by

Zonasi Perguruan Tinggi Negeri

Oleh : Budi Santosa Purwokartiko

Mengapa perguruan tinggi besar yang mapan terutama di Jawa semakin besar dari sisi jumlah mahasiswa? Tiap tahun hampir selalu naik kuota mahasiswa yang bisa diterima. Apakah tidak ada batas kuota untuk universitas besar sehingga akan berhenti memperbesar kuantitas mahasiswanya?Salah satu ukuran kebaikan jumlah mahasiswa yang bisa ditampung suatu universitas adalah rasio dosen dan mahasiswa. Rasio ini tidak bisa dilanggar jika suatu universitas ingin meningkatkan kapasitas penerimaan mahasiswanya. Bagi suatu universitas besar tentu tidak sulit menambah jumlah dosen. Para calon dosen pun sangat berminat bisa menjadi staf pengajar di universitas besar.

Begitu jumlah dosen ditambah maka jumlah mahasiswa bisa ditingkatkan. Kapan berhentinya? Banyak calon mahasiswa lebih memilih kuliah di universitas besar yang mapan meskipun pada prodi yang kurang favorit (menurut persepsi umum) daripada kuliah di PTN daerah meskipun pada prodi yang favorit.Akhirnya PTN sedang dan kecil semakin tertatih-tatih mengejar universitas besar dalam hal mutu. Pemerintah berkepentingan memeratakan mutu pendidikan di seluruh tanah air sehingga SDM juga akan merata dari sisi kualitas. Salah satu kunci pemerataan adalah membatasi kuota univeritas negeri. Dengan begitu universitas besar mapan tetap ada batas atas menampung jumlah mashasiswa.

Cara ini diharapkan akan mampu mengubah pergerakan calon mahasiswa ke PTN sedang dan kecil terutama ke luar Jawa. Fakta lain bahwa sebagian besar PTN Badan Hukum (PTNBH) berada di pulau Jawa dan hanya ada 2 dari luar Jawa menunjukkan dengan jelas bahwa pendidikan tinggi kita kurang merata. Kalau kita perhatikan nilai rata-rata masuk PTN bagus di Jawa bisa terpaut lebih dari 100 poin dibanding mereka yang diterima di PTN di luar Jawa. Ini menunjukkan anak-anak yan berkualitas akademik bagus akan cenderung mengalir ke PTN besar dan mapan. Saat berkunjung ke Jepang saya sempat bertanya mengapa di Jepang berkembang universitas-universitas bagus di daerah bahkan pedesaan. Salah satu jawaban yang saya dapat adalah pemerintah Jepang membatasi kuota universitas negeri bahkan juga swasta.

Dengan aturan seperti itu univeritas-universitas baru yang dikembangkan di daerah misalnya Univeritas Hiroshima mendapatkan kuota yang cukup dan mampu bersaing dengan universitas yang lebih tua. Tidak semua mahasiswa kuliah di universitas besar yang sudah mapan dari sisi mutu. Selain untuk pemerataan pendidikan, tentu saja ini juga akan bagus untuk perkembangan aspek yang lain, baik dari sisi pengembangan SDM di daerah dan juga pemerataan ekonomi.Di AS perguruan tinggi diserahkan kepada pemerintah state atau propinsi. Urusan pengembangan perguruan tinggi cukup sampai pemerintah state. Desentralisasi ini dilakukan dalam rangka pemerataan dan persaingan.

Mahasiswa yang belajar keluar dari state akan dikenai biaya jauh lebih mahal daripada yang berasal dari statenya sendiri. Bahkan tarifnya seperti mahasiswa internasional. Upaya ini tentu saja membawa akibat berupa pemerataan mahasiswa. Tidak semua mahasiswa akan menyerbu PT top di sana. Sekilas kurang fair terutama bagi mahasiswa yang pintar, namun dalam jangka panjang itu akan bagus sebagai upaya pemerataan mutu pendidikan. Dengan tersebarnya mahasiswa berkualitas pada beberapa univeritas pada akhirnya akan meningkatkan universitas itu. Karena diberikan pengelolaan pada state maka mereka bersaing untuk mengembangkan potensi lokal dan kekhasan daerah.

Mereka berkembang tidak atas prakarsa dari pusat tetapi hasil dari kreasi pemerintah daerah. Ketika ide rayonisasi pendidikan dasar dan menengah diluncurkan banyak yang keberatan. Terutama orang tua dan anak-anak yang pintar dan juga belum tersedianya sekolah-sekolah di dekat pemukiman penduduk.

Selama puluhan tahun kita terbiasa memperebutkan sekolah favorit. Hingga lupa melakukan pemerataan. Yang favorit akan makin maju yang underdog makin tertinggal. Rayonisasi dilakukan dalam rangka pemerataan kualitas dan menghilang favoritisme sekolah. Tetapi perlahan sekarang orang tua dan anak didik mulai membiasakan diri untuk bersekolah di sekolah-sekolah yang dekat dari tempat tinggal.Ide rayonisasi pendidikan tinggi tentu akan mengalami banyak tantangan. Entah keberatan terutama dari mereka yang merasa punya kemampuan bagus atau kesiapan SDM di perguruan tinggi kecil menengah.

Tapi jika usaha-usaha itu tidak dilakukan maka brain drain lokal dimana anak-anak pintar dari seluruh tanah air akan mengumpul di PTN bagus juga akan terus terjadi. Upaya pemerataan kualitas SDM akan semakin sulit dilakukan. Akan lebih bagus lagi jika rayonisasi dibarengi dengan desentralisasi pengelolaan PTN dimana aturan tarif dalam propinsi dan luar propinsi seperti di AS bisa diterapkan.. Ini bisa diterapkan secara bertahap. Sambil terus memperbaiki kualitas SDM di daerah maupun di univeritas kecil menengah dan juga perbaikan fasilitas pendidikan tinggi. Tanpa pembatasan kuota, universitas besar dan mapan akan makin matang dan diminati. Sementara universitas baru akan makin sulit mengejar ketertinggalan. Universitas besar dan mapan bisa lebih konsentrasi pada pengembangan pendidikan pascasarjana dengan penelitian dan publikasinya. Mereka bersaingnya di kelas internasional. Universitas besar perlu membatasi pembukaan prodi tingkat sarjana. Mereka sebaiknya lebih fokus pada peningkatan kualitas pendidikan pasca sarjana.

Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed