by

Agama Keadilan : Integrasi Zakat dan Pajak

Dengan konsep semacam itu, diharapkan rakyat akan lebih taat dalam membayar pajak, karena membayar pajak esensinya adalah membayar zakat yang kompatibel dengan perintah agama.

Dampak lainnya, pengelola pajak akan lebih berhati-hati dan tidak mudah korupsi atau berani bermain-main dengan uang pajak, karena pajak tak lain adalah uang zakat.

Terlepas dari gagasan besar Kiai Masdar tersebut, ada beberapa pemikiran lain yang layak didialektikan. Jika pajak pendistribusiannya adalah untuk semua rakyat tanpa terkecuali, maka penyaluran dana zakat khusus hanya untuk delapan golongan, seperti faqir, miskin, gharimin, Ibnu Sabil, dst.

Lalu bagaimana agar hati umat Islam yang diberi limpahan rizki oleh Allah itu tetap menerima dengan ikhlas, antara ketentuan negara (pajak) dan ketentuan agama (zakat)?

Maka, pajak perlu dilihat dengan perspektif subsidi silang dari umat Islam sebagai anak bangsa. Semakin banyak harta seseorang, maka semakin besar pula subsidi sosial yang harus dikeluarkan.

Sementara zakat, sebagai konsep “pembersihan” harta, adalah kewajiban yang sangat utama setelah solat. Zakat bkn urusan privat seseorang, karena hal itu terkait dengan hak-hak orang lain.

Oleh karena itu, pemerintah sebenarnya punya kewenangan untuk mengambil secara paksa hak2 fakir miskin yang ada di dalam harta orang kaya, jika mereka tidak bersedia membayar zakat secara suka rela.

Wallahu A’lam..

Sumber : Status Facebook Semar Bodronoyo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed