by

Kritik adalah Hinaan

Oleh : David Tobing

Nietzsche adalah teladan paripurna dalam soal kritik yang berwujud hinaan, olok-olok, satir, komedi, dan celaan. Kritik yang utamakan kesantunan, analisis rasional dan filosofis, dan objektif adalah kritik pada masa Romantik. Karena itu, model kritik yang terlalu bersih seperti itu, yang mengabaikan dimensi afeksi dalam diri pengkritik, yang menumbuhkan mood tertentu dalam diri pengkritik, yang meredam aspek ekspresivitas dari diri si pengkritik, mesti dikritik. Atau dalam kata lain, kritik yang rasional itu sejatinya bermula dari hinaan: bukankah kita terlebih dahulu emosi dengan kondisi sosial politik, lalu menggunakan daya rasional untuk menerjemahkan emosi itu dalam bentuk santun, rasional dan objektif?

Dengan demikian, dalam hinaan, olok-olok, satir, komedia, dan celaan sejatinya tersimpan satu hal fundamental yang dicari oleh Pilatus, yaitu Kebenaran. Lantas, dalam konteks Indonesia, mengapa hinaan, olok-olok, satir, komedi, dan celaan mesti menjadi hal yang terlarang secara legal? Karena negara masih beroperasi dalam kerangka absolut, mutlak. Artinya, negara bertugas (i) menetapkan hal yang suci (dan sialnya, hal suci yang ditetapkan dan dilegalkan itu adalah lembaga kekuasaan tidak boleh dihina–mengapa tidak hal yang lain, misalnya: pejabat negara tidak boleh hidup mewah) dan (ii) mengkonservasi hal suci itu dalam bentuk memberi perlindungan hukum terhadap hal-hal yang menodai kesucian itu di muka publik–dan semakin sial, ketika teknologi media sosial mengaburkan batas antara ruang privat dan ruang publik, namun dunia sudah kadung mengenalnya sebagai ruang publik (hlh!).

Dengan demikian, Indonesia saat ini adalah negara modern dengan kerangka berpikir Abad Pertengahan–kemodernannya karena terlahir dari konsep bangsa [yang multikultural] dan aspek Abad Pertengahan muncul karena masih beroperasi dengan menggunakan gagasan kesucian–yang dalam kosa kata Sutan Sjahrir, inilah yang dinamakan sikap feodal.

Oh ya, kritik sebagai hinaan sebagaimana yang dipromosikan oleh Nietzsche juga berakar pada penolakan terhadap yang suci. Alasannya cukup sederhana: di balik segala hal yang suci seringkali tersimpan kebusukan atau malah sama sekali tidak ada isinya. Tentu saja kita dapat menyatakan Nietzsche keliru: Tidak semua hal yang dianggap suci itu blangsak, Su! K

alau sudah begini, Wittgenstein adalah sahabat yang baik–baginya, tempat terindah untuk bicara kesucian adalah keheningan. Lantas, bagaimana dengan negara? Teman saya yang lain bicara begini: Pada masa pra-kemerdekaan, negara adalah jawaban–pada masa setelah kemerdekaan, negara adalah sumber masalah; kalau sudah begitu, maka hinaan adalah salah satu jalan sah untuk menyelesaikannya. Dan sejarah memperlihatkan hal itu.

Sumber : Status Facebook David Tobing

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed