai berubah pikiran, ternyata ART adl pilihan terakhir.Tdk dipungkiri, ada pihak2 yg memang membutuhkan ART dg alasan tertentu. Spt alasan sakit, cacat, kerepotan yg sangat, anak buanyak, punya byk duit, wanita karir, ingin belajar hal lain lbh byk, punya bisnis yg butuhkan ART, ga punya skill mengerjakan pekerjaan domestik, malas, manja, membuka lapangan kerja, agar bisa lbh produktif, dsb… Tp byk jg alasan tdk perlunya ART, spt sdh merasa mampu mengerjakan semua sendiri, ga punya duit utk nggaji ART, alasan yg berhubungan dg agama, alasan pribadi, dll. Jd daripada saya kasih advice utk menggunakan jasa ART apalagi campaign pentingnya ART, lbh baik ayo motivasi diri kita utk meningkatkan kesadaran bahwa sbnrnya semua mamatachi punya peluang utk bisa mandiri tanpa ART.Dlm urusan ART ini byk aspek yg diperhitungkan. Masalah biaya, masalah urgensi, masalah kriteria mempekerjakan ART scr syariat, masalah dampak positif negatif, dsb… bkn sebatas punya uang dan yg dibayar mau.

Perspektif lain ttg ART ini adl, ttg ladang pahala seorang ibu, istri. Bayangkan, dlm ribetnya urusan domestik ini ternyata byk pundi2 pahalanya. Meski seorang mampu menggaji ART srgkali kita jumpai IRT mengerjakan semua sendiri keperluan rumah tangganya. Ada rasa bangga suami ketika semua beres dikerjakan istrinya. Bhkn bg wanita ini jg sebuah kebahagiaan dan kebanggaan. Tak hanya suami yg bangga, anak kita jg insya Allah bangga dg kerja keras kita, dan mjd contoh nyata yg kelak bisa ditiru anak2..

Suatu saat anak perempuan kita akan menikah, mereka perlu contoh nyata bgm mengurus rumah dr ibunya. Tak jarang anak2 kita menjadikan kita idola dlm hal urusan rumah tangganya. Suatu saat bisa jadi resep keluarga hasil tgn kita mjd menu favorit menantu kita, membuat menantu bangga punya mertua yg bisa dijadikan panutan dlm mengurus rumah beserta segala isinya… Inilah salah satu investasi seorang ibu..Sy pernah menyaksikan di kelas, anak sy membacakan surat utk saya di dpn sensei, semua murid dan para orangtua murid. Dg mata berkaca2 dia mengungkapkan ttg rasa terimakasihnya kpd sy sdh sgt repot menyiapkan bento setiap pagi, bento yg enak katanya. Siapa yg ga bahagia coba.Pun dg anak2 lain, ketika mrk membaca satu persatu surat utk ibunya, semua mengungkapkan rasa terimakasih dan kebanggaan atas kerja keras ibunya mengurusi semua keperluannya, keluarganya.

Dari makanannya, pakaiannya, keperluannya, dsb. Mereka sgt bahagia menyantap makan malam hasil karya tangan mamanya. Mereka sgt bahagia mamanya senantiasa ada dan menyertai mereka ketika dibutuhkan. Hampir semua anak berkata, mereka akan membalas semua kebaikan, kerja keras, dan pengorbanan ibu mrk, dan akan mjd orang yg bertanggungjawab kelak ketika dewasa. Sederhana sekali hal yg membuat anak2 ini bangga pd ibunya…. Semua mamatachi yg menyaksikan pun meleleh, berlinang air mata dan sesenggukan, termasuk saya… Mungkin jika mamatachi ini menyerahkan urusan rumah kpd ART, surat mereka akan berbeda isinya

Pertanyaan: itu kan mamatachi jepang, bgm dg mamatachi Indonesia yg kondisinya jauh berbeda dr segala macam aspeknya?Memang, kita tdk bisa menyamakan “spek” Jepang dg Indonesia. Tp kita bisa mensiasatinya dg berbagai cara. Misal:1. budget gaji utk ART kita alihkan utk investasi peralatanSpt utk beli mesin cuci yg lbh canggih misal yg bisa langsung kering, atau vacum cleaner, setrika model uap yg cara makainya gampang dan hemat waktu serta tenaga. Sy pernah lihat iklan produk Korea ada setrika model steam yg praktis dan efisien bgt, sampai sy pun ngiler, baju digantung pake hanger dan setrika ckp “disemprotkan” seketika halus, sambil duduk leyeh2 pun kelar klo setrikanya ky gini.

Kita jg bisa invest breadmaker, pastamaker, oven, dan aneka perlengkapan tempur rumah tangga yg bisa memudahkan kita memasak2. Menggunakan jasa laundryYg plg jd momok emak2 menurut survei amatiran sy adl urusan cuci setrika. Tp tak perlu menggunakan jasa laundry setiap saat, pakailah jasa laundry disaat2 kita benar2 kerepotan. Baik laundry baju, selimut, karpet, dll.3. Utk yg berencana membangun rumah, coba lah desain rumah minimalis dan ga ribet, ga rumit, agar memudahkan kita mengurusnya. 4. Memanfaatkan warung2 makan yg ada. Manfaatkanlah warung makan yg ada saat kita benar2 tdk mampu memasak.5. Buatlah simpel urusan andaSemisal utk masak, kalau memang capek hrs berlama2 di dapur, masaklah masakan yg simpel, kalau mau ky org Jepang tuh, sayur lauk serba direbus dlm kuah soyu. Dah jadiii.. wkkkk.6.

Naikkan ambang batas lelah Anda dg latihan. Misal yg biasanya mengerjakan pekerjaan rumah dlm setengah jam dah ngeluh capek, berlatihlah utk menahan capek tsb jd lbh lama, sejam, dua jam, dst. Sbnrnya kdg bkn krn kita ga mampu mengerjakan, tp rasa manja selalu menghantui kita. Bayangkan mamatachi sini yg mengerjakan semua serba sendiri, belum kemana2 rata2 pake transportasi umum, jln kaki jauh ke stasiun. Lelah kita sptnya blm seberapa.7. Turunkan standar andaKdg terlalu perfeksionis malah menyiksa batin dan membuat lelah fisik. Jgn jd emak2 yg OCD. Tak mengapa rumah kdg berantakan di saat kita tak bisa beberes. Tak mengapa baju kita sedikit kusut drpd kita ngeluh ga kuat nyetrika. Tak mengapa makan hanya dg telor ceplok drpd kita ga sanggup masak ini itu atau maksa beli makanan di luar dlm kondisi tanggal tua. 8. Bekerja sama dg suamiAda suami2 yg ga masalah ikut terjun dlm urusan domestik. Tp ada juga suami2 yg “alergi” atau mgkn ga punya skill dlm urusan domestik.

Tp urusan ngasuh anak suami ga boleh ga punya skill. Bekerjasama lah dg suami, sementara anda menyelesaikan urusan domestik titipkan anak kpd suami kita.9. Perangi rasa malas, tingkatkan effort, dan hiburlah diri kita dg impian balasan yg indah. Rumitnya urusan domestik mgkn seolah selesai dg adanya ART. Tp apakah kita tdk ingin tambahan pahala tsb ttp mjd pahala milik kita? Kita tdk tahu lho, amalan mana yg Allah terima dan memberatkan pahala kita di catatan amal kita.Silakan ditambahkan sendiri dan diimprovisasi … Pembaca boleh saja berbeda pandangan dg tulisan sy. Krn tulisan ini mmg melihat dr perspektif lain, rumahtangga “tanpa ART”. Sekali lg sy bukan tdk setuju tdk perlu ART sama sekali. Tentunya msg2 punya alasan tersendiri. Dan disini jg punya alasan kenapa mamatachi pd ga punya ART .Fakta, bahwa tdk semua orang punya biaya utk menggaji ART, dan dg alasan ttt tdk semua org bisa menggunakan jasa ART.

Mayoritas org Indonesia mungkin ga bisa menggaji ART meskipun sbnrnya mau2 saja punya ART, siapa sih yg ga pingin dikasi asisten yg meringankan tugasnya? Maka utk kalangan mayoritas ini lbh baik bukan “kampanye” ttg pentingnya ART yg disuguhkan kpd mereka, tp motivasi dan contoh nyata bahwa mereka insya allah bisa survive tanpa ART sekalipun, dg pertolongan Allah.Spt sdh sy utarakan, sy sedang belajar hidup tanpa ART dari para mamatachi ini. Barangkali cerita saya ini bisa sedikit membuka cakrawala dan menginspirasi. Jika kita tdk memiliki cukup alasan yg mengharuskan kita memiliki ART, mungkin kita bisa mencobanya, belajar spt mereka. Enjoy your life, Mama! Kamu hebat, insya Allah kamu bisa!

Sumber : Status Facebook Rini Yuniastuti

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed