by

Suami Istri Layaknya Pakaian

Oleh : Muhammad Nurdin

Sepotong kalimat ini, tiba-tiba muncul, persis sebelum ayam pelung tetangga berkokok. “…hunna libatsul lakum, wa antum libatsul lahunna..”Yang artinya, mereka (istri) adalah pakaian kalian (suami), dan kalian adalah pakaian mereka.Mengapa hubungan di antara suami-istri dilukiskan dengan kata pakaian? Seolah-olah, tujuan dari pernikahan itu sendiri adalah terwujudnya pakaian rumah tangga yang indah.

Dalam Surah Al-‘Araf dikatakan, “Wahai Bani Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepada-mu pakaian untuk menutup auratmu sebagai perhiasan, dan pakaian takwa itulah yang terbaik. Yang demikian itu ada-lah sebagian dari hukum-hukum Allah, supaya mereka mendapat nasihat.”

Memang fungsi dari pakaian adalah untuk menutup aurat. Meski fungsi tersebut makin bergeser dan meluas seiring perkembangan zaman. Pakaian tak lagi melulu soal cara menutup, tapi ia telah menjadi cara untuk seseorang menjadi apa yang ia khayalkan dan impikan. Tapi fungsi menutup tak pernah bisa dihilangkan. Meski kita sering berdebat sengit soal standar dari menutup itu sendiri. Kita bisa saling menghakimi soal itu.Dan Quran menyebutkan bahwa pakaian yang terbaik adalah pakaian takwa. Yakni, pakaian yang bisa menutupi segala kelemahan, keburukan dan kedurjanaan kita. Itulah sebaik-baik pakaian.

Begitu pun dengan pernikahan. Ketika tujuan pernikahan adalah meraih pakaian di antara suami-istri, maka yang dimaksud itu adalah pakaian takwa.Suami-istri diperintahkan untuk menjadi pakaian yang menutupi kelemahan masing-masing. Bahkan, lebih dari itu, tak cuma mampu menutupi, suami-isteri juga harus melangkah untuk saling menghilangkan kelemahan dan keburukan di antara mereka. Lalu perangai dan akhlak mereka akan menjadi pakaian yang menyenangkan setiap orang yang melihat. Suami-isteri yang gemar mengumbar aib pasangannya, menguliti setiap detil kelemahan pasangannya, sampai banyak orang tahu dan ikut dalam kubangan gunjing yang tak berkesudahan, artinya, mahligai pernikahan telah gagal menyulam tenun pakaian takwa yang menjadi petunjuk suci Quran Karim.

Apapun kelemahan pasangan kita, bagaimana pun itu telah menjadi simalakama dalam kehidupan rumah tangga kita, teruslah menjadi pakaian yang indah baginya, sebagaimana Allah dengan sifat Sattar-Nya merupakan Wujud Yang Maha Menutupi aib, kelemahan dan keburukan kita.

Kalau seorang suami sampai mengatakan ke publik, istrinya telah 7 kali turun mesin, seolah bangunan rumah tangga itu runtuh menimpa sang istri. Ia hanya bisa membisu, memilih untuk menelan bulat-bulat rasa nyeri dan perih atas aib dan semua salah yang dialamatkan untuk dirinya.

Dan rasa nyeri itu ditambah lagi kadarnya dengan sebuah keputusan yang halal tapi Allah benci, ya perceraian. Padahal siapa yang paling menderita saat itu? Siapa yang berada di titik rapuh saat itu?Tapi seorang istri adalah ibu. Ya ibu yang selalu siap menanggung tiap derita dan nestapa. Ia hanya bisa berteriak dalam sunyi. Mengeluh dalam diam. Dan memohon jalan keluar dalam banjirnya air mata.

Sumber : Status Facebook Muhammad Nurdin

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed