by

Kebenaran Ganda

Oleh: Luthfi Assyaukanie

Saya ingin melanjutkan postingan sebelumnya, tentang ilmuwan Muslim. Bagaimana para filsuf dan ilmuwan Muslim di era keemasan Islam bertahan hidup di tengah kecaman dan pengafiran terhadap mereka?

Penjelasannya panjang. Tapi saya ingin meringkasnya dengan dua kata: kebenaran ganda. Para filsuf dan ilmuwan Muslim itu bisa bertahan karena mereka meyakini bahwa kebenaran bukan hanya ada pada wahyu (naql, quran), tapi juga pada akal (hikmah, falsafah).

Itulah kebenaran ganda. Satu datang dari wahyu, dan satu lagi datang dari akal. Al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rushd, dan kaum rasional Muslim lainnya percaya bahwa menjadi Muslim bukan berarti menjadi bodoh dan tertutup. Orang tetap bisa menjadi Muslim tapi menjadi rasional sekaligus.

Di tengah gelombang Helenisme yang menimpa Baghdad abad ke-7 dan ke-8, tak ada pertahanan yang lebih kokoh bagi iman seseorang ketimbang kebenaran ganda. Ibn Rushd memformulasikan konsep “kebenaran ganda” ini dengan sangat baik.

Baginya, wahyu dan akal itu seperti saudara kandung (ukht al-rada’ah), yang berasal dari sumber yang sama. Seperti umumnya hubungan saudara, wahyu dan akal ini kadang serasi, kadang konflik. Kalau serasi sih oke, gak ada masalah.

Tapi kalau konflik, gimana ngatasinya? Di sinilah peran krusial Ibn Rushd. Jawaban yang diberikannya tak terperikan, mengguncang jagat pemikiran abad ke-13 dan ke-14 Eropa.

Penjelasan Ibn Rushd tentang harmonisasi akal dan wahyu melahirkan gerakan Averoisme, yang menggetarkan Paris, Milan, dan kota-kota besar Eropa lainnya. Inilah jawaban Ibn Rushd: Jika akal dan wahyu berbenturan, maka dahulukanlah akal.

Caranya, dengan menafsirkan wahyu. Kenapa wahyu harus ditafsirkan? Karena wahyu sudah berhenti sementara akal terus hidup. Yang hidup harus memberikan nafas pada yang berhenti, agar tetap hidup.

Dengan keyakinan semacam itu, para filsuf dan ilmuwan Muslim bekerja, menulis buku, mendirikan rumah sakit, membangun astrolab, dan mengamati bintang-bintang.

Mereka tak pedulikan para ulama yang menghujat mereka lima kali sehari. Bagi mereka, akal adalah karunia Allah dan tak ada yang lebih mulia ketimbang menghargai karunianya.

(Sumber: Facebook Luthfi Assyaukanie)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed