by

Pengertian dan Definisi Ustadz

PENGERTIAN DAN PEMAKAIAN NAMA USTADZ DI INDONESIA

Sedang di Indonesia, seperti disebut di muka, kata ustadz merujuk pada banyak istilah yang terkait dengan orang yang memiliki kemampuan ilmu agama dan bersikap serta berpakaian layaknya orang alim. Baik kemampuan riil yang dimilikinya sedikit atau banyak.

Orang yang disebut ustadz antara lain: da’i, mubaligh, penceramah, guru ngaji Quran, guru madrasah diniyah, guru ngaji kitab di pesantren, pengasuh/pimpinan pesantren (biasanya pesantren modern).

PENGERTIAN USTAD DI INDIA, PAKISTAN DAN BANGLADESH

Kata ustad (tanpa huruf ‘z’ juga cukup populer dipakai di India, Pakistan dan Bangladesh (dulu ketiga negara ini bernama Hindustan). Namun dengan konotasi makna yang berbeda.

Di ketiga negara tersebut, ustad lebih dikenal sebagai master or maestro yaitu orang yang memiliki keahlian khusus tertentu terutama di bidang seni. Baik seni sastra atau musik. Dan umumnya beragama Islam sedang yang Hindu biasanya disebut Pandit (pundit). Tidak semua pemusik dapat kehormatan mendapat julukan ustad. Beberapa seniman yang mendapat julukan ustad di India dan Pakistan antara lain:

Ustad Salamat Ali Khan, Ustad Nusrat Fateh Ali Khan, Ustad Talib Hussain Pakhawaji, Ustad Muhammad Hussain Alvi, Ustad Tafo Khan, dll.

ASAL MULA KATA USTADZ

Dr. Ali Jasim Salman dalam kitab Mausuah al-Akhta’ al-Lughawiyah as-Syai’ah (موسوعة الأخطاء اللغوية الشائعة) menguraikan sebagai berikut: kata ustadz (Arab, أستاذ) berasal dari bahasa Persia klasik yang dalam bahasa Persia (Iran) ditulis istad (Persia, إستاد). Dari segi arti ia mendekati kata khwaja (خواجة) sebuah kata bahasa Parsi yang bermakna pengajar, tuan, atau orang tua.

Menurut suatu pendapat, asal penyebutan “ustadz” berasal dari kisah sejarah di mana kalangan elit suatu komunitas tertentu mendidik anak-anak mereka secara private dengan mendatangkan para pengajar ke istana mereka. Ketika mereka kuatir akan istri-istri mereka takut berselingkuh dengan para guru private ini, maka mereka mengebiri guru privat tersebut supaya hati mereka tenang saat para guru itu memasuki rumah mereka. Orang yang dikebiri dalam bahasa kaum tersebut adalah ‘ustadz’. Seiring berjalannya waktu, maka setiap guru diberi julukan sebagai orang yang dikebiri. Saat praktik itu tidak terjadi lagi saat ini, maka julukan ‘ustadz’ lah yang dipakai saat ini.

Namun Al-Khaffaji dalam Shifa al-Ghalil fima fi Kalam al-Arab min ad-Adakhil tidak sependapat dengan asumsi di atas. Ia menyatakan: Kata ustadz dengan makna “orang yang dikebiri” tidak ada dalam kosa kata para ahli bahasa maupun kalangan awam di era Jahili (pra Islam). Karena ustadz mengajar anak kecil dengan gaji tinggi.

Kata ustadz tidak terdapat dalam syair Jahili atau era pra Islam dan bukanlah bahasa Arab. Ia berasal dari bahasa Persia. Semua huruf dalam ustadz adalah bentuk asal. Seandainya ia berasal dari bahasa Arab, niscaya huruf asalnya adalah astadza ( أستـَذ) ikut wazan fu’lal ( فُعلال ) bukan dari satadza ( سَتـَذ َ). Apabila tidak, niscaya ia ikut wazan af’al (أفعالا). Ini tidak ada dalam bahasa Arab. Penduduk Irak memakainya karena hubungan mereka dengan bangsa Parsi (Iran). Lalu mereka pindah ke Teluk dan Suriah lalu ke belahan negara Arab yang lain. 
Istilah ustadz lalu dimaknai secara umum sebagai profesi tenaga ahli seperti ahli hukum, pengacara di pengadilan di mana profesi ini setingkat dengan level pengajar di perguruan tinggi.

Kata ustadz tidak ada bentuk muannats (bentuk perempuan) karena ia bukan sifat. Jadi, yang benar adalah kata ustadz dipakai untuk laki-laki dan perempuan

Muhammad Al-Murtadha Az-Zabidi dalam kitab Tajul Arus min Jawahiril Qamus menyatakan: Guru kami menjelaskan tentang kata ustadz. Kata ini berasal dari kata yang populer yang harus dijelaskan walaupun ia bukan berasal dari bahasa Arab. Huruf hamzah yang menjadi asal telah membuat penulis buku As-Syihab Al-Fayyumi memasukkannya dalam daftar huruf hamza. Ia mengatakan, ustadz adalah kata non-Arab (ajami); maknanya adalah orang yang ahli di bidang tertentu.

Menurut Al-Hafidz Abul Khattab bin Dihya dalam kitab Al-Muttarib fi Ash’ari Ahlil Maghrib demikian: Ustadz bukan kata bahasa Arab dan tidak terdapat di syair Jahiliyah. Masyarakat awam memakai kata ini apabila mereka mengagungkan orang yang disuka mereka menyebutnya dengan ustadz seperti orang yang ahli dengan pekerjaannya. Karena ketika dia mendidik anak-anak maka seakan-akan dia seorang ustadz karena kebaikan perilakunya. Segolongan ahli di Baghdad mengisahkan hal ini pada saya salah satunya adalah Abul Faraj bin Al-Jauzi. Dia berkata: Saya mendengar dari guru bahasaku Abu Manshur Al-Jawaliq dalam kitabnya Al-Mu’arrob.
______________________________
Jadi,
SAYA
BUKAN USTADZ
BUKAN GUS
BUKAN KYAI
BUKAN LORA
BUKAN ORANG YANG ALIM
BUKAN ORANG YANG FAQIH
Tapi,
Saya ini hanya seorang
TKI MALAYSIA
Yang Bekerja Sebagai
KULI BANGUNAN YANG CINTA نهضۃ العلماء ( N U ) dan CINTA NKRI serta PANCASILA

Sumber : Status Facebook Arief Panji Laras

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed