by

Tak Ada Pemerintah, LBP Pun Jadi

Oleh : Haryo Setyo Wibowo

Anggap tulisan pendek ini ajakan untuk menalar pemberitaan belaka. Bisa juga untuk mereka ulang cara berpikir kita, sampai sejauh mana kita mampu menalar peristiwa demi peristiwa. Bukan dengan cara pandang yang lebih banyak dituntun oleh sikap “kita mengidolakan siapa, kita membenci siapa”

Saya kutipkan satu bagian dari tulisan kemarin, sebelum melanjutkan “proyek 2 hari memuja LBP”

“Ada kekeliruan mendasar kalau kita mengatakan LBP itu the real president! Kalo Menkosaurus? Jelas banyak benarnya. Tetapi ada banyak alasan mengapa itu bisa terjadi. Serius, memang hanya dia, di kabinet ini, yang mempunyai kepemimpinan kuat, mau bekerja keras, bisa diandalkan di saat genting, mau menerima muntahan, dan tentu saja loyal”

Di awal pandemi, LBP satu dari sedikit saja menteri yang tidak cengengesan saat membicarakan wabah. Tetapi kata investasi yang melekat di jabatannya kerap membuat orang menaruh prasangka bahwa LBP lebih dipandang memfavoritkan “save economy” dibandingkan “save lives”. Faktanya bagaimana? Banyak yang tidak ngeh, walau diberitakan media dari akhir Maret hingga awal April 2020, Luhut tidak pernah menutup mata pada pandangan ahli, juga ancaman wabah yang bakal menerjang negeri ini. Kalau koleganya sesama menteri sibuk meremehkan ancaman tersebut dengan guyonan nir logika, ia justru mengusulkan karantina wilayah (lockdown) dan larangan mudik. Itu satu bukti bahwa pada dasarnya, dia menganut cara pandangan: “to save economy, save lives first”.

Ekonomi bisa tumbuh; entah pelan, entah meroket, hanya dapat diwujudkan kalo SDM-nya tidak terancam kesehatannya. Persangkaan orang bahwa LBP lebih mementingkan ekonomi sejak dari parkiran, eh pikiran, pun sudah gugur dengan sendirinya. Hasilnya? Usulannya dibantai oleh para koleganya di kabinet. Para menko, menteri lainnya, lebih memilih untuk mengutamakan ekonomi di atas keselamatan warga negara. Dan presiden mengambil keputusan tidak akan ada yang namanya karantina wilayah atau lockdown.

Dengan dalih corona hanya khayalan atau congornya media yang dilebih-lebihkan, pemerintah mengambil jalan memutar dengan menerapkan PSBB. Karantina wilayah ‘kaleng-kaleng’ yang tidak mensyaratkan negara membiayai warganya. Luhut tetaplah LBP, dan LBP tetaplah Luhut. Tau usulannya gagal, dia tetap loyal dan pasang badan dengan sering mengatakan bahwa corona tak akan kuat dengan cuaca endonesa, ekonomi rakyat jangan sampai terganggu. Satu hal yang sejatinya sangat kontras dengan keyakinanannya saat melayangkan usulan untuk karantina wilayah. “Presiden tuh selalu berpikiran begini, orang susah itu jangan ditambahin susahnya lagi… ”Dalam kesempatan sebagai pelaksana tugas menteri “sego kucing”, BKS, yang tengah menjalani perawatan, LBP sejak Maret 2020 telah mengeluarkan keputusan larangan mudik. Nyatanya?

Bossnya gamang dan maju mundur. Presiden malah terkesan mengajak berpolemik dengan istilah pulang kampung vs mudik. Dan hasilnya kita tau, banyak orang akhirnya mudik. Kasus penularan terkerek naik paska lebaran. Kekeliruan selanjutnya, pandangan sebagian orang bahwa presiden disetir LBP. Sangat tidak! Justru presiden punya sikap tersendiri, yang entah-nurut-siapa. LBP, begitu idenya digagalkan tetap menjadi pengawal sekaligus pelindung utamanya. Bukan trus kecewa, leyeh-leyeh nonton sinetron. Soal siap menjadi muntahan, tidak hanya saat menjadi “pemain pengganti” saat mengurusi kemenhub di 2020 saja.

Puncaknya saat ini saat harus mengurusi karantina wilayah “kaleng-kaleng” selanjutnya, PPKM darurat. Kali ini dia menjadi pemain pengganti atas kegagalan KPC PEN! Cari sendiri kepanjangannya ya. Sebenarnya saat dia mengatakan penanganan wabah terkendali, itu jelas multi intepretasi. Persepsi dia, dapat lebih mengendalikan dibanding “tim ekonomi” yang tidak mewariskan hal-hal yang seharusnya berguna di masa gelombang kedua (atau ketiga?). Tentu sangat berbeda dengan sebagian masyarakat medis, pasien, dan media yang mengalami dan menyaksikan langsung jebolnya fungsi pemerintah dalam mengendalikan lonjakan pasien.

Ada kelangkaan oksigen yang berujung fatal di rumah sakit, ada lonjakan jumlah pasien yang tak tertangani! Dia kemudian mengurai masalah tersebut dan mengejar kelangkaan yang ada dengan meminta bantuan asing dan memindahkan penggunaan O2 industri untuk kesehatan dulu. Bagaimana soal ekonomi masyarakat? Pemahaman dia hanya soal penyekatan dan pembatasan ruang gerak masyarakat saja. Dari sisi tugasnya, itu terkendali! Sulit untuk mengakui ini? Problem dasarnya, kalau kita mau jujur, memang bukan kemampuan untuk membuat orang bertahan di rumah saja. Lebih ke soal ketidakmampuan negara dalam mengongkosi masyarakat yang tidak bisa berWFH. Kalau tidak percaya tanya Raja Yogya. Dalam satu kesempatan khusus, saat menyoal lockdown, Sang Raja mengatakan, “Saya tidak kuwat ngragati rakyat”. Ya memang tidak akan kuat kalau tidak dipaksakan.

Hilangnya pendapatan masyarakat tidak bisa diselesaikan dengan menyuruh mereka untuk “sabar, ini hanya sementara”. Tidak juga dengan bansos. Ada hak-hak yang harus dipenuhi jika pemerintah menerapkan sesuai UU.

***Tidak, saya tidak mengajak orang memahami pemerintah secara khusus. Tanpa harus memahami, masyarakat sudah gencar saling bantu. Entah secara langsung bergiat di tengah masyarakat terdampak, entah melalui ‘kenclengan’, urunan secara daring. Tidak ada yang diam dengan adanya wabah ini, terlepas corongnya condong ke pemerintah atau oposisi. Tetapi siapa yang memahami LBP kalau bukan kita? Dia jauh bekerja lebih keras dibanding yang lain di kabinet JKW. Dia siap menyalak ke banyak kementerian yang dianggap memperlambat, memperkeruh program yang telah dieksekusi pemerintahan JKW. Dia siap menerima muntahan keluh dan kesah kita…

Ya Allah. Di titik ini, tidakkah kita berpikir bahwa LBP; yang visioner, thas thes, tidak suka rapat bertele-tele, demokratis, (mau nunggu waktu seharian dari you know who untuk minta maaf atas bukan kesalahannya 🙈), tidak kasak kusuk ngomongin pilpres, mau mengevaluasi dirinya sendiri, bisa diandalkan di saat genting, sebenarnya lebih cocok untuk ikut pilpres dibanding PS, GP, PM, AB, AD, BH, DK? OTW komisaris PT Antam! Aneka Tanaman 😭😭 Mat Dogol Bajer baru berkembang

Sumber : Status Facebook Haryo Setyo Wibowo

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed