Perayaan Natal Juga Ada Polemiknya

Ada satu kebiasaan lagi (tidak ada nasabahnya dengan Natal) yang masih dilestarikan. Pernahkah anda mendengar pendeta berucap “ats” untuk kata Indonesia yang berakhiran huruf “at” seperti “buat”, “amat”, “sangat”, “bulat”, “bertobat”, dlsb. diucapkan dengan “buats”, “amats”, “sangats”, “bulats”, “bertobats”?

Kebiasaan ini meniru gaya berucap pendeta-pendeta Belanda di Indonesia. Pendeta junior meniru Pendeta Belanda. Pendeta junior itu menjadi senior kemudian ditiru oleh pendeta junior Indonesia terus-menerus berulang sampai sekarang masih banyak dijumpai. Ini adalah satu lagi bukti mental inferior, kalau tidak mau disebut mental budak.

Di sini saya tidak sedang mengatakan peraya Natal di masa Adven adalah fundamentalis. Yang mau saya katakan ialah jawaban rasionalistik itu mirip ciri paham fundamentalisme.

Kembali ke alasan rasionalistik yang mengatakan bahwa di Alkitab tidak dikatakan Yesus lahir pada 25 Desember, mengapa mereka merayakan pada masa Adven? Mengapa tidak pada 1 April atau 30 September misalnya?

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *