by

Anak-Anak Diajarkan Intoleransi di Rumah Belajar, Gibran Geram

Oleh: Amaranta Ursula

Belasan makam di Taman Permakaman Umum Cemoro Kembar, Solo, dirusak. Anehnya, makam yang dirusak hanya makam orang-orang Nasrani. Yang mengagetkan, pelakunya adalah sejumlah anak-anak kecil.

Diduga kuat, peristiwa intoleransi dalam bentuk perusakan makam ini akibat doktrin pendidikan yang diterima anak-anak itu di sebuah rumah belajar agama. Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, geram dan meminta mereka yang terlibat diproses hukum.

Aksi perusakan makam dilakukan sekitar 10 anak di TPU yang terletak di Kelurahan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, pada 16 Juni 2021. Anak-anak itu merusak batu nisan pada 12 makam. Anak-anak tersebut diketahui sebagai anak didik sebuah rumah belajar agama yang lokasinya tak jauh dari makam. Menyusul terjadinya peristiwa itu, polisi pun melakukan langkah-langkah penyelidikan.

Gibran mengatakan proses hukum bakal diterapkan kepada guru dan anak-anak dari rumah belajar agama yang mengajarkan perusakan. Hukuman bukan tidak mungkin akan dijatuhkan bila memang terbukti mereka bersalah melakukan perusakan makam. Walikota 33 tahun ini menilai tindakan tersebut sebagai intoleransi, dilihat dari adanya unsur SARA sebagai motif perusakan. Dia juga sangat menyayangkan aksi ini dilakukan oleh anak-anak.

Sementara itu Gibran juga menyoroti keberadaan rumah belajar agama tersebut. Dia mengaku akan menutup sekolah itu karena tidak memiliki izin dari pemerintah. Dengan tegas suami Selvi Ananda ini meminta rumah belajar itu ditutup karena mengajarkan hal-hal yang nggak bener.

Masalahnya rumah-rumah belajar agama yang cenderung radikal seperti itu sekarang terasa makin marak saja keberadaannya. Bisa diduga sejumlah rumah belajar agama menjadi tempat indoktrinasi ajaran agama radikal sejak masa kanak-kanak. Selain membaca Alqur’an, misalnya murid diajarkan bahwa musik haram, tidak boleh hormat kepada Sang Saka Merah Putih dan dilarang merayakan ulang tahun.

Coba cek di kanan-kiri Anda. Jangan-jangan di dekat Anda juga ada. Perhatikan siapa saja yang datang dan pergi ke rumah belajar. Apakah anak-anak sekitar atau dari tempat-tempat yang jauh?

Acap kali justru tempat belajar itu bukan menampung anak-anak sekitar. Anak-anak datang dari tempat-tempat yang agak jauh. Bukan penduduk asli kampung yang bersangkutan. Mereka diantar dengan motor atau dijemput mobil. Lalu dipulangkan siang atau sore harinya.

Biasanya rumah-rumah belajar agama seperti itu tiba-tiba saja berdiri di tengah perkampungan. Dari hanya mendidik sedikit anak di sebuah ruangan, lalu akan menjadi kelas dengan banyak anak. Kemudian akan menjadi beberapa kelas. Lalu mereka mulai membeli lahan-lahan yang berdekatan untuk memperluas fasilitas belajar.

Kalau melihat yang seperti ini, sebaiknya warga kampung tidak abai. Bila ada gelagat mencurigakan, segera laporkan kepada aparat yang berwenang. Jangan sampai sudah terjadi perusakan makam baru sadar. Ini baru makam yang dihuni orang mati. Kelak bila dibiarkan, bukan tidak mungkin yang akan mereka serang adalah orang-orang hidup dan siapa saja tanpa pandang bulu. Siapapun yang berbeda dari mereka akan mereka libas.

Karena mereka merasa sebagai yang paling benar dan tak mampu menerima perbedaan. Dampak lanjutannya bisa dibayangkan. Bisa lebih mengerikan lagi. Ingat, intoleransi adalah bibit dari radikalisme. Radikalisme adalah bibit dari terorisme. Bukan tidak mungkin yang terjadi di Suriah akan terjadi di Ibu Pertiwi tercinta. Semoga saja tidakā€¦

Apa yang dilakukan Gibran, meminta rumah-rumah belajar yang mencurigakan dan tak berizin ditutup, sudah benar. Namun keberadaan rumah-rumah belajar intoleran ini tidak hanya di Solo. Mereka, kaum intoleran, telah membangun sel-sel yang kecil-kecil seperti ini di seluruh tempat, di berbagai sudut kota dan desa.

Mereka sesungguhnya mudah dikenali karena dalam tingkah laku dan sikap keseharian saja sudah tidak lazim. Yang paling kentara adalah mereka tidak bisa menerima perbedaan. Mereka hanya bergaul dan bertransaksi dengan sesama mereka. Mereka menjauhi bahkan membenci yang berbeda, hingga harus merusak makam-makam kaum berbeda agama. Jangankan beda agama. Agamanya sama tapi beda tafsir saja dijauhi.

Semoga para kepala daerah bersikap seperti Gibran. Bersikap tegas terhadap setiap tindakan intoleransi. Dan bukan malah memanfaatkannya. Sebab di luar sana ada juga kepala daerah yang malah merasa diuntungkan dengan adanya potensi intoleransi. Potensi intoleransi justru dipupuk agar bisa menangguk keuntungan politik sesaat, padahal sadar akibatnya akan menghancurkan seluruh negara.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed