by

Tafsir Subyektif

Oleh : Ahmad Sarwat

Problematika tafsir yang paling sering terjadi adalah tafsir subjektif, dimana seseorang menafsiri Qur’an sesuai sudut pandang sempit subjektif dirinya. Anak kecil yang takut hantu pocong kalau bicara siapa musuh kita sesuai ayat Qur’an, maka musuh Allah itu hantu dan pocong. Padahal ayatnya nggak begitu. Tafsirannya aja yang subjektif. Pedagang kaki lima yang diuber-uber satpol PP kalau menafsirkan ayat terkait musuh agama, pastilah satpol PP musuhnya. Padahal ayatnya nggak begitu.

Tafisrannya saja yang subjektif. Pengendara motor yang terjaring razia polisi, kalau menafsirkan siapakah musuh Islam, tentu saja pak polisi itulah musuh Islam. Padahal ayatnya nggak bilang begitu, tafsirannya dia sajs yang subjektif.

Politikus yang lagi tidak akur dengan sesamanya, kalau menjabarkan siapa musuh umat Islam, pasti jawabannya adalah lawan politiknya. Padahal ayatnya gak gitu juga, tafsirannya dia saja yang begitu. Seorang ustadz yang mainnya sama politikus, sering juga keseret-seret memusuhi lawan politik dari temannya yang juga seorang politikus.

Tapi politikus itu kan dinamis dan kayak bunglon mudah berubah warna. Semua tergantung kepentingan sesaat. Kalau dalam Ushul fiqih namanya mashlahat. Kawan dan lawan bisa gonta-ganti posisi dalam sehari, bahkan dalam hitungan menit. Kasihan ustadznya, tiap hari kudu ganti fatwa sesuai pesanan temannya yang politikus.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed