by

Antara Jawa dan Islam

Oleh : Rijal Mumazziq

Sebagai orang Jawa, saya merasa nyaman ketika menyampaikan cerita mengenai kemuliaan akhlak Kanjeng Nabi melalui intonasi dan gaya yang nJawani ketika ngaji. Misalnya, ketika Kanjeng Rasulullah bergaul dengan kaum mustadh’afin (budak, mantan budak, sahabiyah yang sepuh, kaum faqir-miskin, dan seterusnya) maupun ketika beliau bergaul dengan para sahabat yang lugu, kaum Badui, dan anak-anak. Asyik betul.

Karena itu, ketika Mbah Triwibowo Budi Santoso alias Mbahnyut membuat terjemahan sabda Kanjeng Rasulullah dalam bahasa Jawa dan dibentuk seperti meme, citarasanya pas. Manteb dan makjleb. Sebagaimana saat kita membaca aforisme dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah Assakandari versi terjemahan dan ulasan dalam bahasa Jawa yang disusun oleh Kiai Shaleh Darat.

Juga dalam Kur’an Jawi-nya Raden Kiai Bagus Arfah, Tafsir Qur’an Suci-nya Prof. KH. Moh. Adnan, Tafsir al-Ibīz, al-Iklīl, dan kitab-kitab bahasa Jawa yang dianggit oleh KH. Asrori Ahmad Magelang, KH. Achmad Abdul Chamid Kendal, KH. Bisri Mustofa, dan KH. Misbah Zainal Mustofa Tuban. Luwes. Saat ini bisa kita cermati dalam rekaman pengajian KH. A. Mustofa Bisri, KH. Sya’roni Ahmadi Kudus, KH. Jamaluddin Ahmad Jombang, juga KH. Abdul Qoyyum Lasem.

Sebagai orang Jawa, saya sadar, bahasa Jawa juga dikritik terlampau feodalistik-hierarkis. Namun bahasa daerah ini memiliki kelenturan yang khas, yaitu tidak bisa dipakai untuk memprovokasi, khususnya dalam forum resmi seperti khutbah Jum’at. Para khatib yang menyampaikan khutbah dengan intonasi tinggi, maupun dengan nada provokatif dalam bahasa Indonesia, saya nggak yakin mereka bisa mengulang gaya yang sama melalui bahasa Jawa. Ini, misalnya:”Jamaah Jumat ingkang Kawulo minulyaaken, panjenengan kedah pirso bileh Pak Jokowi meniko kagungan asmo Oey Hong Liong. H ingdalem wiwitanipun asmo meniko hanes haji, ananging Herbertus.

Njenengan kedah pirso bileh piyantun Solo puniko gedibalipun tiang Cinten lan Walondo. Pramilo sakmangke kathah tigan ingkang mboten asli, naminipun Kinderjoy. Pirso sedhoyo? MasyaAllah niki. Njenengan kedah pirso. Umat Islam kedah pirso!MasyaAllah, niki sampun dados pratondo bileh Pak Jokowi niki estu Simbah kakungipun Jan Ethes Srinarendra ingkang sampun dadosaken Indonesia niki nagoro Walondo utawi Cinten….Pramilo, poro jamaah jumat, kito kedah waspodo, khawatir bileh Indonesia niki bakal dados negoro Kinderjoy-Land.

Monggo sami cancut taliwondo, berjuang kaleh kulo mugiyo Indonesia dados Shohibul Hajat piala dunia 2034….masyaAllah. Monggo, jamaah jumat! Allahummaghfir Lil muslimin wal muslimat wal mukminin wal mukminat…”Babar blas, intonasi revolusionernya nggak dapat chemistry-nya qiqiqiqi

Sumber : Status Facebook Rijal Mumazziq

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed