by

Babi, Trending Ramadhan Berturut-Turut?

Oleh : MIla Anasanti

Ada apa ini? Kenapa trending topik Ramadhan justru Babi yang diharamkan al-qur’an [QS. Al-Baqarah : 173]? Belum lama viral ngepet, sekarang udah viral lagi jadi kuliner mudik? Seolah Allah ta’ala ingin menunjukkan, jika rakyat dan pemimpin tidak jauh berbeda.Jika dalihnya disebutkan tidak sengaja, karena merujuk keberagaman ummat di negara kita, maka momennya tidak tepat karena diajukan pada saat bulan suci Ramadhan, dalam konteks oleh-oleh mudik. https://kabar24.bisnis.com/…/jokowi-promosikan-bipang…

Sama halnya alasan tidak sengaja merekayasa babi ngepet agar masyarakat tidak panik uangnya hilang. https://www.cnnindonesia.com/…/pelaku-sebut-isu-babi…Lihat, bagaimana pemimpin cerminan dari rakyatnya? Sama-sama tidak sengaja kok.Bedanya, kalau rakyat meski tidak sengaja tapi membuat kericuhan, maka layak masuk penjara, kalau pemimpin punya kuasa.https://kumparan.com/…/ustaz-adam-penyebar-hoaks-babi…

***Mungkin kita kesal dengan fenomena ini. Tapi, inilah bukti PR kita masih banyak. Kewajiban kita meluruskan yang keliru tidak hanya ke pemimpin di atas, tapi juga rakyat di bawah. Mengkritisi, meluruskan kekeliruan adalah kewajiban kita bersama. Kita berharap Bapak presiden berendah hati meminta maaf, tidak memicu isu sensitif di saat masyarakat sakit hati atas larangan mudik di saat wisata malah dibuka. Tapi dari sisi kitapun jangan sampai berubah jadi makian apalagi do’a-do’a buruk.

Do’a buruk pada pemimpin sejatinya akan kembali pada yang dipimpinnya, karena keburukan pada pemimpin akan berimbas pada rakyatnya.Sudah cukup viral di bulan Ramadhan, jangan sampai kelak Babi jadi pemimpin sebagaimana Imam Thabrani meriwayatkan dari Hasan al-Bashri rahimahumallah:”bahwa ia mendengar seorang laki-laki mendoakan keburukan untuk al-Hajjaaj (seorang pemimpin yang kejam), lantas ia berkata, “Janganlah kamu lakukan itu! Kalian diberikan pemimpin seperti ini karena diri kalian sendiri. Kami khawatir, jika al-Hajjaaj digulingkan atau meninggal, maka monyet dan babi yang akan menjadi penguasa kalian, sebagaimana telah diriwayatkan bahwa pemimpin kalian adalah buah dari amalan kalian dan kalian akan dipimpin oleh orang yang seperti kalian” (Kasyfu al-Khafaa 1/148).

****Banyak di antara kita kecewa atas larangan mudik, meskipun untuk kemaslahatan, tapi justru ada anjuran wisata dan sebagainya. Mungkin kita merasa tidak adil, dipaksa taat kalau tidak didenda.Tapi itulah yang Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan, bahkan bagi pemimpin yang seper lalim sekalipun beliau tetap menganjurkan taat:”Nanti setelahku, akan ada pemimpin-pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dari petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang berhati setan berbadan manusia.” Aku berkata, “Wahai Rasulullaah, apa yang harus aku lakukan jika aku mendapatkan zaman seperti itu?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dengarlah dan ta’atlah kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.”Kalau melihat hadits ini, mentaati pemimpin yang dzalim, apakah ini adil? Percayalah segala kedzaliman tidak akan luput dari perhitungan-Nya. Tapi, dengan ilmu kita berusaha menghindarkan mudharat yang jauh lebih besar. Keburukan penguasa akan berimbas pada rakyatnya, karenanya kita diperintahkan bersabar dan tidak mendoakan yang buruk.

Kita terus meluruskan yang keliru baik di masyarakat maupun pemerintah, tapi wajib diiringi niat dan doa agar keadaan menjadi lebih baik sebagaimana yang diajarkan syariat. Dan jangan lupa segala sesuatu harus dimulai dari kita sendiri. Karena pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya.“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar Ra’du [13] : 11).Jika diri masih percaya takhayul dan khurafat, maka saatnya banyak bertaubat dan mendekati majlis ilmu.Jika aqidah sudah selamat, periksa apakah di keluarga masih ada yang tidak. Barangkali ada kewajiban kita untuk mengingatkan belum tertunaikan. Jika diri dan keluarga selamat, periksa tetangga sekitar, lagi-lagi kewajiban kita untuk mengingatkan mereka.Dan seterusnya ….

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed