by

Agama Punya Seribu Nyawa

Oleh : Mamang Haerudin

Judul di atas sebetulnya saya pinjam dari Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. Judul itu merupakan salah satu judul buku Prof Komar yang sangat renyah. Dengan kata lain, agama punya seribu nyawa itu sampai kapan pun agama tidak akan bubar, apalagi hanya karena wabah Covid-19. Kita tidak boleh mempersempit makna agama. Jika ada satu pihak atau berapa saja pihaknya yang telah mencatut nama agama atas kegagalannya, itu sama sekali tidak merepresentasikan agama itu sendiri.

Kita harus membedakan mana itu agama dan mana itu orang yang beragama. Sebab apa lagi? Orang yang menulis dan menganggap bahwa agama telah bubar karena Covid-19 atau karena hal lainnya, ternyata juga orang yang menganut agama. Tidak bijak kiranya jika saya atau siapa pun yang masih beragama menyatakan bahwa agama telah bubar atau mati karena kegagalannya dalam mengatasi Covid-19. Di sinilah letak pentingnya memahami psikologi agama, buku laris juga ditulis Prof. Komar.

Kita tidak boleh kehilangan makna dasar agama sebagai elemen dasar dalam hidup manusia agar kehidupan ini tidak kacau. Covid-19 ini justru tantangan bagi umat manusia, yang mengaku beragama atau tidak, agar kita terus mengoptimalkan akal pikiran. Agar kita tidak serakah, berbuat zalim, melakukan tindakan yang mengeksploitasi, dan seterusnya. Justru harusnya kita mengoptimalkan ilmu pengetahuan. Terlebih pemikiran keagamaan agar kita bisa menjangkau sejauh mana manfaat dari agama itu sendiri.

Agama dengan segala macam aliran di dalamnya harus kita anggap sebagai keberagaman. Keberagaman yang kerap kita anggap sebagai anugerah bukan musibah.Ada juga orang yang kesal dengan agama–sebetulnya sih kesalnya dengan orang yang beragama tetapi beda aliran, kesal dengan orang yang menjadikan ayat Al-Qur’an, hadis Nabi atau bacaan-bacaan zikir lainnya sebagai salah satu cara mendapatkan kesembuhan dan keberkahan. Padahal yang kesal itu sepertinya tidak sadar juga orang yang membaca Al-Qur’an dan hadis dengan niat mendapat kesembuhan dan keberkahan atau tidak sebetulnya sama saja. Jadi janganlah kita emosional, sinis, tetapi tetap sikapi segala sesuatu dengan proporsional. Wallaahu a’lam

Sumber : Status Facebook Mamang M Haerudin (Aa)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed