by

Tentang Tafsir dan Versi dalam Beragama

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Artis Yatti Octavia yang mengorbit lewat film “Intan Perawan Kubu” pernah menjadi bintang utama film “Gadis Panggilan” dengan poster yang seronok dan beredar di tahun 1976. Sedangkan Umi Elvy Sukaesih si Ratu Dangdut kita yang belum tergoyahkan singgasananya, pernah jadi model kalender bikini terbitan tahun 1979. Kedua duanya sudah jadi nenek dan kini tampil krukuban. Sudah hijroh. Saya tidak sedang membuka aib artis senior kita. Saya ingin menegaskan bahwa masyarakat dan bangsa kita sudah lama ke arah moderat liberal. Dan kini tengah belok mengarah ke puritanisme. Fundamentalisme.

Intoleran di antara sesama anak bangsa yang beda agama. Dan jadi radikalis dalam beragama dan berbangsa. Sejak awal 1970an, yaitu sejak saya bisa buka buka majalah hiburan, nebeng baca majalah pinjaman kakak, di kampung halaman – kita sudah biasa melihat wanita pamer paha dan belahan dada. Pakaian tradisional dari berbagai daerah kita juga menampilkan jahitan yang mengeksplorasi lekukan tubuh. Tidak ada masalah.

Masalahnya datang dari banjirnya ajaran puritanisme baru dan fundamentalisme agama yang telah menyusup ke berbagai lini di tengah kehidupan masyarakat kita dan mendapat corong, amplifier dan Toa – yang memudahkan segala sesuatu diharamkan. Ditolak. Dengan ekspresi kebencian. Memaksa dan mengingkari keberagaman, pluralisme dan perubahan zaman. Lalu mereka mendorong agar wanita kita, wanita Indonesia – pakai pakaian versi mereka. Versi gurun pasir di abad ke enam masehi.

“Zaman sekarang lebih mudah lihat paha wanita daripada paha ayam kampung, ” teriak seorang seorang ustadz kondang. Pendakwah yang sama pernah menyatakan bahwa penampilan wanita yang sexy mengurangi amal ibadah para laki laki yang ingin menjadi muslim taat. Saya merasa saudara saudara sebangsa saya sedang dibodohi. Dicuci otak agar menjadi picik. Dibikin sibuk dengan pakaian sementara teknologi dan globalisasi telah begitu pesatnya. A.I. – Artificial Intelleligent alias kecerdasan buatan sudah menggantikan sebagian tugas manusia. Orang Indonesia sedang didorong ke Arab araban – sementara orang Arab sedang mengarah ke modernisme dan kebarat baratan.

SEBENARNYA buat apa belajar agama jika kita sebagai manusia tidak bisa menahan syahwat? Tidak bisa menahan nafsu? Mengalihkan pandangan dari yang kita anggap tidak layak dilihat? Para pegawai bank melihat tumpukan uang setiap hari. Sangat menggoda. Bukankah tumpukan uang godaan yang nyata? Tapi mereka dilatih untuk menahan diri, hanya bisa melihat, memegang dan menghitungnya. Bukan memiliki. Berapa di antara mereka – para pegawai bank itu – yang berubah jadi pencuri? Sangat sedikit.

Kita bisa melihat BMW, Mercy, Alpard lalu lalang di jalanan dan di parkiran mall atau hotel dan cukup puas hanya melihatnya, mengaguminya, tanpa harus menyentuh dan memilikinya. Berapa banyak tukang parkir dan penjaga mobil jadi pencuri? Ada. Tapi sangat sedikit. Tidak bisakah sudut pandang kita dalam beragama diarahkan seperti itu? Melihat adalah satu hal. Memiliki adalah hal lain. Sebagian besar laki laki kita terpesona pada kecantikan Dian Sastrowardoyo dan Syahrini. Tapi semua laki laki tahu mereka sudah punya suami dan bahagia dengan suaminya. Jadi kita cukup melihat saja. Tak perlu berupaya memiliki. Bahkan kepada Luna Maya, Sophia Lacuba dan Yuni Shara kita tak banyak berbuat – meski mereka berstatus sendiri dan terbuka.

Kita yang waras bisa menahan diri. Lebih tepatnya tahu diri. DARI saudara-saudara kita di pulau Bali sesungguhnya kita diajarkan bahwa kekhusukkan ibadah agama tidak bergantung pada kehadiran mereka yang berbeda. Mereka tetap menjalankan ibadah dan upacara agama mereka, sembahyang meski bule bule molek berbikini lalu lalang di sekeliling mereka. Mereka, saudara saudara kita dari Hindu Bali itu – sudah berhasil menahan diri. Menahan pandangan matanya. Menahan nafsu seksnya.

Sedangkan muslim, dalam tafsir para ustadznya, belum. Para pendakwah menganggap penampakan keindahan kaum wanita sebagai dosa. Tapi diam diam menikmatinya dan mempoligami mereka. Munafik! Sebagai muslim dan bagian dari mayoritas moderat, saya merasakan, kita kebanjiran penafsir agama yang sempit dan picik. Puritanisme baru. Banyak pendakwah yang menafsirkan ajaran agama sebagai komoditi dan senjata untuk melecehkan. Utamanya melecehkan kecerdasan. Menghina akal sehat! Kebenaran tunggal yang berhasil dicangkokkan kini, kaum wanita kita harus menutup aurat sebagaimana tafsir dari perintah agama dari kitab suci versi mereka. Versi gurun pasir. Bukan versi Bumi Nusantara – tanah air kita.

Saya ingin ingatkan bahwa Afganistan dan Pakistan pernah seperti kita di sini. Moderat. Lalu datang kaum Taliban yang bersorban dan menghancurkan tatanan, sehingga keduanya jadi negeri puritan. Dua duanya menghina akal sehat dan menjadikan ajaran agama untuk merendahkan kemanusiaan. Dua hal pokok yang problematik dalam praktik keagamaan di Pakistan dan Afganistan yang sedang merambat ke negeri kita saat ini adalah “tafsir” dan “versi” – yang diklaim sebagai kebenaran tunggal yang kini cenderung dipaksakan. Bahkan dijadikan aturan pemerintah. Khususnya pemerintah di daerah daerah tertentu. Para teroris yang nekad bunuh diri di depan gereja menghayati dan mempraktikkan “tafsir” ajaran agama bahwa selain muslim pantas dibunuh. Halal darahnya.

Merujuk pada ajaran “versi” mereka. Sudah ada di tengah kita. “Nasionalisme tidak ada dalilnya, ” menurut tafsir pendorong negara khilafah. Dan dia menolak Pancasila. Pancasila adalah toghut. Berhala. Penafsir itu pun sudah ada di tengah kitaKelompok intoleran menganggap pendirian rumah ibadah bagi umat agama lain tidak layak di tengah komunitas mayoritas suatu agama .

Juga sudah ada di tengah kita Terbaru di Solo, makam makam warga non muslim dirusak oleh anak anak atas anjuran guru sekolah mereka. Sudah terjadi peristiwanya. Sekali lagi mereka mengajarkan dan mempraktikkan ajaran yang merujuk dari sumber yang sama – kitab suci yang sama dari nabi yang sama – tapi dengan “tafsir” dan “versi” yang berbeda.

KEHIDUPAN beragama kita semakin menegangkan sekarang ini dan begitu kasat mata. Kita menjadi begitu dekat dengan bangsa asing, Palestina dan Myanmar atau suku Uighur – hanya karena satu agama – padahal secara geografis begitu jauh. Sedangkan dengan saudara sebangsa yang begitu dekat jadi menjauh – hanya karena beda agama. Padahal tinggal di lingkungan yang sama. Makan, minum dan gaul di tempat yang sama dari tanah air yang sama! “Meski agama dan suku berbeda – lagu kita masih sama, yaitu ‘Indonesia Raya’… ” kata penganjur nasionalisme, realitas politik dan peradaban di abad 21 kini. Dan mereka berteriak, “nasionalisme tidak ada dalilnya”, “menghormati bendera itu haram, tidak ada di zaman nabi” “menyanyikan lagu kebangsaan tidak wajib”

Dan para pengikut penafsir dungu dari dunia masa lalu itu menganggguk angguk saja, mengiyakan. Jajaran aparat dan pejabat negara pun – yang seharusnya menindak – cenderung membiarkan karena asyik dan sibuk mengurus proyek dari APBD dan APBN. Asyik kong kalikong. ***

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed