by

Pembacaan Indonesia, Refleksi atas Perusakan Makam Bertanda Salib

Oleh : Mas Toto

Pembacaan atas Indonesia. Refleksi atas pengerusakan kuburan yang bertanda salib. Setidaknya ada tiga isu utama yang membentuk karakter manusia nusantara, yang sekarang jadi Indonesia. Pertama, secara geografis Nusantara itu terlerak di titik persimpangan strategis, dua benua dan dua samudera. Posisi ini menjadikan Nusantara sebagai tempat lalu lintas kapal dagang dan orang sekaligus persinggahan para pedagang dan pelaut antar bangsa di dunia dengan berbagai latar belakangnya. D

ari sisi ini pula mengantarkan nusantara menjadi tungku tempat meramu terjadinya silang budaya yang kemudian menjadikan nusantara sebagai bangsa paling majemuk di dunia. Kedua, secara geologi, bumi Nusantara berada di atas cincin api (ring of fire). Dari posisi ini menyebabkan Nusantara sebagai bangsa yang telah kenyang dengan aneka bencana. 3 dari 4 gunung berapi yang letusannya paling dahsyat itu ada di Nusantara. Gunung Toba, Gunung Tambora dan Karakatau. Semburan abu vulkanik telah menjadikan bumi nusantara menjadi negara agraris tersubur di muka bumi. Dan dari kesuburan itu pula bumi nusantara mampu menumbuhkan aneka ragam hayati.

Namun pada saat yang sama, ketidak mampuan memahami aneka bencana yang silih berganti, telah mendorong bangsa Nusantara melihat dan mengharap kehadiran Sang Adi Kodrati yang diharapkan bisa melindungi bangsa Nusantara dari aneka bencana dan nestapa yang silih berganti. Sang Adi Kodrati inilah yang dalam transformasinya disebut Sang Hiyang Dumani atau Sangkan Paraning Dumani. Atau terkadang disebut Hyang Murbeng Dumadi. Dalam agama Arab disebut Inalillahi waina ilaihi rajiun (sesungguhnya berasal dari Tuhan/Ilah dan kembali ke Tuhan).

Illah itu dalam bahasa Arab dikonstruksi secara baku menjadi Allah sebagai zat untuk menyebut Tuhannya atau yang dalam tradisi Ibrani disebut Ellohim, YHWH. Dari sanalah dapat diketahui bahwa sebelum “negara api” datang, bangsa Nusantara memang sudah religius. Jadi sikap yang keliru jika negara api menganggap merekalah yang mereligikan bangsa Nusantara. Dari dua fenomena di atas, dengan jelas bangsa Nusantara itu sejak semula sudah memiliki etos pertanian yang religius.

Dari sanalah munzul term dewi sri, dewi padi dan term religi yang lahir dari iklim pertanian nusantara yang subur sebagai manifestasi surgawi. Pun hal ini lahir dari keanekaragaman religi. Tiba-tiba negara api datang dari Padang gersang nan tandus membawa sistem religi yang hendak memberangus keragaman tidak hanya religinya terapi semua kreasi budayanya. Mana ngerti cucu-cucu Basalamah tentang filosofi Dewi Sri dan Dewi Padi dan bumi pertiwi. Kosmologi orang Nusantara itu menyatakan bumi itu ibu yang melahirkan dan menumbuhkan aneka tumbuhan dan langit yang mengairi.

Pasangan bumi dan langit itu disimbolkan dalam bentuk gula kelapa yang bermetamorfosis menjadi Merah Putih. Negara api jelas tidak mengenal bumi pertiwi, sebab tanahnya gersang hujanpun jarang-jarang. Negara api datang dari tanah yang tandus dengan imaginasi surgawi yang berisi sungai-sungai susu dan madu yang dikelilingi bidadari. Mereka baru berimaginasi soal sorgawi, sementara di bumi Nusantara inilah realitas surgawi itu dapat dinikmati. Karena sebagian anak bangsa ini tidak mampu memahami bangsa sendiri, akhirnya terseret dengan pengasong imaginasi sorgawi negara api, untuk kemudian ikut-ikut mengutuk dan merusak keanekaragaman budaya dan sistem religinya.

Sumber : Status Facebook Mas Toto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed