by

Jilbab Bukan Kewajiban Tapi Pilihan

Oleh : Asrof Husin

Jika ada orang atau seorang ulama yang mengkritisi jilbab dengan keilmuaan tinggi, bukan anti jilbab tetapi memberi pencerahan dan mengkritisi lalu berkata bahwa jilbab bukan kewajiban tetapi pilihan, maka orang atau ulama ini akan dihujat habis2an, akan dicaci maki, akan disumpah seranah, lalu dibilang : Liberal, sesat, murtad, penista agama dan kafir.

Kenapa perbedaan pendapat tidak bisa disikapi dengan kedewasaan berfikir ?

Kenapa perbedaan pendapat tidak bisa disikapi dengan saling menghargai dan saling menghormati ?

Dan teryata tidak bisa, tidak pernah bisa.

Kenapa tidak pernah berhenti akan pemaksaan pendapat dan pemaksaan kehendak ?

Kenapa tidak kita serahkan pilihan itu kepada perempuan sendiri dan kita hormati : ” Yang mau pakai jilbab silahkan dan yang tidak mau pakai jilbab juga silahkan “, dan tidak perlu diancam2 dengan dosa dan neraka.

Yang beragumen jilbab wajib dan jilbab tidak wajib sama2 dengan dalil Al Qur’an dan hadis, beda penafsiran, beda paham. Dan faktanya sepanjang sejarah :

– Kaum tekstual VS kaum kontekstual.

– Kaum konservatif VS kaum rasional.

– Kaum yg tidak boleh menggunakan akal dalam memahami agama VS kaum akal sehat.

– Tidak peduli, buta dan menolak sejarah.

– Beda paham tidak bisa saling menghargai, tidak bisa saling menghormati.

Maju mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh pendidikan yang baik dan benar, pendidikan yang sangat bermutu oleh guru2 yang bermutu, tetapi ada ( tidak digeneralisasi ) sekolah negeri yang mungkin tidak mementingkan mutu pendidikan tetapi yg dipentingkannya adalah para siswi harus wajib pakai jilbab dan siswi yg menolak akan dibuly dan diintimidasi ( tidak digeneralisasi ), dan ini bisa sangat berbahaya karena jika jiwanya tidak bisa menerima karena dipaksa untuk sekolah wajib berjilbab maka anak ini bisa depresi. Jika ditanya sekolah ini akan ngeles dan berkata : Kami tidak mewajiban tetapi hanya memberi saran secara lisan untuk pakai jilbab. Apa bedanyanya perkataan tsb, sama saja, murid2 menjadi takut lalu terpaksa dan terjadilah pemaksaan. Kenapa tidak diberi saja kebebasan, diberi saja pilihan, yang mau pakai jilbab silahkan dan yang tidak mau pakai jilbab juga silahkan, tanpa ada buly dan intimidasi.

Mutu pendidikan dinegara kita Indonesia ini jauh tertinggal.

– Di Asia Tenggara aja peringkat pendidikan Indonesia nomor 4, kalah sama Singapore, Malaysia dan Thailand.

– Survei negara tercerdas didunia 2022, penelitian terhadap 203 negara didunia untuk mengukur tingkat kecerdasan penduduk dimasing2 negara dan Indonesia menduduki peringkat 132.

– 20 negara dengan sistem pendidikan terbaik didunia dan Indonesia tidak termasuk.

– Survei 61 negara yg masyarakatnya paling malas membaca dan Indonesia diperingkat 60.

– Uji kompetensi guru di Indonesia masih berada ditingkat yang sangat rendah, jika dilihat dari Uji Kompetensi Guru ( UKG ) nilai yang diperoleh rata2 masih dibawah 5.

Pertanyaannya : Kenapa guru tidak memperbaiki kualitas dan mutu mendidik ?

Kenapa justru yg diprioritaskan adalah jilbab dan akhirnya terjadilah pemaksaan ?

Jika ada murid/siswa/siswi yang kritis lalu bertanya kepada gurunya :

– Adakah ayat Al Qur’an yg menyatakan bahwa rambut perempuan itu aurat ?

Jika tidak ada, kenapa perkataan itu ada ?

– Adakah perkataan wajib ? Apakah semua perintah Allah dalam Al Qur’an itu semuanya wajib ?

– Bukankah Asbabun nuzul ayat itu tentang perbedaan kasta antara budak dan wanita merdeka ?

– Bukankah Allah itu Maha Adil dan Maha Bijaksana ? Maha Pengasih dan Penyayang ? Lalu benarkah jika rambut kepala tidak ditutupi akan masuk neraka ?

Apakah yg akan dijawab gurunya ? Secara jujur atau akan marah ?.

Jangan pernah terjadi pemaksaan paham dan pemaksaan kehendak, karena akan menimbulkan kebencian dan bisa menimbulkan benci kepada agamanya sendiri.

Yang terbaik itu beri kebebasan kepada perempuan/siswi menentukan pilihannya sendiri :

– Yang berpaham : Jilbab bukan kewajiban tetapi pilihan, kita hargai dan hormati.

– Yang berpaham : Jilbab itu bukan pilihan tetapi kewajiban, kita hargai dan hormati.

Tetapi jangan sampai terjadi pemaksaan paham dan pemaksaan kehendak dari gurunya, ustadnya atau siapapun.

Bisakah ? Faktanya dari dulu sampai sekarang tidak pernah bisa.

Bisa jadi semua itu sudah berlebih2an dan Allah tidak suka hal2 yang berlebihan.

( KH.Quraish Shihab ).

Rahayu

Sumber : Status Facebook Asrof Husin

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed