Superior, Inferior dan Interior

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Topik bahasan TS kali ini adalah tentang kata “inferior”, “superior”, dan “interior”. Kata-kata ini menarik karena sama-sama berakhiran “erior”. Nak-kanak, mari kita bahas satu per satu kata-kata ini.

Sebelumnya, perlu anda ketahui kalau Bahasa Indonesia itu awalnya (sampai kini) banyak yang “creole” atau “gado-gado” – campuran atau serapan dari berbagai bahasa asing: Melayu, Jawa, Sansekerta, Inggris, China, Arab, Belanda, dlsb. Hal itu karena “teritori” yang bernama “Indonesia” itu kan baru lahir belakangan.

Dulu kan adanya Jawa, Sumatra, Sulawesi, Maluku, Bali, Kalimantan, dlsb. Oleh sebab itu, kalau membahas kata “bahasa Indonesia” akan lebih bagus kalau dibahas juga akar kata asalnya (tentu saja kalau kata itu berakar dari bahasa asing).

Mari kita bahas satu per satu. Pertama, inferior. Apa arti kata inferior ini? Kalau dilihat di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata ini memiliki dua arti, yaitu (1) “bermutu rendah” dan (2) merasa rendah diri (kiasan).

***

Karena kata ini bersumber dari Bahasa Inggris, mari kita cek kata “inferior” ini dalam Bahasa Inggris. Anda bisa lihat di Merriam-Webster Dictionary, Cambridge Dictionary atau lainnya. Silakan saja.

Dalam Bahasa Inggris, kata “inferior” ini bisa “kata benda” (noun) atau “kata sifat” (adjective). Sinonim dari kata “inferior” ini cukup banyak, antara lain, lower atau nether. Kalau lawan kata inferior: superior, higher, upper. Arti atau maknanya juga cukup beragam atau warna-warni ternyata.

Misalnya, (1) kurang penting, bernilai, atau bermanfaat (contoh: “Dia merasa inferior di mata kakak kesatunya”; (2) pangkat atau jabatan rendah / lebih rendah (contoh: “Sebagai lurah, jabatannya inferior ketimbang camat”); (3) kualitas/mutu rendah (contoh: “Kualitas barang ini inferior”); (4) Merasa rendah diri (contoh: “Karena tampangnya pas-pasan, ia merasa inferior”); (5) strata atau “kelasnya” nya di bawah (contoh: “Hansip itu jabatan inferior”). Dan sebagainya.

Sekarang contoh kata “inferior” sebagai “kata sifat”. Ya misalnya, orang Enggres sering bilang, “inferior education” (maksudnya, mutu pendidikannya rendah atau “poor quality”). Kalimat “inferior education” ini berbeda dengan, misalnya, “inferior court” (kalau yang ini maksudnya, lembaga pengadilan tertentu posisi, strata, atau signifikasinya lebih bawah/rendah ketimbang institusi pengadilan lain).

Beda lagi dengan kalimat “inferior priority”. Kalau yang ini maksudnya “nggak penting-penting amat” (aktivitas, destinasi, posisi, barang, dlsb). Kalau kalimat “inferior officer”? Kalau ini maksudnya jabatan rendahan yang tidak mempunyai pengaruh apa-apa.

Menariknya, kata inferior ini juga dipakai untuk menerangkan organ tubuh yang posisinya berada di bawah organ tubuh lain. Jadi misalnya, “Manuke Mukidi itu inferior karena letaknya di bawah wudel”. Selain “kata sifat”, kata inferior dalam bahasa Inggris juga bisa sebagai “kata benda” (yaitu seseorang yang dianggap kurang penting ketimbang yang lain).

***

Nah, murid-murid, kalau melihat beragam definisi di atas, maka sebetulnya semua umat manusia di dunia ini pada hakikatnya adalah (menjadi atau sebagai) “makhluk inferior”.

Hal itu karena, katanya, “diatas langit masih ada langit”. Pula, karena manusia itu “makhluk interdependent” yang bergantung dengan lainnya dan sesamanya. Hanya Tuhan (itupun kalau anda percaya eksistensi-Nya) yang sejatinya “the real superior” atau yang berhak mengklaim sebagai “superior” (lawan dari inferior) sejati.

Dengan kata lain, “superioritas” manusia itu semu belaka. Yang hakiki adanya adalah “inferioritas”. Coba kasih contoh orang di dunia ini yang benar-benar “superior” atau tidak “inferior”? Mungkin anda merasa menjadi “superior” di rumah atau dalam rumah tangga karena kebetulan menjadi “kepala rumah tangga” tapi tidak di tempat lain.

Atau merasa superior di sekolah karena kebetulan menjadi “kepala sekolah” tetapi tidak di tempat lain. Begitu seterusnya. Dalam antropologi, masyarakat dibagi, diklasifikasi, atau dikategorisasikan menjadi tiga kelompok: “egalitarian society”, “rank society”, dan “stratified society”.

Dari sini kita tahu bahwa semua kelompok masyarakat di dunia ini tidak ada yang betul-betul superior tak tertandingi kekuasannya. Bahkan masyarakat yang masuk kategori “egalitarian society” pun seperti “foragers” atau hunters-gatherers, ada hirarki atau kelas sosial meskipun tak tampak jelas.

Jelasnya, tidak ada orang yang mutlak 100 persen “superior”. Karena itu, kalau ada yang bilang, “Kamu ini inferior.” Jawab saja: “Emang kamu nggak?” qiqiqi. Orang Indonesia yang menjadi Muslim, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu dan seterusnya pada dasarnya menunjukkan kalau kalian itu “makhluk inferior” (dengan produk budaya dan agama asing). Ini hanya contoh kecil saja.

Contoh lain, orang-orang Indonesia yang ala-ala Barat, ala-ala Koreah, ala-ala Turki, atau ala-ala Arab, semua menunjukkan inferioritas. Dari tadi ngomong inferior dan superior melulu. Lalu kata “interior” itu apa dong? Kalau interior sih gampang. Itu artinya “bagian dalam”. Jadi, kata celana kolor, celana dalam atau sempak dan cawet itu bisa disebut “celana interior”.

(Sumber: Facebook Sumanto Al Qurtuby)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *