by

Pencinta dan Pembenci

Oleh : Zainal Abidin Sidik

Merebaknya sosial media yang nyaris tanpa sensor, adalah antitesis dari masa pemberangusan pers di masa Orde Baru. Agaknya, pers yang bebas dan bertanggung-jawab, – slogan yang didengung-dengungkan di masa kepemimpinan Presiden Soeharto itu, sampai kini pun masih menjadi jargon. Rasio penegakan hukum atas hal itu, relatif minim dan cenderung tebas-pilih.

Dulu, nggak setiap orang bisa menulis sebebas sekarang. Koran dan majalah punya mekanisme sensor yang berlapis. Hanya tulisan-tulisan dengan kategori tertentu (sesuai pasal karet yang dibuat rezim saat itu) yang bisa dimuat di media. Media indie, belum banyak. Penerbit buku yang rada berani, menerbitkan sejumlah buku-buku ‘kiri’ (sebut saja yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer), menjualnya di lapak-lapak di kawasan Senen. Jualnya juga dengan cara berbisik-bisik. Membacanya juga harus hati-hati agar tidak kena ‘gep’. Biasanya juga, Kejaksaan Agung segera bertindak, dengan melarang buku-buku itu. Kriterianya bisa jadi subyektif, karena didasarkan pada preferensi nama dan ideologi penulis buku, bukan isinya.

Kini, semua orang bisa menulis. Bebas. Bukan itu saja. Semua orang juga bisa menyebarkan segala macam tulisan, multiplatform. Karena itu, – soal menulis, saya membuat kuadran tipologi penulis zaman sekarang. Kuadran itu merupakan persilangan antara mutu data (valid – invalid, atau berimbang – bias) dengan motivasi (positif – negatif).

Secara selintas saya mengujinya untuk beberapa isu, dengan memasukkan sejumlah berita online ke dalam kuadran itu. Sialnya, saya menemukan bahwa majoritas berita itu ada di kuadran (1) invalid-negatif, disusul (2) invalid-positif, lalu (3) valid negatif, baru yang terakhir (4) valid-positif. Artinya: ini perang buzzer, dan mereka tak peduli reliabilitas data. Pengobaran emosi, negatif maupun positif itu yang jadi panduan. Bukan rasio.

Kalau berita yang masuk kategori valid-positif sangat sedikit (dalam beberapa isu, media online agaknya hanya punya 2 dari 100 berita di 10 halaman pertama Google Search yang begitu). Artinya, kita sedang digiring jadi masyarakat yang bodoh dan pesimistik. Lantaran semua orang (merasa) boleh menulis semaunya, apalagi di media sosial, maka sebagian besar tulisan, isinya adalah pembodohan.

Dua sabda Nabi Muhammad SAW sungguh benar: ‘Hanya bicara yang baik atau diam’ dan ‘Katakan yang benar walaupun pahit’, seharusnya menjadi kalimat yang sungguh-sungguh menjadi obat bagi kondisi sekarang, yang negatif dan cerewet luar biasa.

Saat ini kita seolah ditarik-tarik untuk menjadi hamba di dua kutub: pencinta dan pembenci, tanpa ada alternatif jalan tengah. Menurut saya kedua-duanya tidak berimbang. Soal data keduanya buruk. Data hanya dipakai sebagai pemuas ideologi. Soal analisis, keduanya sama payahnya. Sama parahnya.

Hasilnya? Menurut saya, dua kutub itu, dukungan membabi-buta pada apapun keputusan Pemerintah atau kritik tak berdasar atas itu, sama-sama bisa menjerumuskan Indonesia menjadi seperti Yugoslavia dalam bentuk yang lain.

Buat saya, – setiap kutub saling menyebut buzzeRp kepada pihak di seberangnya, adalah sampah zaman. Kita sedang terus-menerus dibelah menjadi pencinta dan pembenci. Dan keduanya terus memberi makan bagi pikiran masyarakat Indonesia, dengan data dan analisis yang bermutu rendah. Mau jadi apa kita sebentar lagi?

Sumber : Status Facebook Zainal Abidin Sidik

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed