by

Siapa Melawan Kebijakan Gibran Copot Lurah Gara-Gara Pungli?

Oleh : Musrifah Ringgo

Paska pencopotan lurah Gajahan Solo, terlihat ada yang mencoba melawan kebijakan Gibran. Hanya saja mereka melawan dengan tertutup yakni memasang poster dan spanduk diseputar Kelurahan Gajahan. Tidak ada yang pasang badan alias tidak ada yang mengaku siapa pemasangnya. Padahal setiap kelurahan 24 jam dijaga oleh Linmas. Artinya jika ditanya siapa pemasangnya pasti ketahuan. Pastinya Walikota tidak akan menelisik karena baginya pelaku pungutan liar sudah mendapatkan sanksi.

Seperti diketahui bahwa terjadi pungutan liar pada pengusaha di kelurahan Gajahan dengan dalih zakat. Pungutan itu dilakukan dengan mengirim surat bertandatangan lurah pada pelaku usaha dikawasan selatan Kota Solo itu. Namun tak lama, begitu diketahui, Lurah langsung dicopot keesokan harinya Minggu (2/5). Hal itu diungkapkan Gibran kepada wartawan setelah upacara Hari Pendidikan Nasional di Balaikota Surakarta. Menurut pria usia 33 tahun itu, dirinya tak mentolerir pungutan liar. Apalagi disaat kondisi pandemi, semua mestinya harus saling bahu membahu berperan diwilayah masing-masing agar perekonomian Solo kembali bangkit.

Tidak hanya mencopot yang bersangkutan, Gibran juga berkeliling mengembalikan uang yang sudah diserahkan kepada para pengusaha. Dalam video yang tersebar dirinya menegaskan para pelaku usaha harus berani menolak, bila perlu memfoto orang serta surat yang diedarkan. “Jangan membenarkan yang biasa namun biasakan yang benar. Ya bu, harus berani. Ini uangnya saya kembalikan dan saya meminta maaf” ujarnya pada beberapa pelaku usaha. Sebuah upaya yang patut kita acungi jempol, masih muda, menghadapi bawahan yang melanggar dan dirinya berani meminta maaf.

Tak berselang lama, Minggu malam terlihat beberapa poster dan spanduk di tembok pembatas kelurahan Gajahan bertuliskan “save lurah”, We Trust Suparno”, “Jadi Warga Jangan Manja”, “Lurah Hebat koq Dipecat” dan lain-lain.

Nampaknya ada sekelompok orang yang merasa terganggu dengan kasus ini dan yang jelas yang terganggu kepentingannya pasti akan berontak. Beberapa informasi menyebutkan kebiasaan ini sudah berjalan beberapa tahun. Padahal pemerintah daerah itu dilarang melakukan pungutan tanpa dasar yang jelas. Apalagi berdalih untuk zakat, karena sudah ada lembaga tersendiri yang mengurusi hal ini.

Pungutan-pungutan ini meski kesannya kecil tapi sikap membiarkan kelak akan berbahaya. Inilah sikap-sikap atau bibit ASN melakukan tindak pidana korupsi. Oleh karena itu sudah tepat Walikota melakukan tindakan tegas. Sebab membiarkan hal kecil, tradisi tidak baik, melanggar aturan sejak awal menjabat agar dimasa mendatang dia bisa berkonsentrasi urusan yang lebih penting. Kasus ini menjadi warning bagi ASN di Pemerintah Kota Solo untuk tidak main-main menjalankan tugas. Sebenarnya ini tindakan tegas kedua Walikota setelah tindakan pertama mencopot seorang guru yang kedapatan menjadi istri kedua.

Mas Wali, tetap pertahankan dan tingkatkan terus pengawasan. Jangan sampai ada ASN yang main-main baik melanggar aturan maupun tindakan-tindakan lain yang tidak pantas dilakukan oleh pamong praja. Jangan pernah takut dimusuhi mereka karena rakyat Solo pasti akan total mendukung semua kebijakan yang membawa manfaat bagi Kota.

Selamat bekerja mas Wali

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed